Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?
Kamis, 07 September 2017
Today's mood
Sabtu, 26 Agustus 2017
Teman
Jadilah berlanjut untuk randomly search blog apa aja. Nemulah ke sebuah blog yang penulisnya (dan terlihat dari tulisannya) adalah seorang yang kalem, pemikir tapi cerewet dalam ide. Semakin kebawah-bawah, sepertinya dia menulis di blog itu hanya untuk menumpahkan isi pikirannya yang terlalu cerewet tapi bukan kepribadiannya berkata-kata banyak lewat suara. Melainkan lewat aksara saja.
Sebenarnya, sama seperti tulisan-tulisan di blog ini. Sebuah tempat rahasia yang terbuka. Hanya yang peduli dan yg penasaran yang tahu tempat ini.
Hampir semua orang (nyaris 90%) tidak percaya sebenarnya saya ini orang yang tertutup dan pemalu. Ya. Saya.
Dalam bergaul, saya cukup talkative dan sering melempar jokes ngasal untuk mencairkan suasana.
Semakin kedalam, saya memilih teman-teman dekat untuk saya ajak bicara masalah agak serius. Seperti masa depan, pendidikan, atau gosip orang-orang sekitar. Orang-orang ini ada di lapis kedua terluar dari lingkaran kepercayaan saya.
Masuk ke dalam lagi, dari lapis kedua tadi, ada beberapa yang masuk seleksi teman baik yang saya jadikan tempat berbagi banyak hal. Terutama tentang pasangan. Teman-teman inilah yang kalau sudah bertemu dan ngobrol lama-lama tapi masih kuat telpon lebih dari sejam setelah pertemuan. Intensitas bertemu dengan mereka lebih jarang tapi lebih lama karena biasanya begitu saya ada masalah, saya langsung menghubungi mereka meskipun tanpa harus bertemu.
Lapis yang lebih dalam, saya memilih orang-orang terbatas. Orang-orang tempat saya bercerita sebagianbesar masalah hidup saya. Hampir semua. Termasuk terbuka masalah keluarga atau hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada orang lain. Saya menyebut mereka One call away comrades. Mereka-mereka ini levelnya sudah setara keluarga untuk saya. Pertemuan kadang intens kadang mendadak. Tergantung seberapa butuh dan rindunya kepada mereka. Kapanpun mereka minta saya mendengarkan cerita mereka, saya pasti pasang panca indera untuk tau cerita mereka. Mereka benar-benar orang-orang terbaik. Mereka ikhlas. Tidak menghakimi dan berpikiran terbuka. Kadang ada yang ekstrim dan frontal sih. Tapi logika dan perasaan sama-sama ditimbang. Mereka istimewa. Saya tidak suka menceritakan masalah keluarga kepada siapapun. Sama sekali tidak suka. Termasuk kepada mereka. Namun ada hal-hal di mana saya tidak tahan diam maka saya akan datang pada mereka.
Lapis terakhir, kepercayaan saya untuk tahu seberapa saya suka, benci, dendam dan cinta. Yang tahu saya tersenyum ikhlas dan perilaku saya sedang tidak berdrama atau sekedar mencoba menghindari masalah, cuma satu. Yang saya percaya tanpa ragu tiada khianat. Meskipun saya seringkali berkhianat dan pada akhirnya saya kembali mengemis-ngemis agar saya tidak dibenci atau dilupakan. Satu-satunya tempat lari dan bersedih. Seberapa dalam luka atau seberapa sayangnya hati saya terhadap sesuatu/seseorang, hanya Dia. Iya. Dia. Tuhan.
Tri
Jumat, 25 Agustus 2017
Apa itu bahagia?
Saya langsung bingung mendefinisikan bahagia itu apa. Saya tidak berani menjawab apa-apa.
Lalu saya mulai dapat mendekati definisi bahagia. Hmmm... hanya mendekati. Saya mendapat definisi ini dari teman kerja saya, Riska Mulyadi namanya. Yang kemudian arti bahagia tersebut saya kaitkan kepada pengalaman saya yang lalu-lalu.
Riska pernah bilang, "Gue sebenernya udah gak betah kerja di sini. Udah gak jelas blaablaablaa... *Sensor*"
Kemudian dia melanjutkan, "Tapi yang bikin gue bertahan adalah kalian. Di sini (Maksudnya tempat makan siang-Red) gue bisa cerita-cerita, ketawa-ketawa, terus ngadepin masalah sama kalian-kalian ini. Suasana ini yang belum bisa kebeli sama gaji gede yang ada di perusahaan lain."
Dari situ saya menyetujui perkataannya. Bahwa bahagia itu kenyamanan. Bukan tidak pernah kami saling menyakiti, tapi entah kenapa kami tetap nyaman berteman. Bisa dibilang kepercayaan itu mengambil bagian yang cukup besar dari kenyamanan yang pada akhirnya saya definisikan sebagai bahagia.
Bukan hanya sekedar tertawa atau bekerja bersama, tapi kenyamanan itu hasil dari kepercayaan yang diolah bersama dengan proses tawa-kecewa-sedih yang kemudian mendatangkan rasa "betah" untuk berlama-lama dan bertahan. Fondasi kebahagiaan menurut saya adalah kepercayaan. Mengapa? Apakah kamu mau menjalin hubungan (pertemanan, bisnis atau keluarga) tanpa didasari rasa percaya?
Bahkan, membuat akad (perjanjian) juga berlandaskan kepercayaan kan? Kamu percaya lawan main kamu itu akan menepati janjinya dalam kerjasama ini. Lalu kalau kamu sudah tidak percaya dia? Apa kamu masih mau menjalankan kerjasama dengannya? Kalau sudah terlanjur kerjasama, apa hati kamu akan tenang tanpa kepercayaan? Kalau hati kamu tidak tenang kan kamu tidak bahagia.
Jadi, apa sih bahagia itu sebenarnya?
Tri Niasih Ati
Senin, 19 Juni 2017
Hati yang baru
Tuhan beri kamu hati, lalu dihancurkan manusia lain. Dengan hati-hati, kamu susun pecahan-pecahan hati itu agar berbentuk kembali. Kemudian dihancurkan kembali oleh manusia (yang sama) hingga berkeping-keping. Serpihan ini sudah tidak bisa kamu satukan lagi butiran-butirannya.
Lalu Tuhan beri kamu hati yang baru lagi. Lalu manusia lain menghancurkannya lagi. Kamu mencoba merapikannya lagi. Hingga hati ini hancur lagi dan tidak dapat kamu rapikan kembali. Kamu marah dan bosan dengan siklus yang sama.
Lalu Tuhan membuatkan hati yang baru lagi untuk kamu. Kali ini kamu sadar, manusia lain tidak berhak kamu beri hati. Akhirnya kamu minta Tuhan mengambil hati kamu. Hingga kamu tidak punya hati lagi untuk sakit.
Biar Tuhan yg menggenggam hati kamu. Dia-lah yang berhak atas hati kamu.
Tak apa.
Senin, 22 Mei 2017
Bahagia itu dari kamu
Di antara kamu pasti pernah merasa terlalu baik untuk disakiti dan terlalu suci untuk dihinakan. Tapi semuanya itu sebenarnya tidak bisa dihindarkan. Bisa saja kamu sudah melakukan segala hal yang menurut kamu terbaik --mungkin saja orang lain tidak bisa melakukannya-- dan kamu berharap hasil yang didapat juga terbaik. Tapi jangankan hasil baik, seringkali kamu mendapatkan hasil yang terburuk bahkan lebih buruk dari orang yang tidak melakukan apa-apa. Di mana yang salah? Kenapa kita tetap berbuat baik kalau pada akhirnya sakit hati juga. Kadang saya menganggap kalau menjadi orang yang tidak punya hati itu merupakan salah satu perasaan yang sangat menyenangkan. Kamu tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, seperti yang orang lain lakukan kepada kamu.
Kamu pasti pernah sangat setia kepada pasangan kamu. Lalu kamu melakukan apa saja untuk menjaga dia. Tapi dengan mudahnya dia mengkhianati kamu seolah-olah kamu itu akan memaafkan dia dan kamu tidak punya hati untuk tersakiti. Orang-orang seperti itu sulit membedakan mana baik hati dan mana tidak punya hati. Siapapun pernah disakiti. Saya tidak bisa berbicara tentang hal positif di sini. Saya jujur. Saya tidak munafik. Ini menyakitkan dan rasanya benci itupun seakan tersangkut di tenggorokan yang bahkan membuat seakan udara saja sulit untuk lewat. Menangis sejadi-jadinya pun tidak akan mengubah keadaan. Tidak. Sakit itu tetap sakit.
Terlebih, bila orang lain mengatakan kalau sakit hati itu berlebihan dan menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Rasanya berlipat-lipat. Seharusnya mereka itu tidak berdebat dengan ukuran "Rasa". Jika "Rasa" punya ukuran pasti, maka tidak ada ragam rasa makanan atau minuman yang beredar di sekitar kita. Iya kan? Kamu pasti merasakan orang tersebut meremehkan rasa kecewa kamu, marah kamu, dan sakit hatinya kamu. Itu bikin kamu trauma untuk mengungkapkan kepada mereka seberapa tidak sukanya kamu. Pada akhirnya kamu hanya akan memendamnya dan membuat ini jd bom waktu yang pasti juga akan merugikan diri sendiri.
Ada beberapa orang bilang saya berbuat jahat pada Si X. Saya hanya mngernyitkan dahi. Beberapa orang yang kenal dekat dengan saya pasti tidak akan bilang itu. Mereka pasti tahu, sebelum saya berbuat jahat atau menyakiti orang lain, mereka harus bertanya kepada si objek yang tersakiti itu, pernah berbuat apa terhadap saya.
Saya masih berfikir, mana yang lebih mudah: menjadi orang yang tidak punya hati untuk marah atau orang yang tidak punya perasaan dan tidak peduli keadaan orang lain?
Saya tidak mau munafik, sekali lagi. Setelah banyak hal yang terjadi, saya selalu membuat langkah pencegahan agar tidak terjadi lagi. Di saat terjebak dengan kesalahan yang sama, rasa sakitnya jadi beda. Rasa sakitnya bukan karena perbuatannya. Lebih kepada rasa menyalahkan diri sendiri kenapa hal ini bisa terjadi lagi. Apa selama ini ujian dari Tuhan mengenai hal ini belum juga dapat saya lalui? Bisa dibilang hal ini terjadi lagi karena saya belum lulus ujian. Sejujurnya, saya menulis ini sambil menahan rasa dongkol di tenggorokan dan sedikit banyak mengeluarkan air mata.
Tapi ada hal yang saya pelajari. Kita bisa sakit hati karena hal yang sama. Kita bisa jatuh lagi dalam kesalahan yang sama. Tapi ada yang berbeda, yaitu cara penyelesaiannya. Kamu pasti memilih cara penyelesaian yang berbeda dibanding sakit hati yang sebelumnya. Semoga kamu, saya, dia, mereka dan terutama kita, bisa meminimalisir sakit hati. di mulai dari sebelum terjadinya, saat terjadinya dan setelah kejadiannya.
Saya tidak akan bilang, "Jangan sensitif. Biar gak gampang sakit hati." Itu tidak adil. Saya cuma mau bilang, "menangislah lebih keras. Terjatuhlah lebih dalam. Bersedihlah lebih pilu. Tapi berjanjilah untuk terbang lebih tinggi. Untuk lompat lebih jauh. Dan untuk berfikir lebih licik."
Bahagia itu dari kamu...
Senin, 27 Februari 2017
Jadi perempuan itu harus kuat
Hari ini saya datang lebih pagi. Seperti biasa rute transportasi saya menuju kantor itu adalah dengan berjalan kaki menuju Stasiun Pondok Cina kemudian menaiki kereta. Turun di Stasiun Tanjung Barat dan melanjutkannya dengan transportasi umum berbasis online. Saya menunggu beberapa saat sampai ada pengendara yang menelepon. Beberapa saat saya melihat layar ponsel, saya berfikir ulang untuk membatalkan pesanan dan mencari pengendara baru. Tidak berapa lama, ponsel saya berdering. Suara seorang wanita ada di seberang sana. Dia bilang, dialah pengendara yang akan mengantar saya ketempat tujuan saya. Setelah menutup telepon, saya menjadi penasaran. apakah saya salah lihat. Sebab yang tertera di layar ponsel saya itu adalah nama yang biasa digunakan untuk laki-laki. Terutama ada nama "Putra". Tapi kemudian saya berfikir positif. Mungkin memang orang tuanya memiliki maksud lain memberinya nama seperti itu.
Ketika tiba, pengendara itu meminta maaf dan berkata "Maaf ya, Mbak. yang ada di akun itu nama suami saya. Nanti mohon dikasih bintang 5 aja ya." saya sih tidak mengapa. Malah lebih nyaman dengan pengemudi wanita. Tidak seperti yang sering dicibir orang. Dia mengendarai motor dengan baik, benar dan tidak lambat. Semuanya pas. Dia sangat ramah. Namun tidak mencoba sok kenal-sok dekat dengan mengobrol pajang lebar. Semuanya serba pas.
Tapi bukan itu intinya. Bukankah sebenarnya tidak dilarang bilamana wanita melamar pekerjaan menjadi ojek online? Tapi mengapa dia memilih menggunakan/menggantikan suaminya? Saya tidak berani bertanya. Saya hanya menerka-nerka.
Jadi perempuan itu harus kuat. Saya tidak tahu kenapa dia menggantikan suaminya. Mungkin saja suaminya sedang bekerja di luar kota sehingga akun ojek online itu sayang untuk dibuat menganggur. Atau lebih buruk, suaminya sedang sakit atau mengalami sesuatu sehingga harus menggantikannya bekerja. aku jadi teringat pada teman-teman satu kamr kosku. Mereka wanita kuat. Mereka membiayai keluarga mereka di kampung halaman mereka. Bahkan ada yang sedang mengalami musibah, Ibundanya meninggal dunia.
Bagaimana kalau perempuan lemah? Siapa yang akan memeluk anak-anak mereka saat hujan dan rumah bocor. Sedangkan sang ayah sedang pergi ke atas menaiki atap untuk membenahi genteng. Atau saat suami yang pergi jauh karena tugas, pertaruhannya nyawa. Maka perempuan kuatlah yang mengantar anak-anak tidur, sekolah, memasak, mendidik, menggendong, merawat dan sebagainya. Bagaimana tidak perempuan harus kuat? Iya kalau selamanya suami diberikan kesehatan dan umur panjang. Yang lebih parah, iya kalau suami tetap bertanggungjawab dan tetap setia? Kalau tidak?
Bagaimana kamu bercita-cita menjadi perempuan lemah? Kamu harus kuat. Seorang saudara pernah berpesan, "Kesabaran perempuan itu harus lebih luas dari samudera." sampai detik barusan saya baru sadar akan maknanya.
Kamis, 16 Februari 2017
Kamu yang mana?
Hello kamu, iya kamu.
Aku tau. Ketika kamu baca tulisan di blog ini, kamu tidak tau sebenarnya aku juga memantau statistik pengunjung di blogku. Aku gak tau kamu mampir ke Blog ini untuk apa. Mungkin kamu juga tidak pernah sadar kalau di pojok kiri atas ada tulisan "Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?"
Nah, sekarang sadar gak? Yaaa... gak masalah sih. Gak papa. Nggak mengganggu juga keberadaannya. Cuma penasaran aja. Kamu masuk bagian yang mana?
Aku yah, kalo aku. Cuma dua tipe orang yang aku cari tau secara diam-diam:
- Pertama, pastinya orang yang aku suka. Yang satu ini tuh rasanya gimana ya... nyaman aja gitu. Melihat dan mengawasi dari jauh tanpa diketahui orang yang bersangkutan. Bebas. Aku bisa lihat dia tanpa dia merasa diperhatikan. Dia bisa bergerak bebas yang mana "keaslian" itu lah membuat aku bisa mengagumi dia. Jangan khawatir, kadang juga aku punya hobi menjadi penggemar rahasia seseorang.
- Kedua, tentu saja orang yang punya tendensi membuat aku marah. Misalnya, Mantannya si pacar. Aku suka mau tau apa sih yang dia lakukan sekarang? Apa sih kehebatan dia? Bagaimana sih kepribadian dia? Dia sedang mengalami apa? Ya sejenis itu.Intinya, kedua alasan tadi merupakan cabang dari pernyataan pojok kiri blog. Kepada orang yang aku suka, Pasti akan memeriksa cerita-cerita tentangnya sebagai kepedulian dan aku akan datang membantunya saat ia mengalami kesedihan atau keburukan. Itupun kalau aku punya keberanian untuk menemuinya. Dan untuk orang-orang yang tidak aku suka, aku mencari tau karena penasaran. Iya, penasaran. Menarik untuk diteliti, kadang ditertawakan dan dihina.
Lalu, kamu termasuk yang mana?
Aku tau. Ketika kamu baca tulisan di blog ini, kamu tidak tau sebenarnya aku juga memantau statistik pengunjung di blogku. Aku gak tau kamu mampir ke Blog ini untuk apa. Mungkin kamu juga tidak pernah sadar kalau di pojok kiri atas ada tulisan "Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?"
Nah, sekarang sadar gak? Yaaa... gak masalah sih. Gak papa. Nggak mengganggu juga keberadaannya. Cuma penasaran aja. Kamu masuk bagian yang mana?
Aku yah, kalo aku. Cuma dua tipe orang yang aku cari tau secara diam-diam:
- Pertama, pastinya orang yang aku suka. Yang satu ini tuh rasanya gimana ya... nyaman aja gitu. Melihat dan mengawasi dari jauh tanpa diketahui orang yang bersangkutan. Bebas. Aku bisa lihat dia tanpa dia merasa diperhatikan. Dia bisa bergerak bebas yang mana "keaslian" itu lah membuat aku bisa mengagumi dia. Jangan khawatir, kadang juga aku punya hobi menjadi penggemar rahasia seseorang.
- Kedua, tentu saja orang yang punya tendensi membuat aku marah. Misalnya, Mantannya si pacar. Aku suka mau tau apa sih yang dia lakukan sekarang? Apa sih kehebatan dia? Bagaimana sih kepribadian dia? Dia sedang mengalami apa? Ya sejenis itu.Intinya, kedua alasan tadi merupakan cabang dari pernyataan pojok kiri blog. Kepada orang yang aku suka, Pasti akan memeriksa cerita-cerita tentangnya sebagai kepedulian dan aku akan datang membantunya saat ia mengalami kesedihan atau keburukan. Itupun kalau aku punya keberanian untuk menemuinya. Dan untuk orang-orang yang tidak aku suka, aku mencari tau karena penasaran. Iya, penasaran. Menarik untuk diteliti, kadang ditertawakan dan dihina.
Lalu, kamu termasuk yang mana?