Senin, 27 Februari 2017

Jadi perempuan itu harus kuat

Jadi perempuan itu harus kuat.

Hari ini saya datang lebih pagi. Seperti biasa rute transportasi saya menuju kantor itu adalah dengan berjalan kaki menuju Stasiun Pondok Cina kemudian menaiki kereta. Turun di Stasiun Tanjung Barat dan melanjutkannya dengan transportasi umum berbasis online. Saya menunggu beberapa saat sampai ada pengendara yang menelepon. Beberapa saat saya melihat layar ponsel, saya berfikir ulang untuk membatalkan pesanan dan mencari pengendara baru. Tidak berapa lama, ponsel saya berdering. Suara seorang wanita ada di seberang sana. Dia bilang, dialah pengendara yang akan mengantar saya ketempat tujuan saya. Setelah menutup telepon, saya menjadi penasaran. apakah saya salah lihat. Sebab yang tertera di layar ponsel saya itu adalah nama yang biasa digunakan untuk laki-laki. Terutama ada nama "Putra". Tapi kemudian saya berfikir positif. Mungkin memang orang tuanya memiliki maksud lain memberinya nama seperti itu.


Ketika tiba, pengendara itu meminta maaf dan berkata "Maaf ya, Mbak. yang ada di akun itu nama suami saya. Nanti mohon dikasih bintang 5 aja ya." saya sih tidak mengapa. Malah lebih nyaman dengan pengemudi wanita. Tidak seperti yang sering dicibir orang. Dia mengendarai motor dengan baik, benar dan tidak lambat. Semuanya pas. Dia sangat ramah. Namun tidak mencoba sok kenal-sok dekat dengan mengobrol pajang lebar. Semuanya serba pas.


Tapi bukan itu intinya. Bukankah sebenarnya tidak dilarang bilamana wanita melamar pekerjaan menjadi ojek online? Tapi mengapa dia memilih menggunakan/menggantikan suaminya? Saya tidak berani bertanya. Saya hanya menerka-nerka.


Jadi perempuan itu harus kuat. Saya tidak tahu kenapa dia menggantikan suaminya. Mungkin saja suaminya sedang bekerja di luar kota sehingga akun ojek online itu sayang untuk dibuat menganggur. Atau lebih buruk, suaminya sedang sakit atau mengalami sesuatu sehingga harus menggantikannya bekerja. aku jadi teringat pada teman-teman satu kamr kosku. Mereka wanita kuat. Mereka membiayai keluarga mereka di kampung halaman mereka. Bahkan ada yang sedang mengalami musibah, Ibundanya meninggal dunia.

Bagaimana kalau perempuan lemah? Siapa yang akan memeluk anak-anak mereka saat hujan dan rumah bocor. Sedangkan sang ayah sedang pergi ke atas menaiki atap untuk membenahi genteng. Atau saat suami yang pergi jauh karena tugas, pertaruhannya nyawa. Maka perempuan kuatlah yang mengantar anak-anak tidur, sekolah, memasak, mendidik, menggendong, merawat dan sebagainya. Bagaimana tidak perempuan harus kuat? Iya kalau selamanya suami diberikan kesehatan dan umur panjang. Yang lebih parah, iya kalau suami tetap bertanggungjawab dan tetap setia? Kalau tidak?



Bagaimana kamu bercita-cita menjadi perempuan lemah? Kamu harus kuat. Seorang saudara pernah berpesan, "Kesabaran perempuan itu harus lebih luas dari samudera." sampai detik barusan saya baru sadar akan maknanya.

Kamis, 16 Februari 2017

Kamu yang mana?

Hello kamu, iya kamu.


Aku tau. Ketika kamu baca tulisan di blog ini, kamu tidak tau sebenarnya aku juga memantau statistik pengunjung di blogku. Aku gak tau kamu mampir ke Blog ini untuk apa. Mungkin kamu juga tidak pernah sadar kalau di pojok kiri atas ada tulisan "Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?"


Nah, sekarang sadar gak? Yaaa... gak masalah sih. Gak papa. Nggak mengganggu juga keberadaannya. Cuma penasaran aja. Kamu masuk bagian yang mana?

Aku yah, kalo aku. Cuma dua tipe orang yang aku cari tau secara diam-diam:

- Pertama, pastinya orang yang aku suka. Yang satu ini tuh rasanya gimana ya... nyaman aja gitu. Melihat dan mengawasi dari jauh tanpa diketahui orang yang bersangkutan. Bebas. Aku bisa lihat dia tanpa dia merasa diperhatikan. Dia bisa bergerak bebas yang mana "keaslian" itu lah membuat aku bisa mengagumi dia. Jangan khawatir, kadang juga aku punya hobi menjadi penggemar rahasia seseorang.

- Kedua, tentu saja orang yang punya tendensi membuat aku marah. Misalnya, Mantannya si pacar. Aku suka mau tau apa sih yang dia lakukan sekarang? Apa sih kehebatan dia? Bagaimana sih kepribadian dia? Dia sedang mengalami apa? Ya sejenis itu.Intinya, kedua alasan tadi merupakan cabang dari pernyataan pojok kiri blog. Kepada orang yang aku suka, Pasti akan memeriksa cerita-cerita tentangnya sebagai kepedulian dan aku akan datang membantunya saat ia mengalami kesedihan atau keburukan. Itupun kalau aku punya keberanian untuk menemuinya. Dan untuk orang-orang yang tidak aku suka, aku mencari tau karena penasaran. Iya, penasaran. Menarik untuk diteliti, kadang ditertawakan dan dihina.

Lalu, kamu termasuk yang mana?

Selasa, 24 Januari 2017

Lagi?

Pernah sakit hati? Pasti pernah.
Pernah merasa diremehkan? Jelas pernah.
Pernah ingin menyerah? Iya!
Pernah sangat menikmati rasa sakit? Well, yeah.
Pernah merasa menjadi pilihan kedua? Duh, apalagi ini!
Pernah merasa tidak punya kelebihan apa-apa? Hmm... kadang-kadang.
Pernah merasa dibandingkan? Secara tersirat, iya!
Pernah dijadikan bahan tertawaan karena kamu belum bisa apa-apa? Hu'uh!
Pernah merasa tidak penting? nggak... Eh, pernah...
Pernah merasa tidak seberuntung orang lain? Tidak bisa dipungkiri!
Pernah ingin lari ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenal kita dan kita kenal? Sering!
Pernah merasa sendiri dan tidak akan ada yang sempurna mengerti? IYES!


Semua itu pernah dirasakan bukan? Bagaimana kalau mengalaminya lagi? Berulang-ulang. Ini seperti sebuah siklus kehidupan yang sepertinya memang sebuah prosedur yang harus dilalui. Tapi rasa sakitnya meningkat lho! Pasti tidak sama dengan sebelumnya. Rasanya, seperti ingin marah. Berantakan. Tidak bisa dijelaskan. Lebih melegakan disimpan sendiri sampai hilang rasanya. Tidak perlu banyak orang tahu. Kadang, tidak perlu ada yang tahu. Sebagian, akan menasehati. Sebagian lagi mencoba membantu karena merasa kasihan. Sebagian besarnya, ingin tahu dan memasang topeng kepedulian. Yang lebih parah, tidak sedikit yang menghakimi dan menyalahkan. Hanya sedikit yang bersedia mendengarkan, memeluk, menguatkan, menggenggam tangan, dan mengajak melaluinya bersama.


Pernah jatuh cinta? Pernah!
Dengan siapa? Diri sendiri.


Menyadari kalau ternyata diri sendiri sekuat dan sehebat itu. :)

Jumat, 20 Januari 2017

Same shit different people

Mungkin, idiom yang sering didengar adalah same shit different day. CMIIW, artinya, kerjaan atau kejadian yang sama seperti sebelumnya tapi terjadi atau dilakukan lagi di hari berbeda (selanjutnya).

Kayaknya serupa dengan same shit different people. Perilaku sama, kejadian sama, atau perbuatan yang sama, yang dilakukan oleh orang yang sebelumnya, terjadi (dilakukan) lagi oleh orang yang berbeda.

Entah semacam karma atau memang sebuah ujian yang kalau kamu belum lulus dari ujian itu maka kamu akan diuji dengan ujian yang sama berkali-kali sampai kamu lulus.

Kadang, sampai terlintas dibenak apakah memang kamu itu pantas nerima ini karena kamu kena karma? Atau kamu memang pantas dapat perlakuan itu berkali-kali karena memang kapasitas kamu gak naik-naik. Segitu-segitu aja. Iya gak sih?

Pasti terlintas pikiran "dosa apa gue sampe ngalamin hal kayak gini lagi?" atau "ya ampun. Padahal gue udah pernah beberapa kali ngalamin yang kayak gini. Masih aja ngalamin lagi dan tidak ada tindakan korektifnya. Oke. Fine"

Yasudahlah. Kalau dua-duanya terjadi, intinya kamu disuruh koreksi diri. Hidup itu gak sendiri.

Selasa, 17 Januari 2017

Takut terhadap diri sendiri

Pernah kebayang gak kalo ketemu orang lain yang notabene itu adalah cerminan diri kita sendiri?

Bagaimana rasanya? Ngeri? Seru? Lucu? Atau aneh?

Baru-baru ini terpikir rasanya bagaimana kalau bertemu dengan diri sendiri. Dengan segala sifat buruk atau sifat terjahat yang ada dalam diri sendiri. Sifat jahat apa yang paling kamu takutkan?
Aku? Aku bukan seorang pemaaf yang baik. Lebih tepatnya, seorang pendendam yang oportunis. sebenarnya tidak berniat untuk balas dendam. Hanya saja bila dapat kesempatan, kalau bisa membalas lebih pahit kenapa harus memaafkan? Hahahahaaa

Aku suka menghitung kesalahan orang. Kesal? Marah? Kecewa? Pasti! Tapi aku bisa menahannya. Aku hanya membiarkan mereka merasa terlena terhadap kesenangan menyakiti dan seolah-olah aku memang orang baik hati yang tidak punya hati disakiti namun selalu berbuat baik.

Aku tidak pernah berencana untuk balas dendam. Tapi kesempatan itu seringkali datang. Pada saat balas dendam itu terjadi, aku sudah tidak punya perasaan lagi untuk peduli. Secara tidak sadar ternyata aku sedang membalas dendam. Itu berjalan begitu saja. Mengalir sesuai takdir. Tidak pernah direncanakan. Aku hanya berharap mereka tahu rasanya perbuatan yang pernah mereka lakukan kepadaku. Kalau yang aku lakukan itu lebih dari yang pernah mereka perbuat padaku, yaaa well... Itu hanya kebetulan. Kebetulan yang selalu terjadi. Ketika mereka menganggap aku "tidak punya hati" karena tidak pernah sakit hati (read: selalu memaafkan) karena kesalahan mereka, maka seperti itulah aku pula saat membalas mereka. Tidak punya hati.

Aku sering membiarkan orang percaya bahwa aku percaya kebohongan mereka. Mereka merasa telah berhasil membohongiku. Menurut kalian, siapa yang sebenarnya berbohong? Mereka yang membohongiku atau aku yang berhasil membuat mereka percaya bahwa aku telah mereka bohongi? Hahahaaa

Sebenarnya, aku tidak sejahat itu. Aku bukan pembenci yang baik. Tapi aku juga tidak munafik. Aku membiarkan waktu yang menjawab. Kadang, aku membiarkan waktu membunuh mereka dengan rasa bersalah atau rasa kehilangan. Mungkin aku bukan orang yang terbaik. Tapi aku pastikan, mereka akan mendapat kehilangan besar bila aku tidak ada.

Karma itu ada. Bukan aku yang membuatnya. Kesempatan itupun ada. Dan sekali lagi, bukan aku yg menciptakan. Bila kesempatan membalas karma itu datang, dipastikan itu bukan unsur kesengajaan. Tapi rasa sakit yg aku buat, itu pasti hasil ketidakbaikan mereka dimasalalu. Aku tidak suka menyakiti orang. Bila mereka tersakiti oleh ku, tanyalah mereka. Pernah berbuat apa dulu terhadapku. Mudah.

Aku selalu memberi maaf, pula peringatan. Jika masih diulang, itu berarti aku sedang diremehkan. Baiklah. Jujur saja, aku suka diremehkan. Aku suka membalas mereka yg meremehkan. Cara membalas dendam kepada orang yg meremehkan adalah membuktikan kalau mereka itu salah.

Aku seperti mengeluh sekaligus menikmati rasa sakit. Sebab buatku, yang terakhir tertawalah yang menjadi pemenang.

Mengutip lirik lagu Kerispatih yang judulnya Tapi Bukan Aku : "sebab rasaku tlah mati untuk menyadarinya".

Masih terpikir begitu ngeri bila aku bertemu dengan orang sejahat itu. Ya. Diriku sendiri.

Kamis, 12 Januari 2017

Dear Joan,

Dear Joan,

Terimakasih sudah kembali. Terimakasih sudah menjadi teman baik. Terimakasih sudah akan menjadi teman hidup.

Dear Joan,

Terimakasih atas segala tawa yang kembali. Terimakasih telah membuka hati. Terimakasih atas keringanan perasaan. Terimakasih atas prasangka buruk yang terhilangkan. Terimakasih atas keraguan yg terjawab.

Dear Joan,

Terimakasih atas Ibu dan Bapak baru untukku. Begitu sergap dan pengkode keras. Terimakasih atas tetangga-tetangga yg heboh saat pertamakali bertemu. Terimakasih atas teman-teman kemlu yg super. Terimakasih Cikuray yang indah.

Dear Joan,

Terimakasih kecupan kening saat kita berpisah untuk bertemu lagi. Terimakasih, sahabat jadi cinta.

Terimakasih... :)

Jumat, 11 November 2016

Sebuah tulisan "receh"

Masa-masa persiapan audit benar-benar menyita waktu, pikiran dan tenaga. Apapun yang terjadi, kemanapun ada orang atau teman yang mengajak, aku mau pergi. Ke gunung tentunya. Entah keadaan cuaca yang bagaimanapun, aku tidak peduli. Otak dan hati benar-benar penat dan lelah. Dua hal: pekerjaan dan.... ehm perasaan. Lelah dengan yang tidak pasti dan tidak membawa kemajuan.

Pada saat itu, datang seorang teman lama yang sedang cuti dari tugasnya dan kembali ke Jakarta tetiba bertanya jadwal wisata. Ya aku jawab saja, "ada". Masalahnya adalah, kemana dan bersama siapa yang belum jelas. Aku mengiyakan saja. Dan teman yang satu ini pun mengekor apapun keputusanku.

Kanan-kiri, depan-belakang, ajakan teman-teman lain silih berganti. Tempat dan tim. Pada akhirnya, -orang bilang, semesta mendukung-, kami nyatanya hanya melakukan perjalanan berdua. Gunung Cikuray. Tidak berdua tentunya. Di sana, kami bertemu dengan banyak pendaki lain yang nantinya pasti akan membaur satu sama lain. Lucunya, mereka langsung men-judge kami adalah sepasang suami istri. Anyway, lupa bilang. Seorang teman ini seorang laki-laki. Dan dia meng-iya-kan saja "tuduhan" mereka tanpa ijin. Pada saat itu, aku sedang ke kamar mandi di basecamp. Mau tidak mau, kami harus berperan seperti itu sampai kami turun kembali. Beberapa diantara mereka merasa amaze dan iri sampai keluar perkataan, "wah enak ya. Suami istri satu hobi. Tuh sayang, nanti kita juga begitu ya. Aamiin" lalu di-aamiin-kan oleh yang lainnya. Wew, aku berbisik pada temanku, "Bro, lu berhasil bikin pasaran gw turun. Bagaimana bisa gw dapet jodoh kalo begini caranya. Kenapa sih lu ga bilang kita adek-kakak aja?" lalu dia menjawab "gw cuma reflek manggut-manggut aja. Mana gw tau efeknya begini."
Dan perjalanan ini benar-benar jadi perjalanan penuh drama. Sesekali kami keceplosan "berteman" dan bila hal itu terjadi, kami langsung mengeluarkan dialog "ah! Kelamaan temenan sih kita" dan satunya menjawab, "iya. Jauh-jauh nyari orang, nikahnya sama lu juga!"

Oke. Untuk mencegah hal mencurigakan lain terjadi dan akan menyebabkan kami gagal untuk "berbohong", maka kami sepakat untuk membentuk kebohongan yang terorganisir. Kami segera berdiskusi bila nanti muncul pertanyaan-pertanyaan, " sejak kapan menikah?", "sejak kapan kenal?", " bagaimana bisa akhirnya menikah?" dan kami sepakat mengarang sebuah skenario dan (sampai-sampai melihat kalender hari paling memungkinkan terjadinya pernikahan) tanggal pernikahan.

Pendakian berlangsung. Kami membaur dengan pendaki lain. Entah semesta mendukung atau apalah namanya. Kami membaur dengan sekelompok pendaki muda asal Depok (di mana sebelumnya kami mengaku dari Depok). Itu gawat. Karena berarti, nantinya kami akan bersama mereka lebih dari basecamp tempat turun. Tapi sampai Depok kami harus tetap berperan. Karena entah kenapa, mereka benar-benar mendampingi kami dan berjalan beriringan (bahkan memasakkan air dan makanan untuk kami). Oke. Fine.

Benar saja semuanya. Hvft.

Teman ini, bercerita banyak hal tentang dirinya. Dia seorang teman lama. Aku mengenal dia lumayan baik. Aku menyebutnya "Bro-friend" (meskipun dia sempat salah baca menjadi BoyFriend). Banyak hal di masa lalu kami lalui sebagai teman yang solid. Bahkan sesekali bertukar cerita tentang pasangan. Yeah. Sesekali. Tidak terlalu dekat juga.

Seiring berjalannya waktu, setelah pendakian, kami intens berkomunikasi. Dia bertanya apakah merasakan ada sesuatu yang aneh? Aku jawab tidak. Sebenarnya aku merasakan hal aneh. Intensitas komunikasi kami meningkat. Itulah hal anehnya. Singkat cerita, entah kapan dan bagaimana, akhirnya kami memutuskan untuk lebih serius dalam hubungan ini. Banyak rencana dan timeline yang kami susun bersama.

Aku berkata pada Tuhan, "apakah ini tidak terlalu cepat, Tuhan? Mengapa Engkau memberikan porsi lengkap dalam satu waktu? Bahkan lebih dari apa yang aku minta dan lebih dari apa yang aku perkirakan."

Aku masih khawatir dan harap-harap cemas atas hubungan ini. Ya. Terlalu cepat untuk memutuskan keseriusan. Tapi di satu pihak lain, kami sudah bertahun-tahun mengenal dalam fungsi sebagai teman yang bahkan tidak kami prediksi sama sekali akan terjadi seperti ini. Dia, datang disaat aku merasa cukup atas ketidakjelasan. Merasa jenuh akan pekerjaan. Dia, versi lengkap apa yg belum pernah aku dapatkan. Our lifegoals, family background, hobbies, cara berfikir, dan banyak lagi yang sampai membuat kami kadang merasa ngeri karena terlalu banyak kebetulan yang sama.

Dia orang yang perhatian, adil, bisa dipercaya, setia, loyal, cerdas, plegmatis, mengalah, mempercayai sepenuhnya tapi tetap menjaga, dewasa (biarpun umurnya lebih muda beberapa tahun). Mungkin sampai detik ini aku masih masih tidak percaya. Dia? Serius sama dia??? Wew. Bukan hanya aku saja. Bahkan kadang kami masih suka menertawakan diri kami sendiri yang bahkan mungkin tidak pernah sama sekali terlintas kami akan jadi seperti ini akhirnya. Well, who knows. This happened for a reason, right?

Terima saja.