Saya terbangun dan di depan mata saya ada sebuah tulisan "The Geography of Bliss" dan "Erwin Weiner".
Ohiya, itu adalah sebuah buku. Buku yang saya beli beberapa minggu yang
lalu. Saya memejamkan mata kembali. Berharap kenikmatan tidur bisa
membuat saya lupa akan tanggungjawab saya. Ah, ternyata tidak. Saya
gagal untuk membuat perasaan saya bahagia. Saya gagal untuk melupakan
tanggungjawab, saya gagal untuk kembali tidur. Saya membuka mata dan
memiringkan badan saya ke kiri sehingga terlihat buku tebal berwarna
merah kecoklatan tadi. Saya mengambilnya. Kemudian membacanya sambil
tiduran.
Buku "The Geography of Bliss" karya Erwin
Weiner adalah buku yang saya beli beberepa minggu yang lalu saat saya
merasa sangat penat dan kesepian --ya, kesepian. Anggap saja begitu-- di
rumah. Secara tiba-tiba saya ingin pergi keluar rumah dan menuju suatu
tempat untuk membeli salah satu aksesoris elektronik yang saya punya.
Tidak dapat dipungkiri, tempat pertama dan yang paling lama saya
kunjungi adalah toko buku. Sebuah toko buku kecil dengan pengunjung --
ya, pengunjung. Karena sebagian mereka hanya ingin datang dan membaca.
Tidak membeli buku-- lebih sedikit dibanding dengan pegawai-pegawai toko
tersebut. Toko buku ini sudah banyak ditinggalkan orang-orang. Selain
koleksinya yang tidak lengkap, toko buku ini juga menjual aksesoris atau
Stationery lebih dari setengah dari total isi tokonya. Saya
berkeliling dari satu rak buku ke rak buku yang lainnya. Mengabsen satu
per satu buku yang ada disitu. Mana tahu saya akan membeli salah satu
dari mereka. Beberapa buku memberhentikan jari saya dan menyuruhnya
untuk membaca sinopsisnya atau mengambilnya untuk dibaca secara detil.
Bila saya beruntung, saya akan mendapati buku yang telah dibuka segelnya
dan saya bisa membaca sebagian isinya. Saya berjalan lagi menuju rak
buku yang lainnya. Saya rasa saya akan membeli buku novel itu, buku
novel yang pernah direkomendasikan oleh salah satu teman. Katanya bagus.
Tapi entah. Kemudian saya menuju rak buku berputar. Tidak tidak. Bukan
rak buku yang bergerak memutar, tapi kita bisa berjalan memutarinya 360
derajat untuk melihat isi rak buku yang lebih tepatnya beberapa papan
disusun pada tiang penyangga berbentuk silinder yang besar. Ada sebuah
buku misteri dan buku detektif. Baru-baru ini saya memang menyukainya.
Sebagai pengurangan rasa sensitif saya terhadap perbandingan drama di
televisi dengan kenyataan yang terjadi. Intinya supaya saya lebih suka
berfikir hal lain selain perasaan. Saya menemukan buku ini. Buku dengan
judul aneh, Geografi??? Buku yang sudah tidak tersegel plastik itu masih
cukup bagus untuk dibilang bekas dan tidak menarik untuk dibilang baru
karena sudah tanpa segel. Di sampul buku ini tertulis "The Geography of Bliss. Kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan"
Karya Eric Weiner. Katakan pada saya para pecinta buku, atau para
pecinta jalan-jalan, pasti kalian akan mengernyitkan dahi ketika melihat
judul tersebut. Sedikit takjub dan diluar pikiran biasa. Yah. Biasanya,
buku membahas tentang bagaimana cara mencari bahagia. Bukan negara
mana. Tak jauh dari judul itu, ada tulisan "New York Times Best Seller". Dengan Tagline
yang dipasang, saya rasa sudah cukup alasan saya membeli buku itu. Hm..
Tunggu sebentar. Saya kemudian membaca sebagian komentar mengenai buku
tersebut yang tercetak diawal halaman dan disampul paling belakang.
Rata-rata buku ini membuat mereka takjub dan berfikir ulang mengenai
kebahagiaan. Mereka berpendapat bahwa penulis buku ini adalah seorang
pelawak yang filosofis atau filsuf yang humoris. Pada kenyataannya
adalah dia seorang koresponden asing untuk National Public Radio.
Akhirnya saya membeli buku tanpa segel ini. Karena tinggal satu-satunya
dan saya butuh hiburan. Baiklah, saya tidak akan menceritakan lebih
lanjut tentang buku ini. Anda bisa membelinya sendiri. :p
Meskipun
komentar dalam buku tersebut bilang kalau buku ini memiliki humor, tapi
entah mengapa saya kurang mendapatkan sensasinya. Entah memang selera
humor saya yang rendah atau memang selera humor yang berbeda yang
dimiliki buku ini? Tapi saya tidak begitu mendapatkan sensasi seperti
apa yang diceritakan dalam komentar buku ini. Tapi satu hal yang sangat
menarik. Di buku ini kan berjanji untuk membicarakan tempat
mencari kebahagiaan. Mulai dari Eropa hingga Asia, dijelajahi si
penulis. Jujur, saya suka buku ini. Diluar humor yang sepertinya otak
saya tidak sampai untuk lelucon-lelucon cerdas. Penulis, Eric,
Mendatangi negara Belanda untuk bertemu Prof. Ruut Veenhoven: Bapak
Riset Kebahagiaan. Jangan heran, ini serius. Beliau punya Database
Kebahagiaan Dunia (World Database Happiness). Saya tidak tahu apa
isinya secara persis. Tapi kalau tidak salah tangkap, disana juga
terdapat peta negara-negara yang bahagia.
Kita tidak
akan membicarakan negara itu. Sekarang saya bertanya, menurut Anda,
Apakah kebahagiaan itu? Apa ukurannya yang membuat itu disebut
kebahagiaan? Ukuran? Ya, saya hanya ingin mengukur secara eksak. Mungkin
saja mendapatkan rumus pasti. Saya bukan Albert Einsten yang juara
pintarnya. Tapi saya tidak kalah kepo sama dia yang suka main
rumus-rumus. Saya tidak suka matematika. Saya benci angka-angka. Tapi
saya orang yang sangat penasaran. Penasaran menyebabkan saya punya bahan
bakar untuk mencari tahu. Bukan saya sok pintar. Tapi hanya mencoba
merumuskan bagaimana bahagia itu terbentuk. Apakah faktor eksternal dan
lingkungan berpengaruh pada kebahagiaan? Bila lingkungan Anda sedang
rusuh, hati anda yang tenang juga ikutan rusuh, maka mungkin fungsi
matematika untuk kebahagiaan Anda adalah
f(x)= Li - Mo
Dimana x adalah kebahagiaan, Li adalah Faktor Lingkungan, dan Mo adalah Mood --anggap saja begitu.
Mengapa
saya meletakkan lingkungan ada di depan? Karena biasanya bilangan yang
didepan pasti lebih besar dibanding bilangan pengurangnya. Bila bilangan
pengurangnya lebih besar, maka akan menghasilkan angka negatif. Atau
jawaban dalam fungsi ini adalah tidak bahagia.
Lalu
bagaimana dengan yang kebahagiaannya tidak terpengaruh oleh faktor
lingkungan? Ya Rumus fungsi matematikanya tinggal dibalik aja. heheheee
Tapi untuk hasilnya, saya rasa akan berbeda. Karena apabila Mo > Li belum tentu menciptakan kebahagiaan pada Li. Oke begini:
Jika f(x)= Li - Mo, misalkan kita masukan angka Li = 5 dan Mo = 1, maka
f(x) = 5-1
x = 4 --> Hasil positif. (mungkin) Bahagia.
Tapi kalau dibalik fungsinya: f(x)= Mo - Li, misalkan masukkan angka Mo = 5 dan Li = 1,
f(x) = 5-1
x = 4 --> hasilnya positif.
Namun
dengan hasil positif itu apakah berarti mood seseorang yang tidak
terpengaruh lingungan akan benar mutlak bahagia? Atau karena Mood
seseorang yang bahagia, bisa merubah lingkungannya jadi bahagia juga?
Bisa jadi. Bisa juga tidak. Wah, kalau yang satu ini pasti harus dibuat
penelitian lebih lanjut mengenai keterkaitannya. Saya udahan deh. Lagi gak mau skripsi-skripsian dulu. hehehee
Baiklah.
Seperti yang disebut diawal, ukuran kebahagiaan itu berbeda-beda.
Bahkan batasannya untuk orang yang sama juga berbeda. Misalnya,
seseorang akan bahagia jika mendapatkan sebuah buku tulis. Tapi bila dia
mendapatkan tiga? Pasti lebih bahagia lagi, pikir kita. Bagaimana jika
tidak? Jika dia memang benar-benar bahagia bila hanya memiliki satu buku
tulis untuk melengkapi raknya yang kecil agar bisa penuh hingga ujung.
Jika dia mendapatkan tiga? Maka dia akan memperoleh masalah baru:
"Dimana saya akan meletakkan dua buku ini?"
Oke. Kita
menemukan masalah lagi. Selain mencari makna sesungguhnya akan
kebahagiaan, mencari rumus pastinya,kita juga mendapat masalah bila
"kebahagiaan" itu datang dengan jumlah yang tidak sesuai dengan
keinginan kita. Entah lebih kecil atau lebih besar. Berpengaruhkah pada
level kebahagiaan? Level kepuasan, mungkin. Tapi apakah kebahagiaan itu
hanya berhenti pada kata "puas"? Lalu bagaimana dengan sifat dasar
manusia yang tidak pernah merasa puas? Ada yang bilang, dengan
bersyukur, kita akan puas dengan apa yang sudah kita terima. Saya
setuju. Tapi tidak membuat saya berhenti mencari yang lebih baik. Kalau
hari ini saya bisa mendapat satu buah stroberi hanya dengan berjalan
satu menit, niscaya besok saya akan berjalan satu jam untuk mendapatkan
buah stroberi yang lebih banyak.
Katanya, kebahagiaan
itu asalnya dari diri sendiri. Katanya. Kalau kebahagiaan hadir dari
diri sendiri, kenapa bisa terpengaruh oleh lingkungan? Mungkin sebagian
Anda akan menjawab, saya tidak terpengaruh oleh lingkungan. Oke. Itu
pendapat Anda, saya hargai. Namun hargai saya juga jika tidak begitu
yakin. Misalnya, Anda mendapatkan uang sebesar Rp 20 juta. Kemudian
terjadi -Naudzubillahiminjalik- masalah dalam lingkungan Anda, kemudian
orang-orang akan melirik Anda yang memiliki uang sebanyak itu untuk
dapat memberikan mereka bantuan. Tentu Anda --bila Anda baik hati-- akan
memberinya dengan senang hati. Nilai kebahagiaan Anda bertambah. Itu
artinya, kebahagiaan Anda juga dipengaruhi lingkungan bukan? Pengaruh
lingkungan bukan hanya mengenai hal negatif saja. Lalu, jika Anda
sedikit kikir, pasti Anda tidak akan nyaman tidur sambil memeluk uang
Anda. Takut kalau-kalau lingkungan mulai beringas dan merebut
kebahagiaan Anda.
Ketika saya sedang sedih atau sedang
ada masalah, saya mencoba membahagiakan diri sendiri dulu. Karena
katanya, kebahagiaan kan asalnya dari diri sendiri. Saya mencoba memakan
cokelat --terimakasih Tuhan, saya tidak alergi cokelat--, katanya
cokelat dapat menjadi penahan sakit, hal ini dikarenakan cokelat dapat
mengeluarkan senyawa endorphine yang membuat perasaan menjadi lebih
tenang. Endorphine adalah suatu hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary di kepala kita. Cokelat
yang dapat membuat mood lebih baik hal ini dikarenakan kandungan
caffeine, theobromine, methyl-xanthine dan phenylethylalanine dipercaya
dapat memperbaiki mood sehingga mampu menurunkan tekanan darah. Lalu?
Seketika saya bahagia? Tidak! Saya suka makanan pedas. Saya coba membuat
makanan pedas. Untuk sementara saya bisa melupakan masalah saya, karena
ketika saya merasa kewalahan oleh pedas, hanya satu hal yang saya ingat
yaitu: AIR!
Jalan-jalan? Bisakah membuat kebahagiaan
muncul? Mungkin. Karena kita bisa menghirup lebih banyak udara dibanding
jika kita termenung didalam kamar sampai ketiduran. Otak ita butuh
lebih banyak oksigen untuk bisa berfikir lebih baik. Kita juga bisa
membuka pikiran lebih luas dan berinteraksi dengan lebih banyak orang.
Nah ini yang saya kelompokkan jadi sebuah kebahagiaan: Interaksi!
Interaksi bukan hanya dengan orang lain, interaksi dengan Tuhan juga.
Menangis?
Tidak menyelesaikan masalah. Setidaknya menurunkan emosi dan tekanan
darah. Jadi bahagia? Tidak juga. Hanya merasa lega. Berarti kebahagiaan
itu bukan hanya kepuasan? Kelegaan juga? Bedanya? Saya lihat dikamus,
kedua kata ini saling mengartikan. Lega bisa dikatakan puas, dan puas
bisa mengartikan lega. Kalau saya, lebih mengelompokkan mereka ke dalam
bahagia. Bukan pengertian dari bahagia itu sendiri. Bisa jadi, ada
sebuah luka dan kekecewaan dalam hati saya yang malah membuat saya lega
dan puas. Misalnya apa ya? Hmmm... Siapa yang tidak kecewa kalah
bertanding? Tapi saya pernah merasa lega karena saya kalah bertanding...
Lebih tepatnya, bukan saya saja. Tapi teman-teman saya yang lain juga
tidak ada yang menang. Hahahaaa! Jahat? Tidak! Hanya bahagia. Karena
teman-teman saya tidak membuat saya minder. :p
Bagaimana
jika rumus tadi kita tambahkan saja dengan Sudut Pandang? Tidak pasti
memang. Tapi saya rasa mood itu memang dipengaruhi sudut pandang. Jika
sudut pandang memiliki satuan atau angka bilangan tetap, maka mood dan
lingkungan tidak berpengaruh. Bila lingkungan Anda sedang buruk, bila
Anda memandangnya dari sudut pandang kekacauan, pasti mood Anda ikut
kacau. Bila diri Anda sedang bahagia, sudut pandang Anda akan positif.
Bila Anda sedang sedih, maka lingkungan Anda akan merespon. Saya ingat
suatu kalimat bijak, "Ingatlah, bila kita menghadapi masalah, maka
beberapa orang akan peduli dan sisanya hanya ingin tahu" dan saya rasa
saya mau menambahkan sedikit, "beberapa orang yang hanya ingin tahu itu
ada yang bersimpati dan ada yang akan menyalahkanmu"
Oke. Kita coba buat rumusnya saja. Misalnya
f(x)= (Li-Mo) . SP
dengan
SP adalah sudut pandang dan nilainya harus selalu 0 (nol). Mengapa?
Agar Sudut Pandang bisa menetralkan semua hasil dari fungsi. Tidak
negatif dan tidak pula positif. Lha berarti tidak bahagia donk? Menurut
saya, kebahagiaan itu kebutuhan. Hasilnya akan pas bila butuh satu dan
mendapatkan satu --> 1-1 = 0. Bila malah berkurang 3? cari
bagaimanapun biar nggak minus 3. Yaitu usaha (menambah). Bila kelebihan 3? Cari bagaimanapun caranya biar 3 itu jadi 1, dengan berbagi (pengurangan).
Saya yakin, kenetralan tidak menimbulkan kecenderungan dan bisa membuat kita bisa berfikir lebih jernih.
Berfikir jernih bisa membuat kita tidak goyah (bukan tidak terpengaruh)
oleh keadaan lingkungan dan membuat lingkungan yang kacau bisa jadi
rukun lagi bila memang kita penjernih diantara yang keruh.
Ah! Saya sudah terlalu banyak bicara.
Lalu? Apa itu kebahagiaan?
Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?
Minggu, 14 September 2014
Sabtu, 26 Juli 2014
Menunggu mati?
Seringkali, ketika kau merasa tidak dihargai, tidak diperjuangkan atau tidak mendapatkan sesuatu yg layak. Kau cenderung menyalahkan dirimu sendiri. Bahwa ini adalah kesalahan dan kekuranganmu. Seringkali, kau sudah merasa cukup terhianati meskipun tanpa adanya orang ketiga. Karena kecewanya harapan yang dimuluk-mulukkan tapi pahit diwujudkan.
Seringkali ketika kau sudah berusaha sekuat tenaga, kau berdoa disetiap sujud, tapi kau dipukul mundur oleh kalimat "realistis saja".
Apa gunanya tujuan? Apa fungsi harapan? Apa yang selama ini dipertahankan?
Kau berlari sendiri. Ya... Sendiri... Dengan satu kaki.
Kau menangis, tanpa ada yang peduli. Kau meraung, memohon, bahkan mengiba. Tapi tidak ada secuilpun rasa yang kemudian tergugah. Lalu untuk apa?
Sepertinya kau menunggu waktu, kawan. Waktu untuk kau mati. Tenang saja. Kau bukan beban. Makanya kau tak ada yang menangisi. Percuma kau menangis. Beberapa orang menganggap hal ini kemerdekaan.
Tenggorokanmu tercekat oleh kecewa yang tak bisa naik dan keluar sebagai air mata.
Apa kau lihat-lihat kemari? Kau mau mati?
Matilah! Kau sendiri saja tidak mengasihani diri sendiri. Bagaimana orang lain hendak kau mintai hati nurani?
Tidak ada hasil besar tanpa keputusan besar. Putuskan saja. Berhenti atau mati.
Selasa, 27 Mei 2014
Kaki-kaki sahabatku
Tak tuk tak tuk tak tuk
Bunyi langkah kaki yang agak terburu-buru. Alas kaki berwarna terang, begitu sepertinya, mengkilap dengan bagian belakang lebih tinggi sehingga kaki milik nona itu menjadi berjinjit, mengkilap disapu cahaya matahari siang. Ada pula yang menggunakan sendal jepit, sepatu yang kelihatannya ringan digunakan untuk berlari, atau ada pula yang tanpa alas kaki sepertiku. Aku tidak pernah mengenal warna-warna. Aku tidak pernah tahu untuk itu.
Seringkali aku hanya mampu melihat kaki-kaki yang melintas begitu bebasnya di depan mataku, tanpa aku tahu siapa pemiliknya. Berbagai bentuk, warna dan tempo langkah, kunikmati setiap hari hingga sore tiba. Aku tidak membayangkan apa-apa. Aku tidak berharap apa-apa. Menikmatinya sudah merupakan rutinitasku.
Hari ini terik sekali. Aku berterimakasih pada matahari, sahabatku. Dia mau muncul dengan berani melawan awan. Setelah kemarin bertarung bersama petir dan runtuhan air yang banyak sekali membuatku agak menggigil. Yah, panas terik lebih baik dibandingkan basah kuyup.
Ada malaikat yang selalu berputar-putar di sekitar kepalaku. Aku mencoba memberitahu orang yang lewat di hadapanku bahwa aku punya teman yang menawan, bersih dan cemerlang. Aku ingin mereka melambatkan tempo kaki mereka yang kadang terlalu cepat melewati kepalaku. Aku tidak marah. Aku hanya ingin mengenalkan sahabatku yang bernama Malaikat. Aku ingin mereka juga melihat keajaiban ini.
Kadang kala, aku melihat seseorang berjalan sambil menangis. Berjalan menunduk dengan tempo jalan yang lambat. Matanya sembab entah kenapa. Bahunya naik turun terisak. Aku rasa dia lapar atau merasakan sakit. Sebab aku akan melakukan itu jika perutku benar-benar kosong atau ada orang yang tidak sengaja menendang kepalaku.
Ketika sahabatku, Matahari, mulai pamit kembali kedalam tanah, aku senang sekali. Nenek dan adikku datang dengan senyuman dan pastinya sebungkus nasi. Aku sangat bahagia. Aku tidak menangis hari ini. Aku bermain seharian dengan kaki-kaki yang melangkah kesana kemari dan matahari yang sudah tidak lagi marah kepadaku. Dia tersenyum sepanjang hari.
Nenekku sudah tua sekali. Badannya bungkuk dan kulitnya sudah keriput. Adik perempuanku beberapa tahun lebih muda dariku. Wajahnya lelah sekali. Tidak ada sedikit senyum yang tersisa. Aku rasa hari ini terlalu berat untuk mereka yang mencari uang.
Akhirnya ikatan kaki dan tanganku dilepaskan. Aku dibopong Nenek dan adikku. Berjalan menuju tumpukan kardus yang biasa kami tiduri bertiga. Nenek mulai membuka nasi bungkus yang dibawanya. Aku melihat tangannya mulai mengumpulkan nasi dan mengepalkannya sambil membuka mulutnya yang memberikan isyarat bahwa aku harus melakukan hal yang sama, membuka mulutku lebar-lebar.
Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan nenek dan adikku. Mereka bercakap-cakap sambil tersenyum, sesekali menoleh kepadaku. Akupun melakukan hal yang sama, tersenyum hingga membuat gigi-gigiku terlihat dan nasi yang aku kunyah minggir sedikit ke luar pipiku.
Aku tidak dapat mengerti apa-apa. Karena aku tidak dapat mendengar satupun bunyi. Aku tidak dapat menceritakan apa yang terjadi pada hariku, karena aku tidak bisa mengeluarkan satu bunyipun dari tenggorokkanku. Aku sudah seperti ini. Tidak bisa berjalan dan tidak bisa membantu nenek dan adikku. Karena aku tidak bisa berfikir dengan pola fikir seperti mereka. Kaki dan tanganku selalu diikat ke sebuah tiang dekat terminal bus sebelum nenek dan adikku membawa jualannya untuk dijajakan. Mereka sangat menyayangiku. Mereka tidak mau kehilanganku. Mereka takut aku pergi dan menghilang. Maka aku diikat dan mereka bisa tenang mencari uang.
Tidak apa-apa. Aku tidak marah kepada Tuhan. Aku diberikan nenek, adik, matahari, udara, air -yang mungkin sering tidak bersahabat denganku karena sering membuatku kedinginan-, langkah kaki yang indah, senyuman, kadang usapan hangat dari beberapa orang yang lewat disekitarku. Tuhan menyayangiku. Kalian juga kan? Sebab Tuhan juga menyayangi nenek dan adikku.
Insipred by: Lakhan.
Selasa, 15 Oktober 2013
Selamat kecewa...
Ketika lo merasa dikecewakan orang lain, kemudian lo mengutuk orang itu. Bahkan kadang lo menyalahkan diri sendiri karena selalu dikecewakan berulang-ulang dan dalam sedalam-dalamnya. Benci pada orang yang mengecewakan dan kepada diri sendiri yang merasa bodoh.
Coba merenung lagi, niscaya lo akan ngerasa lebih kecewa sama diri lo. Saat lo mendapati bahwa lo belum dapat membahagiakan orang-orang yang dengan sekuat tenaga memberikan kebahagiaan buat lo, berdoa buat lo dan ada buat lo. Seperti: orangtua, adik/kakak, keluarga dan teman2. Tundukkan kepala lo, bukan untuk bersedih karena dikecewakan. Tapi tundukkan kepala lo karena lo malu belum bisa membahagiakan mereka. Dan sekarang, angkat kepala lo dan lihat mereka mau memeluk lo dalam keadaan yang bagaimanapun dan apa adanya. Selamat! Lo harus menyadari, lebih banyak orang yang mau membuat dan dibuat bahagia. Maju dan injak setiap bayangan hitam yang bikin lo kecewa.
Ingat! Bayangan itu bergerak sesuai dengan gerakan lo, bukan lo yang digerakkan bayangan. :)
Yoroshiku,
Tri Niasih Ati
Sabtu, 27 Juli 2013
Cukuplah bagiku
Cukuplah bagiku Alloh...
Aku masih terisak dan tersiksa. Sampai aku tertidur dan kemudian terbangun oleh rasa sakit yang menyesakkan.
Pikiran buruk macam apa ini! Tidak juga tersudahi rasa sakit yang merejang kegembiraan.
I'm not that important.
Lelehan air hangat terus mengalir biarpun bola matanya sudah memprotes rasa perih dan kelopaknya sudah menebal.
Dalam kubikel kecil yang disebut kamar dan dalam kungkungan persegi panjang empuk bernama kasur, aku merasakan sebuah dunia hampa udara. Sesak.
I'm not that important.
Dunia ini terlalu besarkah untuk seorang yang meringkuk dikamar tanpa terpikirkan perasaannya? Atau terlalu banyak orang hebatkah sehingga tidak ada keistimewaan yang bisa kuselipkan mengenai namaku?
Mungkin sejarah teralu panjang untuk kukutipkan sepenggal ceritaku. Mungkin juga masa depan terlalu jauh untuk kejar dengan lari. Atau mungkin tidak ada tempat untuk orang yang sedikit iri hati ini?
I'm not that Important.
Aku kemudian keluar. Melihat sebuah kotak elektronik yang dapat menayangkan gambar bergerak dan bersuara.
Seseorang dengan sebuah alat yang didorongnya. Bentuknya seperti gerobak. Tapi itu alat bantu berjalannya. Kedua kakinya tidak menapak sempurna. Sebelah kanan membengkok kekiri, begitu juga sebaliknya.
Dia berjalan tertatih. Sulit sekali sepertinya.
Kepalanya terangguk-angguk tak tentu. Tanpa dia sengaja pastinya. Setiap dia bicara, perlu energi besar untuk mengeluarkan kata-kata agar jelas didengar. Tak jarang, dia harus mengulangi kalimat itu karena lawan bicaranya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia tidak cacat. Hanya saja dia tidak sepertiku. Setelah selesai bercakap dengan dengan lawan bicaranya, dia mengucapkan hamdalah dan salam tanda dia berpamitan.
Rasanya...
Aku seperti orang yang tidak tahu berterimakasih.
Cukuplah bagiku Engkau, Ya Alloh...
Aku masih terisak dan tersiksa. Sampai aku tertidur dan kemudian terbangun oleh rasa sakit yang menyesakkan.
Pikiran buruk macam apa ini! Tidak juga tersudahi rasa sakit yang merejang kegembiraan.
I'm not that important.
Lelehan air hangat terus mengalir biarpun bola matanya sudah memprotes rasa perih dan kelopaknya sudah menebal.
Dalam kubikel kecil yang disebut kamar dan dalam kungkungan persegi panjang empuk bernama kasur, aku merasakan sebuah dunia hampa udara. Sesak.
I'm not that important.
Dunia ini terlalu besarkah untuk seorang yang meringkuk dikamar tanpa terpikirkan perasaannya? Atau terlalu banyak orang hebatkah sehingga tidak ada keistimewaan yang bisa kuselipkan mengenai namaku?
Mungkin sejarah teralu panjang untuk kukutipkan sepenggal ceritaku. Mungkin juga masa depan terlalu jauh untuk kejar dengan lari. Atau mungkin tidak ada tempat untuk orang yang sedikit iri hati ini?
I'm not that Important.
Aku kemudian keluar. Melihat sebuah kotak elektronik yang dapat menayangkan gambar bergerak dan bersuara.
Seseorang dengan sebuah alat yang didorongnya. Bentuknya seperti gerobak. Tapi itu alat bantu berjalannya. Kedua kakinya tidak menapak sempurna. Sebelah kanan membengkok kekiri, begitu juga sebaliknya.
Dia berjalan tertatih. Sulit sekali sepertinya.
Kepalanya terangguk-angguk tak tentu. Tanpa dia sengaja pastinya. Setiap dia bicara, perlu energi besar untuk mengeluarkan kata-kata agar jelas didengar. Tak jarang, dia harus mengulangi kalimat itu karena lawan bicaranya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia tidak cacat. Hanya saja dia tidak sepertiku. Setelah selesai bercakap dengan dengan lawan bicaranya, dia mengucapkan hamdalah dan salam tanda dia berpamitan.
Rasanya...
Aku seperti orang yang tidak tahu berterimakasih.
Cukuplah bagiku Engkau, Ya Alloh...
Lelaki yang belum pernah kutemui
Dia, adalah lelaki yang belum pernah kutemui. Banyak sudah cerita yang kudengar tentangnya.
Dia, adalah lelaki yang belum pernah kutemui. Tapi aku rasa, aku sangat menyukainya.
Dia, adalah lelaki yang sama sekali belum pernah kuketahui, tapi mengapa hatiku bisa terpaut padanya?
Dia, adalah lelaki yang telah beristri...
Begitu kecewanya aku dengan keadaan yang merundungku oleh sekitarku. Serasa tidak adil atas apa yang telah kulakukan. Apa aku pantas mendapatkan ini? Oh, tidak! Jangan bilang iya! Aku tidak pernah melakukan hal ini kepada orang lain. Tapi mengapa aku tidak mendapatkan perlakuan yang baik? Ya setidaknya setara atas apa yang aku lakukan kepada orang itu. Marah, kecewa dan sedih memuncak hingga membuat mataku basah dan tenggorokanku berat hanya untuk sekedar menelan ludah.
Aku ingin menari hingga kakiku terluka, Aku ingin berteriak hingga suaraku habis, aku ingin menangis hingga air mataku kering. Tapi aku hanya menatap nanar keatas langit sambil menggigit pilu.
Sampai pada sebuah cerita tentang seorang lelaki yang membuatku terpaut hati.
Diceritakanlah oleh seseorang, bahwa ada seorang lelaki begitu berani, kuat dan tangguh. Betapa tidak dalam pikiranku terbesit dia adalah orang yang menyeramkan dan menebar ngeri bagi musuhnya. Ya! Itu memang benar!
Suatu ketika, sebelum lelaki itu meninggal, lelaki itu membuat wasiat kepada sahabatnya untuk melakukan suatu kebiasaannya. Lelaki itu meminta sahabatnya untuk memberi makan seorang pengemis tua di ujung pasar. Tidak hanya sekedar memberikannya makan, tapi juga harus menyuapinya. Karena pengemis itu begitu tua dan buta.
Sesampainya di tempat yang telah diwasiatkan oleh lelaki itu, sahabatnya kemudian duduk di sebelah pengemis tua itu. Pengemis tua itu terus berteriak. Dari mulutnya keluar kalimat-kalimat kasar yang tidak pantas didengar. Kalimat-kalimat provokatif yang sungguh membuat hati ingin memukulnya.
Setelah beberapa suapan, pengemis itu menghentikan makan dan "orasi"nya. Pengemis itu memegang tangan yang menyuapinya sedari tadi.
"Tunggu sebentar. Kau bukan orang yang yang biasa menyuapiku. Siapa kamu?" Tanya pengemis tua itu.
"Tidak. Aku adalah orang yang biasa menyuapimu, Pak." Kata orang itu.
"Jangan mencoba menipuku! Aku memang buta. Tapi aku tidak mati rasa." Bantah pengemis itu.
"Darimana kau tahu aku bukanlah yang biasa menyuapimu, Pak tua?" Tanya orang itu.
"Orang yang biasa menyuapiku bertangan lembut. Dia biasa menyuapiku perlahan dengan makanan yang halus dan sentuhan yang tidak kasar." Lalu terdengar suara tangis yang tertahan dari sisi sang pengemis itu.
"Mengapa kau menangis? Dimana orang yang biasa menyuapiku? Siapa orang itu?" Tanya pengemis itu agak memaksa.
"Orang itu adalah Muhammad. Orang yang selama ini kau teriaki sebagai pembohong besar dan ahli sihir. Beliau sudah tiada. Dan beliau yang memerintahkanku untuk tetap menyuapimu, Pak Tua..." Desir padang pasir lebih nyata dibanding riuhnya lalulalang orang sekitar mereka.
Sebuah tangis pecah dan pertobatan terwujud...
Muhammad... Seorang lelaki yang kuat namun lembut. Seorang lelaki yang tidak menuntut apa yang telah dia perbuat kepada orang lain agar berlaku sama pada dirinya.
Muhammad... Seorang lelaki yang begitu ditakuti sekaligus begitu dikagumi.
Muhammad... Seorang lelaki yang belum pernah kutemui, tapi mengapa aku bisa terpaut hati?
Dia, adalah lelaki yang belum pernah kutemui. Tapi aku rasa, aku sangat menyukainya.
Dia, adalah lelaki yang sama sekali belum pernah kuketahui, tapi mengapa hatiku bisa terpaut padanya?
Dia, adalah lelaki yang telah beristri...
Begitu kecewanya aku dengan keadaan yang merundungku oleh sekitarku. Serasa tidak adil atas apa yang telah kulakukan. Apa aku pantas mendapatkan ini? Oh, tidak! Jangan bilang iya! Aku tidak pernah melakukan hal ini kepada orang lain. Tapi mengapa aku tidak mendapatkan perlakuan yang baik? Ya setidaknya setara atas apa yang aku lakukan kepada orang itu. Marah, kecewa dan sedih memuncak hingga membuat mataku basah dan tenggorokanku berat hanya untuk sekedar menelan ludah.
Aku ingin menari hingga kakiku terluka, Aku ingin berteriak hingga suaraku habis, aku ingin menangis hingga air mataku kering. Tapi aku hanya menatap nanar keatas langit sambil menggigit pilu.
Sampai pada sebuah cerita tentang seorang lelaki yang membuatku terpaut hati.
Diceritakanlah oleh seseorang, bahwa ada seorang lelaki begitu berani, kuat dan tangguh. Betapa tidak dalam pikiranku terbesit dia adalah orang yang menyeramkan dan menebar ngeri bagi musuhnya. Ya! Itu memang benar!
Suatu ketika, sebelum lelaki itu meninggal, lelaki itu membuat wasiat kepada sahabatnya untuk melakukan suatu kebiasaannya. Lelaki itu meminta sahabatnya untuk memberi makan seorang pengemis tua di ujung pasar. Tidak hanya sekedar memberikannya makan, tapi juga harus menyuapinya. Karena pengemis itu begitu tua dan buta.
Sesampainya di tempat yang telah diwasiatkan oleh lelaki itu, sahabatnya kemudian duduk di sebelah pengemis tua itu. Pengemis tua itu terus berteriak. Dari mulutnya keluar kalimat-kalimat kasar yang tidak pantas didengar. Kalimat-kalimat provokatif yang sungguh membuat hati ingin memukulnya.
Setelah beberapa suapan, pengemis itu menghentikan makan dan "orasi"nya. Pengemis itu memegang tangan yang menyuapinya sedari tadi.
"Tunggu sebentar. Kau bukan orang yang yang biasa menyuapiku. Siapa kamu?" Tanya pengemis tua itu.
"Tidak. Aku adalah orang yang biasa menyuapimu, Pak." Kata orang itu.
"Jangan mencoba menipuku! Aku memang buta. Tapi aku tidak mati rasa." Bantah pengemis itu.
"Darimana kau tahu aku bukanlah yang biasa menyuapimu, Pak tua?" Tanya orang itu.
"Orang yang biasa menyuapiku bertangan lembut. Dia biasa menyuapiku perlahan dengan makanan yang halus dan sentuhan yang tidak kasar." Lalu terdengar suara tangis yang tertahan dari sisi sang pengemis itu.
"Mengapa kau menangis? Dimana orang yang biasa menyuapiku? Siapa orang itu?" Tanya pengemis itu agak memaksa.
"Orang itu adalah Muhammad. Orang yang selama ini kau teriaki sebagai pembohong besar dan ahli sihir. Beliau sudah tiada. Dan beliau yang memerintahkanku untuk tetap menyuapimu, Pak Tua..." Desir padang pasir lebih nyata dibanding riuhnya lalulalang orang sekitar mereka.
Sebuah tangis pecah dan pertobatan terwujud...
Muhammad... Seorang lelaki yang kuat namun lembut. Seorang lelaki yang tidak menuntut apa yang telah dia perbuat kepada orang lain agar berlaku sama pada dirinya.
Muhammad... Seorang lelaki yang begitu ditakuti sekaligus begitu dikagumi.
Muhammad... Seorang lelaki yang belum pernah kutemui, tapi mengapa aku bisa terpaut hati?
Rabu, 05 Juni 2013
Terakhir
Dapatkah aku memelukmu untuk terakhir kali?
Terakhir kalinya merasakan nyamannya hatimu.
Terakhir kali merasakan sejuknya jiwamu.
Terakhir kalinya mendapatkan apa yang biasa aku dapatkan, yang kini akan hilang...
When you're gone...
Terakhir kalinya merasakan nyamannya hatimu.
Terakhir kali merasakan sejuknya jiwamu.
Terakhir kalinya mendapatkan apa yang biasa aku dapatkan, yang kini akan hilang...
When you're gone...
Langganan:
Postingan (Atom)

