Hingga matahari tenggelam, kita masih bertanya, "mengapa kita bertemu?". Tautan jemari sesekali merasa gerah dan licin karena begitu erat mengikat. Tidak. Tidak. Aku tidak akan pergi. Longgarkanlah sejenak.
Tapi nyatanya, ketika kau mulai membuka jemari, aku malah enggan memberi ruang pada udara disela jari kita.
Aku masih melayangkan pertanyaan pada tempat ini, "Mengapa...?" tapi aku tidak dapat melanjutkannya. Karena aku terlalu banyak menyelipkan "mengapa?" dalam penyesalan. Aku lebih senang memandangmu yang siluetnya dibentuk sempurna oleh senja yang turun.
Tapi kau lebih sedih berpisah dengan mentari, yang bisa kau temui lagi esok pagi.
Aku masih bertanya, "mengapa?" dengan berbagai rangkaian ragam kata yang menyertainya. Tapi yang hanya mampu aku tuturkan hanya "mengapa?".
Dibelaian udara yang menyapu lembah ini, aku pamit dalam hati.
Berharap kau lebih baik menjaga diri.
Lebih kuat berdiri.
Terbiasa menyendiri.
Atau lebih dapat mandiri.
Aku pamit dalam hati.
Entah karna tak kuasa,
Atau kau terlalu asik oleh leluasa...