Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?
Sabtu, 26 Juli 2014
Menunggu mati?
Seringkali, ketika kau merasa tidak dihargai, tidak diperjuangkan atau tidak mendapatkan sesuatu yg layak. Kau cenderung menyalahkan dirimu sendiri. Bahwa ini adalah kesalahan dan kekuranganmu. Seringkali, kau sudah merasa cukup terhianati meskipun tanpa adanya orang ketiga. Karena kecewanya harapan yang dimuluk-mulukkan tapi pahit diwujudkan.
Seringkali ketika kau sudah berusaha sekuat tenaga, kau berdoa disetiap sujud, tapi kau dipukul mundur oleh kalimat "realistis saja".
Apa gunanya tujuan? Apa fungsi harapan? Apa yang selama ini dipertahankan?
Kau berlari sendiri. Ya... Sendiri... Dengan satu kaki.
Kau menangis, tanpa ada yang peduli. Kau meraung, memohon, bahkan mengiba. Tapi tidak ada secuilpun rasa yang kemudian tergugah. Lalu untuk apa?
Sepertinya kau menunggu waktu, kawan. Waktu untuk kau mati. Tenang saja. Kau bukan beban. Makanya kau tak ada yang menangisi. Percuma kau menangis. Beberapa orang menganggap hal ini kemerdekaan.
Tenggorokanmu tercekat oleh kecewa yang tak bisa naik dan keluar sebagai air mata.
Apa kau lihat-lihat kemari? Kau mau mati?
Matilah! Kau sendiri saja tidak mengasihani diri sendiri. Bagaimana orang lain hendak kau mintai hati nurani?
Tidak ada hasil besar tanpa keputusan besar. Putuskan saja. Berhenti atau mati.
Selasa, 27 Mei 2014
Kaki-kaki sahabatku
Tak tuk tak tuk tak tuk
Bunyi langkah kaki yang agak terburu-buru. Alas kaki berwarna terang, begitu sepertinya, mengkilap dengan bagian belakang lebih tinggi sehingga kaki milik nona itu menjadi berjinjit, mengkilap disapu cahaya matahari siang. Ada pula yang menggunakan sendal jepit, sepatu yang kelihatannya ringan digunakan untuk berlari, atau ada pula yang tanpa alas kaki sepertiku. Aku tidak pernah mengenal warna-warna. Aku tidak pernah tahu untuk itu.
Seringkali aku hanya mampu melihat kaki-kaki yang melintas begitu bebasnya di depan mataku, tanpa aku tahu siapa pemiliknya. Berbagai bentuk, warna dan tempo langkah, kunikmati setiap hari hingga sore tiba. Aku tidak membayangkan apa-apa. Aku tidak berharap apa-apa. Menikmatinya sudah merupakan rutinitasku.
Hari ini terik sekali. Aku berterimakasih pada matahari, sahabatku. Dia mau muncul dengan berani melawan awan. Setelah kemarin bertarung bersama petir dan runtuhan air yang banyak sekali membuatku agak menggigil. Yah, panas terik lebih baik dibandingkan basah kuyup.
Ada malaikat yang selalu berputar-putar di sekitar kepalaku. Aku mencoba memberitahu orang yang lewat di hadapanku bahwa aku punya teman yang menawan, bersih dan cemerlang. Aku ingin mereka melambatkan tempo kaki mereka yang kadang terlalu cepat melewati kepalaku. Aku tidak marah. Aku hanya ingin mengenalkan sahabatku yang bernama Malaikat. Aku ingin mereka juga melihat keajaiban ini.
Kadang kala, aku melihat seseorang berjalan sambil menangis. Berjalan menunduk dengan tempo jalan yang lambat. Matanya sembab entah kenapa. Bahunya naik turun terisak. Aku rasa dia lapar atau merasakan sakit. Sebab aku akan melakukan itu jika perutku benar-benar kosong atau ada orang yang tidak sengaja menendang kepalaku.
Ketika sahabatku, Matahari, mulai pamit kembali kedalam tanah, aku senang sekali. Nenek dan adikku datang dengan senyuman dan pastinya sebungkus nasi. Aku sangat bahagia. Aku tidak menangis hari ini. Aku bermain seharian dengan kaki-kaki yang melangkah kesana kemari dan matahari yang sudah tidak lagi marah kepadaku. Dia tersenyum sepanjang hari.
Nenekku sudah tua sekali. Badannya bungkuk dan kulitnya sudah keriput. Adik perempuanku beberapa tahun lebih muda dariku. Wajahnya lelah sekali. Tidak ada sedikit senyum yang tersisa. Aku rasa hari ini terlalu berat untuk mereka yang mencari uang.
Akhirnya ikatan kaki dan tanganku dilepaskan. Aku dibopong Nenek dan adikku. Berjalan menuju tumpukan kardus yang biasa kami tiduri bertiga. Nenek mulai membuka nasi bungkus yang dibawanya. Aku melihat tangannya mulai mengumpulkan nasi dan mengepalkannya sambil membuka mulutnya yang memberikan isyarat bahwa aku harus melakukan hal yang sama, membuka mulutku lebar-lebar.
Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan nenek dan adikku. Mereka bercakap-cakap sambil tersenyum, sesekali menoleh kepadaku. Akupun melakukan hal yang sama, tersenyum hingga membuat gigi-gigiku terlihat dan nasi yang aku kunyah minggir sedikit ke luar pipiku.
Aku tidak dapat mengerti apa-apa. Karena aku tidak dapat mendengar satupun bunyi. Aku tidak dapat menceritakan apa yang terjadi pada hariku, karena aku tidak bisa mengeluarkan satu bunyipun dari tenggorokkanku. Aku sudah seperti ini. Tidak bisa berjalan dan tidak bisa membantu nenek dan adikku. Karena aku tidak bisa berfikir dengan pola fikir seperti mereka. Kaki dan tanganku selalu diikat ke sebuah tiang dekat terminal bus sebelum nenek dan adikku membawa jualannya untuk dijajakan. Mereka sangat menyayangiku. Mereka tidak mau kehilanganku. Mereka takut aku pergi dan menghilang. Maka aku diikat dan mereka bisa tenang mencari uang.
Tidak apa-apa. Aku tidak marah kepada Tuhan. Aku diberikan nenek, adik, matahari, udara, air -yang mungkin sering tidak bersahabat denganku karena sering membuatku kedinginan-, langkah kaki yang indah, senyuman, kadang usapan hangat dari beberapa orang yang lewat disekitarku. Tuhan menyayangiku. Kalian juga kan? Sebab Tuhan juga menyayangi nenek dan adikku.
Insipred by: Lakhan.
Selasa, 15 Oktober 2013
Selamat kecewa...
Ketika lo merasa dikecewakan orang lain, kemudian lo mengutuk orang itu. Bahkan kadang lo menyalahkan diri sendiri karena selalu dikecewakan berulang-ulang dan dalam sedalam-dalamnya. Benci pada orang yang mengecewakan dan kepada diri sendiri yang merasa bodoh.
Coba merenung lagi, niscaya lo akan ngerasa lebih kecewa sama diri lo. Saat lo mendapati bahwa lo belum dapat membahagiakan orang-orang yang dengan sekuat tenaga memberikan kebahagiaan buat lo, berdoa buat lo dan ada buat lo. Seperti: orangtua, adik/kakak, keluarga dan teman2. Tundukkan kepala lo, bukan untuk bersedih karena dikecewakan. Tapi tundukkan kepala lo karena lo malu belum bisa membahagiakan mereka. Dan sekarang, angkat kepala lo dan lihat mereka mau memeluk lo dalam keadaan yang bagaimanapun dan apa adanya. Selamat! Lo harus menyadari, lebih banyak orang yang mau membuat dan dibuat bahagia. Maju dan injak setiap bayangan hitam yang bikin lo kecewa.
Ingat! Bayangan itu bergerak sesuai dengan gerakan lo, bukan lo yang digerakkan bayangan. :)
Yoroshiku,
Tri Niasih Ati
Sabtu, 27 Juli 2013
Cukuplah bagiku
Cukuplah bagiku Alloh...
Aku masih terisak dan tersiksa. Sampai aku tertidur dan kemudian terbangun oleh rasa sakit yang menyesakkan.
Pikiran buruk macam apa ini! Tidak juga tersudahi rasa sakit yang merejang kegembiraan.
I'm not that important.
Lelehan air hangat terus mengalir biarpun bola matanya sudah memprotes rasa perih dan kelopaknya sudah menebal.
Dalam kubikel kecil yang disebut kamar dan dalam kungkungan persegi panjang empuk bernama kasur, aku merasakan sebuah dunia hampa udara. Sesak.
I'm not that important.
Dunia ini terlalu besarkah untuk seorang yang meringkuk dikamar tanpa terpikirkan perasaannya? Atau terlalu banyak orang hebatkah sehingga tidak ada keistimewaan yang bisa kuselipkan mengenai namaku?
Mungkin sejarah teralu panjang untuk kukutipkan sepenggal ceritaku. Mungkin juga masa depan terlalu jauh untuk kejar dengan lari. Atau mungkin tidak ada tempat untuk orang yang sedikit iri hati ini?
I'm not that Important.
Aku kemudian keluar. Melihat sebuah kotak elektronik yang dapat menayangkan gambar bergerak dan bersuara.
Seseorang dengan sebuah alat yang didorongnya. Bentuknya seperti gerobak. Tapi itu alat bantu berjalannya. Kedua kakinya tidak menapak sempurna. Sebelah kanan membengkok kekiri, begitu juga sebaliknya.
Dia berjalan tertatih. Sulit sekali sepertinya.
Kepalanya terangguk-angguk tak tentu. Tanpa dia sengaja pastinya. Setiap dia bicara, perlu energi besar untuk mengeluarkan kata-kata agar jelas didengar. Tak jarang, dia harus mengulangi kalimat itu karena lawan bicaranya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia tidak cacat. Hanya saja dia tidak sepertiku. Setelah selesai bercakap dengan dengan lawan bicaranya, dia mengucapkan hamdalah dan salam tanda dia berpamitan.
Rasanya...
Aku seperti orang yang tidak tahu berterimakasih.
Cukuplah bagiku Engkau, Ya Alloh...
Aku masih terisak dan tersiksa. Sampai aku tertidur dan kemudian terbangun oleh rasa sakit yang menyesakkan.
Pikiran buruk macam apa ini! Tidak juga tersudahi rasa sakit yang merejang kegembiraan.
I'm not that important.
Lelehan air hangat terus mengalir biarpun bola matanya sudah memprotes rasa perih dan kelopaknya sudah menebal.
Dalam kubikel kecil yang disebut kamar dan dalam kungkungan persegi panjang empuk bernama kasur, aku merasakan sebuah dunia hampa udara. Sesak.
I'm not that important.
Dunia ini terlalu besarkah untuk seorang yang meringkuk dikamar tanpa terpikirkan perasaannya? Atau terlalu banyak orang hebatkah sehingga tidak ada keistimewaan yang bisa kuselipkan mengenai namaku?
Mungkin sejarah teralu panjang untuk kukutipkan sepenggal ceritaku. Mungkin juga masa depan terlalu jauh untuk kejar dengan lari. Atau mungkin tidak ada tempat untuk orang yang sedikit iri hati ini?
I'm not that Important.
Aku kemudian keluar. Melihat sebuah kotak elektronik yang dapat menayangkan gambar bergerak dan bersuara.
Seseorang dengan sebuah alat yang didorongnya. Bentuknya seperti gerobak. Tapi itu alat bantu berjalannya. Kedua kakinya tidak menapak sempurna. Sebelah kanan membengkok kekiri, begitu juga sebaliknya.
Dia berjalan tertatih. Sulit sekali sepertinya.
Kepalanya terangguk-angguk tak tentu. Tanpa dia sengaja pastinya. Setiap dia bicara, perlu energi besar untuk mengeluarkan kata-kata agar jelas didengar. Tak jarang, dia harus mengulangi kalimat itu karena lawan bicaranya tidak mengerti apa yang dia maksud. Dia tidak cacat. Hanya saja dia tidak sepertiku. Setelah selesai bercakap dengan dengan lawan bicaranya, dia mengucapkan hamdalah dan salam tanda dia berpamitan.
Rasanya...
Aku seperti orang yang tidak tahu berterimakasih.
Cukuplah bagiku Engkau, Ya Alloh...
Lelaki yang belum pernah kutemui
Dia, adalah lelaki yang belum pernah kutemui. Banyak sudah cerita yang kudengar tentangnya.
Dia, adalah lelaki yang belum pernah kutemui. Tapi aku rasa, aku sangat menyukainya.
Dia, adalah lelaki yang sama sekali belum pernah kuketahui, tapi mengapa hatiku bisa terpaut padanya?
Dia, adalah lelaki yang telah beristri...
Begitu kecewanya aku dengan keadaan yang merundungku oleh sekitarku. Serasa tidak adil atas apa yang telah kulakukan. Apa aku pantas mendapatkan ini? Oh, tidak! Jangan bilang iya! Aku tidak pernah melakukan hal ini kepada orang lain. Tapi mengapa aku tidak mendapatkan perlakuan yang baik? Ya setidaknya setara atas apa yang aku lakukan kepada orang itu. Marah, kecewa dan sedih memuncak hingga membuat mataku basah dan tenggorokanku berat hanya untuk sekedar menelan ludah.
Aku ingin menari hingga kakiku terluka, Aku ingin berteriak hingga suaraku habis, aku ingin menangis hingga air mataku kering. Tapi aku hanya menatap nanar keatas langit sambil menggigit pilu.
Sampai pada sebuah cerita tentang seorang lelaki yang membuatku terpaut hati.
Diceritakanlah oleh seseorang, bahwa ada seorang lelaki begitu berani, kuat dan tangguh. Betapa tidak dalam pikiranku terbesit dia adalah orang yang menyeramkan dan menebar ngeri bagi musuhnya. Ya! Itu memang benar!
Suatu ketika, sebelum lelaki itu meninggal, lelaki itu membuat wasiat kepada sahabatnya untuk melakukan suatu kebiasaannya. Lelaki itu meminta sahabatnya untuk memberi makan seorang pengemis tua di ujung pasar. Tidak hanya sekedar memberikannya makan, tapi juga harus menyuapinya. Karena pengemis itu begitu tua dan buta.
Sesampainya di tempat yang telah diwasiatkan oleh lelaki itu, sahabatnya kemudian duduk di sebelah pengemis tua itu. Pengemis tua itu terus berteriak. Dari mulutnya keluar kalimat-kalimat kasar yang tidak pantas didengar. Kalimat-kalimat provokatif yang sungguh membuat hati ingin memukulnya.
Setelah beberapa suapan, pengemis itu menghentikan makan dan "orasi"nya. Pengemis itu memegang tangan yang menyuapinya sedari tadi.
"Tunggu sebentar. Kau bukan orang yang yang biasa menyuapiku. Siapa kamu?" Tanya pengemis tua itu.
"Tidak. Aku adalah orang yang biasa menyuapimu, Pak." Kata orang itu.
"Jangan mencoba menipuku! Aku memang buta. Tapi aku tidak mati rasa." Bantah pengemis itu.
"Darimana kau tahu aku bukanlah yang biasa menyuapimu, Pak tua?" Tanya orang itu.
"Orang yang biasa menyuapiku bertangan lembut. Dia biasa menyuapiku perlahan dengan makanan yang halus dan sentuhan yang tidak kasar." Lalu terdengar suara tangis yang tertahan dari sisi sang pengemis itu.
"Mengapa kau menangis? Dimana orang yang biasa menyuapiku? Siapa orang itu?" Tanya pengemis itu agak memaksa.
"Orang itu adalah Muhammad. Orang yang selama ini kau teriaki sebagai pembohong besar dan ahli sihir. Beliau sudah tiada. Dan beliau yang memerintahkanku untuk tetap menyuapimu, Pak Tua..." Desir padang pasir lebih nyata dibanding riuhnya lalulalang orang sekitar mereka.
Sebuah tangis pecah dan pertobatan terwujud...
Muhammad... Seorang lelaki yang kuat namun lembut. Seorang lelaki yang tidak menuntut apa yang telah dia perbuat kepada orang lain agar berlaku sama pada dirinya.
Muhammad... Seorang lelaki yang begitu ditakuti sekaligus begitu dikagumi.
Muhammad... Seorang lelaki yang belum pernah kutemui, tapi mengapa aku bisa terpaut hati?
Dia, adalah lelaki yang belum pernah kutemui. Tapi aku rasa, aku sangat menyukainya.
Dia, adalah lelaki yang sama sekali belum pernah kuketahui, tapi mengapa hatiku bisa terpaut padanya?
Dia, adalah lelaki yang telah beristri...
Begitu kecewanya aku dengan keadaan yang merundungku oleh sekitarku. Serasa tidak adil atas apa yang telah kulakukan. Apa aku pantas mendapatkan ini? Oh, tidak! Jangan bilang iya! Aku tidak pernah melakukan hal ini kepada orang lain. Tapi mengapa aku tidak mendapatkan perlakuan yang baik? Ya setidaknya setara atas apa yang aku lakukan kepada orang itu. Marah, kecewa dan sedih memuncak hingga membuat mataku basah dan tenggorokanku berat hanya untuk sekedar menelan ludah.
Aku ingin menari hingga kakiku terluka, Aku ingin berteriak hingga suaraku habis, aku ingin menangis hingga air mataku kering. Tapi aku hanya menatap nanar keatas langit sambil menggigit pilu.
Sampai pada sebuah cerita tentang seorang lelaki yang membuatku terpaut hati.
Diceritakanlah oleh seseorang, bahwa ada seorang lelaki begitu berani, kuat dan tangguh. Betapa tidak dalam pikiranku terbesit dia adalah orang yang menyeramkan dan menebar ngeri bagi musuhnya. Ya! Itu memang benar!
Suatu ketika, sebelum lelaki itu meninggal, lelaki itu membuat wasiat kepada sahabatnya untuk melakukan suatu kebiasaannya. Lelaki itu meminta sahabatnya untuk memberi makan seorang pengemis tua di ujung pasar. Tidak hanya sekedar memberikannya makan, tapi juga harus menyuapinya. Karena pengemis itu begitu tua dan buta.
Sesampainya di tempat yang telah diwasiatkan oleh lelaki itu, sahabatnya kemudian duduk di sebelah pengemis tua itu. Pengemis tua itu terus berteriak. Dari mulutnya keluar kalimat-kalimat kasar yang tidak pantas didengar. Kalimat-kalimat provokatif yang sungguh membuat hati ingin memukulnya.
Setelah beberapa suapan, pengemis itu menghentikan makan dan "orasi"nya. Pengemis itu memegang tangan yang menyuapinya sedari tadi.
"Tunggu sebentar. Kau bukan orang yang yang biasa menyuapiku. Siapa kamu?" Tanya pengemis tua itu.
"Tidak. Aku adalah orang yang biasa menyuapimu, Pak." Kata orang itu.
"Jangan mencoba menipuku! Aku memang buta. Tapi aku tidak mati rasa." Bantah pengemis itu.
"Darimana kau tahu aku bukanlah yang biasa menyuapimu, Pak tua?" Tanya orang itu.
"Orang yang biasa menyuapiku bertangan lembut. Dia biasa menyuapiku perlahan dengan makanan yang halus dan sentuhan yang tidak kasar." Lalu terdengar suara tangis yang tertahan dari sisi sang pengemis itu.
"Mengapa kau menangis? Dimana orang yang biasa menyuapiku? Siapa orang itu?" Tanya pengemis itu agak memaksa.
"Orang itu adalah Muhammad. Orang yang selama ini kau teriaki sebagai pembohong besar dan ahli sihir. Beliau sudah tiada. Dan beliau yang memerintahkanku untuk tetap menyuapimu, Pak Tua..." Desir padang pasir lebih nyata dibanding riuhnya lalulalang orang sekitar mereka.
Sebuah tangis pecah dan pertobatan terwujud...
Muhammad... Seorang lelaki yang kuat namun lembut. Seorang lelaki yang tidak menuntut apa yang telah dia perbuat kepada orang lain agar berlaku sama pada dirinya.
Muhammad... Seorang lelaki yang begitu ditakuti sekaligus begitu dikagumi.
Muhammad... Seorang lelaki yang belum pernah kutemui, tapi mengapa aku bisa terpaut hati?
Rabu, 05 Juni 2013
Terakhir
Dapatkah aku memelukmu untuk terakhir kali?
Terakhir kalinya merasakan nyamannya hatimu.
Terakhir kali merasakan sejuknya jiwamu.
Terakhir kalinya mendapatkan apa yang biasa aku dapatkan, yang kini akan hilang...
When you're gone...
Terakhir kalinya merasakan nyamannya hatimu.
Terakhir kali merasakan sejuknya jiwamu.
Terakhir kalinya mendapatkan apa yang biasa aku dapatkan, yang kini akan hilang...
When you're gone...
Minggu, 12 Mei 2013
Suatu hari untuk suatu hal
Suatu hari, akan ku katakan suatu hal. Hal yang sangat penting. Hari itu akan segera datang. Hari dimana aku akan mengatakannya dengan sangat serius dan bersungguh-sungguh. Suatu hal dimana saat ini aku masih mempersiapkan diri dan mental untuk mengatakannya. Suatu hal yang sangat tidak ingin ku katakan. Suatu hal dimana masih ku latih dalam rasa yang disebut ikhlas. Suatu hal mengenai kerelaan. Suatu hal yang mungkin harus kuterima atau ku pertarungkan. Suatu hal yang bahkan sangat tidak ingin kutanyakan atau kunyatakan. Tapi, suatu hari, aku akan mengatakan suatu hal itu. Tentang keadaan di ujung tanduk. Tentang kita. Suatu hal, yang masih ku persiapkan kesiapannya untuk dirasakan.
Bekasi, 12 Mei 2013. 21:34 WIB.
Langganan:
Postingan (Atom)

