Minggu, 24 Juni 2012

Ah! Hanya dunia!


Aku berdiri di dekat jendela dilantai 3 ini. Setahun yang lalu aku berdiri didekat jendela kaca dari lantai 5 dan memandangi orang2 yang lalulalang dibawah seperti tidak punya masalah. Sedang aku berdiri disini, diseberang mereka. Menatap dan mengamati gerak-gerik mereka. Mereka tidak tahu. Mungkin tidak pernah mau tahu. Masalah yang dialami orang lain dan menghakimi kesalahan yang diperbuat orang lain, mendengarkan terlalu banyak perkataan media tak jarang pula ikut bersimpati. Ah! Dunia ini memang penuh kebohongan.
Aku masih menatap mereka dari jendela kaca di lantai 3 ini. Dimana setahun lalu diwaktu yang sama aku berada di lantai 5 namun di tempat dan keadaan yang berbeda. Aku memandangi ada seorang ibu membawa rantang makanan sambil menuntun anaknya memasuki gedung ini. Siapa yang ingin ditemui ibu dan anak kecil itu? Miris dan sungguh setia. Ah! Lagi-lagi dunia. Tidak tahu mengapa orang-orang sebaik mereka bisa datang ketempat ini. Kemudian ada beberapa wartawan dari media sedang berkumpul didepan pintu gerbang.  Identitas mereka terlihat jelas meski dari kejauhan dari peralatan yang mereka bawa. Pakaian seragam tempat bekerja, kamera, mikrofon, name tag, dan buku kecil serta ballpoint kecil disaku mereka. Mungkin akan ada yang mau masuk lagi ke gedung jahanam ini. Ah! Dunia! Siapa penghuni baru disini? Seberapa tenar dan pentingkah orang itu?
Tiba-tiba punggungku ada yang menyentuh sehingga membuyarkan lamunanku, lamunan dipinggir jendela kaca lantai 3 ini.
“Hei! Kerja yang benar! Jangan melamun terus! Sekarang saatnya makan. Istirahat sana!” Wanita berbadan tegap dan besar itu sedikit membentakku lalu menyuruhku untuk pergi ke ruang makan.
“iya, Bu.” Kataku sambil membungkuk.
Lalu temanku merangkul bahuku sambil menenangkanku.
“Kamu dimarahi lagi ya sama Si Mira itu? Ah! Sudah jangan diambil hati. Dia memang terkenal sebagai sipir tergalak disini. Ayo mari makan.” Lalu kami menuju tempat makan dan duduk berdekatan.
“Bagaimana keadaan anakmu?” Tanya temanku.
“oh, semoga dia baik-baik saja. Dia tinggal bersama tantenya.” Dalam hati aku sambil mengaminkan perkataanku tadi kepada temanku. Selama ini bila aku menanyakan keadaan anakku kepada adik iparku itu, dia selalu menjawab baik2 saja. Namun beberapa minggu ini ada yang mengganggu pikiranku. Tetanggaku datang menjengukku dan berkata bahwa dia pernah sesekali lewat rumah adik iparku itu dan melihat anakku sedang dipukuli dengan sapu sambil menyuruhnya mencuci baju. Hatiku teriris. Anakku baru kelas 3 SD sekarang. Disaat aku butuh bantuan, mengapa semua musti terjadi. Bahkan dari keluarga dekat sekalipun. Ah! Dunia!
“Tenang, aku yakin persidanganmu lancar dan kamu bisa bebas dari tempat laknat ini. Kamu tidak bersalah.” Kata temanku menguatkan.
“Amin.” Jawabku singkat. Masih terbayang si Upik anak ku yang masih kecil dan lucu itu. Miris sekali. Berkali-kali aku menjelaskan bahwa aku hanya membela diri dan tidak pernah sengaja melakukan hal itu, tapi dunia tidak percaya. Aku hanya seorang ibu yang hendak mempertahankan kesucian cintanya kepada almarhum suaminya yang hendak direnggut oleh atasannya sendiri diruang kantor yang sepi dimalam hari. Ruang kantor lantai 5. Aku hanya mencoba menjauhkan tubuhnya dariku. Jijik! Aku jijik membayangkannya. Rupanya aku terlalu keras mendorongnya sehingga dia terjengkang ke jendela yang terbuka itu. Dia jatuh! Ya! Jatuh! Dia mati. Biarlah dia mampus! Aku hina mengingatnya lagi. Tapi apa yang terjadi? Aku dituduh telah merencanakan hal ini. Karena aku dianggap menyimpan dendam terhadapnya, sering sakit hati karena dimarahi olehnya, gaji yang tidak sepadan dengan pekerjaan ataupun hal ini itu sampai aku dibilang wanita pelacur yang minta dijadikan istri muda dan dia menolak. Ah! Dunia! Berapa kali aku harus mengeluh tentangmu, dunia? Ah! Dunia ini hanya dunia. Dan aku percaya setiap keajaiban-Mu, Tuhan. Karena dunia ini hanya sebuah dunia. Setiap peristiwa pasti akan ada ujung dan tujuannya. Aku hanya percaya pada-Mu, Tuhan. Karena aku tidak percaya lagi pada dunia. Oh! Dunia! Ah! Hanya sebuah dunia!



Oleh: Tri Niasih Ati :)

Tidak perlu tahu


Andri datang kerumah Mita seusai pulang kerja. Dia membopong sesuatu yang besar dengan tangannya. Dilingkarkan tangannya namun jejarinya tidak dapat saling bersentuhan dan dia perlu beberapa kali memiringkan barang tersebut agar dia dapat melihat jalan didepannya. Besarnya barang tersebut membuat wajah Andri tidak terlihat. Mita keluar dan agak terkejut satu set bed cover berjalan kearahnya dan terhenti tepat didepan pintu rumah.
"Eh! Apaan nih, Ndri?" Tanya Mita pada Andri. Mita tahu itu Andri dari motor yang terparkir didepan pagar rumahnya. Itu milik Andri, Sahabatnya.
"Panci buat bikin presto. Ya, Bed Cover laaah, Mitaaa. Cakep-cakep tapi oneng." Cibir Andri yang masih sibuk menaikkan bed cover yang melorot dari pelukannya.
"Gue tau ini bed cover. Tapi buat apaan? Mau ngekos disini lo? Sorry kagak terima cowok kecuali yang cakep." Jawab Mita
"Udah ah! Minggir dulu! Gue mau masuk. Berat nih!" Lalu Andri mendorong Mita sehingga Mita terpaksa minggir dari bibir pintu.
"Perasaan yang punya rumah gue deh. Kenapa gue yang diusir? Sekarang udah nggak jaman Pria menjajah wanita!" Kata Mita sambil mengikuti arah langkah Andri dan duduk disebelahnya.
"Kompeni kali jajah menjajah! Udah, ayo bantuin gue bungkus ini." Kata Andri sambil duduk dan meletakkan bed cover yang sedari tadi digendongnya.
"Buat apaan sih, Ndri?" Tanya Mita mulai kesal dengan pertanyaan yang sama tapi tidak juga mendapat jawaban.
"Buat dipaketin" KAta Andri singkat sambil mengeluarkan kertas kado dari tas ranselnya.
"Lo punya usaha sampingan yak?" Tanya Mita bingung.
"Usaha apaan?" Jawab Andri masih sibuk dengan bed covernya.
"Ya jadi tukang maketin barang." Jawab Mita sambil memperhatikan gerakan tangan Andri yang sibuk menjamah bed cover itu.
"Ta, pinjem selotip sama gunting dong" Andri kemudian menoleh kearah Mita. Muka Mita mendadak sebal. Bibirnya mencang-mencong menandakan ketidaksukaannya. Mita lalu bangkit kemudian tak lama datang kembali dengan gunting dan selotip pesanan Andri.
"Buat apa dan buat siapa sih, Ndri?" Tanya Mita sambil memberikan gunting dan selotip pada Andri.
"Pegang ini deh, Ta. Tolong." JAwab Andri sambil memegang bungkus kado dan menyodorkan gunting pada Mita.
"Andriiii!!!! Pertanyaan gue nggak dijawab deh!" Kata Mita mulai kesal.
"Ya buat dipaketin, Mita. Nih, Gunting sebelah sini." KAta Andri sambil menunjuk kertas kado yang setengahnya sudah dia pasang rapi ke setengah bed cover tersebut.
"Andri! Gue bunuh diri nih kalo lo ngga jawab pertanyaan gue!" KAta Mita sambil mengambil gunting dan mendekatkan pada lehernya.
"Mita! Yang bener aja lo! Masa mau bunuh diri pake gagang gunting??? Kebalik tuh!" Kata Andri kemudian membetulkan posisi gunting tersebut yang ada dipegangan Mita.
"Andriiii!" Lalu Mita mencubit dan menggelitiki Andri sekenanya. Tawa pun tergelak di ruangan itu.
"Hahahaaa Kalo lo mau bunuh diri, jangan depan gue ya, Ta. Nanti lo malah ngga selamat. Udah ah! Ayo bantuin gue bungkus ini." Kata Andri menyudahi becandaan itu dan kembali sibuk dengan bed covernya.
"Abisnya gue sebel! PErtanyaan gue nggak dijawab-jawab!" Kata Mita kemudian ikut menjamah benda besar itu.
"Ntar kalo mau wawancara ya, Mbak. Saya sibuk." JAwab Andri sambil mengangkat kelima jari kirinya ke hadapan Mita.
"Sok seleb!" Kata Mita kemudian ikut asik menyelimuti benda tersebut dengan kertas kado berwarna hijau.
Setelah setengah jam berkutat dengan benda besar berwarna hijau itu, akhirnya Andri dan Mita menyandarkan dirinya ketembok. Dipandanginya hasil kerja mereka yang penuh tembel sana-sini.
"Jelek banget, Ndri. Nggak bakat lo jadi tukang maketin barang." Kata Mita sambil membolak-balik bed cover hasil kerja keras mereka.
"Lebih parahnya, lo sebagai cewek bukannya ngebenerin kerjaan gue, malah salah ngegunting miring-miring kayak poni ababil" KAta Andri sambil menyibak rambut Mita.
"Ah! Apaan sih lo!" Kata Mita sebal rambutnya berantakan.
"Eh, Lo belom mandi ya, Ta? Ampun deh! Gimana mau dapet cowok lo? Minimal, muka lo tuh dibenerin!" Kata Andri sambil melongok melihat wajah Mita.
"Mumpung libur, Ndri. Lagian, hemat air kali. Dalam rangka mencegah global warming." Kata Mita membantah.
"Ta, kalo lo mandi bakalan banyak cowok yang suka sama lo." Kata Andri
"Ngaruhnya apa?" Tanya Mita
"Ya lo cakepan dikitlah. Minimal wangi." Jawab Andri.
"Nah, kan! Nanti kalo gue mandi, bakalan terjadi Gombal Warning kayak barusan." Jawab Mita.
"Aahahhaa" Andri kemudian tertawa dan mengacak-acak rambut Mita.
"Andriiii! Lepasin ah!" Kata Mita menyingkirkan tangan Andri dari kepalanya.
"Buruan mandi sana! Anterin gue yuk. Gue mau kirim ini lewat jasa pengiriman paket." Kata Andri meminta pada Mita.
"Ngapain pake mandi? Hayuk ajalah kita berangkat sekarang." Jawab Mita.
"Etdah! Kali aja ada cowok siwer bilang lo cakep karena lo wangi. Jadinya lo bisa boongin dia buat jadi cowok lo." Kata Andri sambil mendorong-dorong bahu Mita.
"Au ah!" Kata Mita yang akhirnya beranjak dari tempat duduknya.
"Nah gitu donk. Kan kalo lo punya cowok enak. Gue kagak perlu khawatir lo nyasar2 atau kelaperan dimana gitu. Jadinya gue gak perlu jemput lo." KAta Andri sambil tersenyum melihat Mita berdiri.
"Kagak ikhlas lo ya? Lagian, gue kagak butuh cowok!" Kata Mita menoleh kepada Andri dan kemudian berjalan menuju kamar mandi. "Lagian gue gak butuh cowok selama ada lo, Ndri..." Mita berbicara lirih membelakangi ANdri.
Kemudian mereka menuju tempat jasa pengiriman paket dengan menggunakan motor Andri. Gerimis pun mulai membasahi kota Bekasi. Andri mempercepat laju motornya untuk segera mencapai tujuan agar hasil karyanya tidak rusak oleh hujan. Sesampainya disana, Andri menulis di secarik kertas nama pengirim dan  alamat yang akan dikirimkan.
"Eh eh, bentar! Kok nama pengirimnya gue sih? Kan lo yang mau ngirim." Mita terkejut ketika Andri memasukkan namanya sebagai pengirim. Lalu Andri tersenyum dan menunjukkan kepada siapa benda itu dikirim.
"Ratih? Ini buat Ratih? Kok?" Mita tambah bingung.
"Iya, Ta. Maaf gue pake nama lo. Ini buat Ratih, seminggu yang lalu dia nikah." Kata Andri kemudian tersenyum lagi, namun matanya sayu.
"Apa??? Ratih nikah??? Kok bisa??? Lo kan... Dia kan..." Mita sulit berkata-kata
"Please ya, Ta. Boleh kan gue pinjem nama lo. Gue gak mau Ratih tau gue yang kirim ini." Kata Andri melembut.
"Tapi kenapa ngga nama lo aja?" Tanya Mita kepada Andri.
"Lo tau kan perasaan kami berdua gimana. Tapi ya kami ngga bisa aja bersatu. Please ya, Ta. Jangan tanya apa-apa lagi. Gue seneng kok kalo dia bahagia." Kata Andri kemudian pergi membayar tagihan pengiriman tersebut.
Tak berapa lama kemudian Andri kembali pada Mita. Kemudian Andri mengantar Mita pulang. Hujan makin deras mengguyur Bekasi pada sore itu. Sesampainya dirumah Mita, mereka duduk di ruang tamu. Mita pergi ke dapur dan menyeduhkan 2 gelas teh manis hangat dan kembali pada Andri sembari memberi Andri handuk untuk mengeringkan kepalanya. Mita kembali duduk disebelah Andri.
"Kenapa lo ngga cerita, Ndri?" tanya Mita kepada Andri dengan sedikit lirih. Andri hanya tersenyum tanpa menjawab apa-apa.
"Jadi, cuma buat ini lo pulang cepet dari kerjaan lo? Ujan-ujan kerumah gue dan..." Mita tidak melanjutkan perkataannya karena kemudian Andri menoleh padanya. Wajahnya terlalu sendu untuk dipandang. Mita tidak tahu harus bagaimana. Entah mengapa Mita juga merasakan sakit yang dirasakan Andri. Tidak tahu mengapa. Perih sekali rasanya melihat Andri seperti itu. Marah dan sedih menjadi satu.
"Ta, bantuin gue ya. Bantuin gue lupain Ratih. Bantuin gue, Ta." Andri pun menunduk. Mita tidak tahu harus berbuat apa. Mita hanya dapat mengelus-elus bahu Andri dan menggenggam tangannya tanda peduli.
"Cukup gue yang tahu rasa sayang gue sama Ratih kayak gimana, Ta. Bahkan Ratih pun gak perlu tahu. Gue ikhlas. Gue pengen dia bahagia. Makasih, Ta. Makasih... Maafin gue udah ngerepotin lo." Lalu Andripun menyandarkan kelapanya di pundak Mita.
"Iya, Ndri. Gue ngerti perasaan lo..." Kata Mita merangkul Andri."Dan lo juga gak perlu tahu kalo gue sayang sama lo, karena gue ikhlas sayang sama lo. Gak perlu pamrih atau balas..." Mita berkata dalam hati. Dan hujan melarutkan keheningan dua orang sahabat yang memiliki perasaan yang sama dalam keadaan yang berbeda. 



Oleh: Tri Niasih Ati :)

Rabu, 09 November 2011

Me and I (part I)

    Nama saya Tri Niasih Ati. Nama Panggilan saya, -aarrrgghhh resmi banget! Oke, gini aja yah. Make it simple! (Uhuuuy!) Nama lengkap gue Tri Niasih Ati, dan pasti terlintas dipikiran kalo gue itu anak ketiga. Itu salah! Tapi jangan sedih, itu semua bukan salah pembaca. Ini semua salah petugas kelurahan yang salah ketik, tepatnya salah SPASI. Nama gue seharusnya Trini Asih Ati. Itu nama pemberian almarhum mbah gue. Katanya sih artinya, Trini itu artinya menerima (Kalo cowok, Trimo) -Thank God I'm a girl-, sedangkan Asih itu mengasihi dan Ati itu ya Hati. Jadi, kalo arti lengkapnya KATANYA Menerima dan senang mengasihi juga menyenangkan hati. Amiiin. Gue anak pertama dari dua bersaudara. Adik gue cowok, namanya Mohammad Saipulung. FYI: dia itu tingginya 182 cm. Dia itu ADIK gue ya, sedang gue tingginya cuma 155cm -___-". Gue lahir tanggal 9 Juli 1988 di Boyolali, kota eh kabupaten yang sangaaat asri sekarang berubah jadi lahan gundul. Huhuhuuu mesakke ik!
Riwayat pendidikan gue, gue pernah sekolah di SDN Mustika Jaya II. Dulu ini katanya SD impres. Dengan pohon sengon super besar yang akarnya muncul keluar tanah sampe bisa buat duduk-duduk anak SD. Katanya pohon itu umurnya udah ratusan tahun. Tapi gue belom pernah berniat cari inspirasi nomer buat dipasang *ehh???. Ini merupakan SD paling tua didaerah itu. Jaman dulu, banyak cerita horor beredar. Diantaranya tentang sumur tua di belakang sekolah. Kabarnya, dulu pernah ada nenek-nenek meninggal disitu. Makanya sumur itu ditutup pake papan. Ada juga yang bilang sumur itu suka minta tumbal barang siapa yang berani buka tutup papan sumur itu. Dan kabarnya, nenek-nenek itu suka muncul kalo menjelang maghrib di koridor sekolah. Entah siapa yang bikin berita itu. Tapi gue salut sama yang bikin berita itu soalnya dia udah dengan pasti berhasil bikin anak-anak pulang tepat waktu dan gak sembarang kelayaban di sekolah sampe maghrib. Pernah juga suatu siang, satu sekolah gempar gara-gara ada kambing terperosok kedalam sumur itu. Gak ada yang tau ya itu kenapa, dan desas-desus semakin kencang. Anak-anak SD yang masih polos itu memilih jalan muter pulang kerumah ketimbang ngelewatin sumur itu. Trus Beberapa tahun setelah gue lulus, SD gue masuk berita. Waow, keren! Tapi jangan sedih lagi. Masuk berita TV bukan karena apa-apa. Tapi karena SD gue termasuk salah satu dari SD yang membutuhkan dana di Kecamatan (yang waktu itu masih) Bantar Gebang. Infrastrukturnya menyedihkan. Dari jaman guru biologi gue masih SD, sampe ade gue lulus pun bentuknya masih begitu aja. Gak ada perbaikan. Mengenaskan... Tapi sekarang pembangunannya lebih baik. Udah ada 2 lantai malah. Miss you MJ II. (Note: MJ is for Mustika Jaya. Not for Marry Jane)
SMPN 2 Bekasi, waktu kelas 6 SD, gue pernah diajakin sama temen gue buat masuk sana. Sejujurnya, gue gak pernah tau itu sekolah dimana dan bagaimana. Gue maen iya-iyain aja. Waktu mendekati (yang waktu itu masih) EBTANAS, gue ngisi pilihan sekolah dengan pilihan itu. Sebenernya gue blank info sama sekali mengenai tuh sekolah. Tapi ya isi aja. Eh, temen gue yang ngajakin gue masuk sana malah bilang
"Sorry banget gue gak jadi masuk sana. Kata bokap gue sekolahnya jauh. Trus suka tawuran"
Tetooot... Lha pegimane??? Dia yang ngajak malah dia yang mundur. Begitu mendengar sekolah itu suka tawuran, gue gak mau mundur. Wah asik dong kalo suka tawuran Heheheee. Pas sekolah disana, nggak tuh. Mana suka tawuran? Damai... Di sekolah itu gue ikut ekskul pramuka. Aduh aduuuh... Emang dasar pramuka! Kocak-kocak banget sampe level alumni juga. Nah, tiap acara kemah disekolah, pas mau jurit malam, pasti muncul desas-desus horor juga. Pernah katanya, ada seorang kakak kelas menyamar jadi hantu di salah satu tempat di sekolah, pas paginya ada yang nanya,
" Kakak, semalem pasti ada yang nyamar di kelas 1.7 yaaa?" Senior langsung pada kaget, dan ada yang menjawab,
"Siapa? Perasaan yang nyamar cuma satu deh. Dan itu pun dikantin. Bukan di kelas 1.7" JENGJEEENG!!!
 Kelas 1.7 itu konon adalah kelas salah satu anak yang namanya kalo gak salah, Jawir. Katanya dia meninggal waktu tawuran dengan celurit yang masih menempel di punggungnya karena pas mau dicabut lawannya, yang kecabut cuma gagangnya. Hiiiyyy... OKE, NEXT!!! *nyalain semua lampu, biar terang. Nyalain musik biar gak sepi. Disana, gue punya temen-temen yang baik, asik dan lucu-lucu. Sahabat gue Meutya yang hidupnya penuh kekuatan dan kehebatan, Usni yang sekarang udah jadi seorang ibu, Ipul yang seru, Opik yang apa bae dah, Andrian yang... no comment, Immanuel yang dipanggil dengan "Noel", Adhit si ketua yang dulu pernah dipanggil Sinchan, Nugroho sang wakil ketua solmetnya adhit, Denni yang gak tau kabarnya, Faranita, Desti, Rani, Yuyun, dan banyaaak lagi yang gak bisa gue sebutin satu-satu. Pastinya ada cinta lokasi dalam organisasi. SMPN 2 Bekasi pernah ikut kuis TV yang dulu hits banget, namanya "SIAPA BERANI". Ya pasti tau lah, yang dikirim buat ikut kuis itu jelas banget yang punya kemampuan akademik hebat, gue juga ikut kok. Jangan sedih, gue ikut mendukung dari TV rumah. :)

SMAN 9 Bekasi, ini sekolah mewah (mepet sawah). Yap! Ini bukan bercandaan. Ini sebuah fakta. Sekolah yang sejuk. Soalnya ya kan deket sawah kaleee... Mungkin kalo praktek biologi mengenai anatomi kodok, kami bisa langsung mencarinya tanpa susah-susah. heheheee. Rencananya sih gue mau masuk sekolah favorit, tapi ya apa daya, otak tak sampai -__-". Waktu kelas satu, gue di tempatin dikelas 1.6. Kelas ini cukup ajaib. Dimana gue adalah satu-satunya cewek berjilbab. Hahahahaaa. Kelas 2, mulai penjurusan tuh. Gue masuk kelas XI IPA 2 (read: sebelas ipa dua). Katanya sih ini kelas yang sedikit beda. Gak tau bedanya dimana. Oh... Mungkin bedanya ya jumlah murid cowok kali ya, murid cowok dikelas ini cuma 13 orang dari 48 siswa. Kalo lagi maen bola, cadangannya cuma 2 orang. Itu juga kalo masuk semua. Kelas ini asik dan kompak. Masalah belajar, jangan tanya. Mereka (kelas ini) kumpulan anak-anak rajin baca buku dan suka rumus. Gue termasuk siswa blacklist di kelas ini. Waktu ujian matematika, cuma gue satu-satunya yang gak lulus biarpun udah ujian perbaikan 2 kali. Sampe-sampe gue disuruh tugas mandiri sama gurunya. Untungnya cuma suruh beli buku matematika terus di sumbangin ke perpus. Especially for me. Don't tell anyone. Gue takut banget sama guru satu ini, biarpun ramah dan baik, beliau pernah bikin nangis temen gue di kelas. Padahal temen gue ini pinter, cuma grogi aja waktu ngerjain soal di papan tulis. Jadi dia jawabnya lama. Sampe dibilang gak pantes masuk IPA. Apa kabar gue ya? Mungkin gue gak pantes SMA :(.Gue suka pelajaran biologi, menurut gue gurunya enak ngajarnya. Namanya Bu Tine. Pertama kali ulangan biologi, dengan santainya gue dateng agak siangan, mepet jam masuk. Pas masuk kekelas, gue liat anak-anak pada baca buku. Gue tanya kenapa pada baca buku, ternyata hari ini ulangan. Arrrghhh! Gue belom belajar sama sekali. Akhirnya dengan segera gue ambil buku biologi, tapi secepat itu juga bel masuk disertai dengan guru biologi yang menginjakkan kaki di kelas dengan sesegera mungkin siap membagikan soal. Sang guru berkata bahwa kelas akan di bagi 2 kloter, kloter pertama langsung ujian dan kloter kedua keluar kelas dan masuk setelah kloter pertama selesai. Sepenuh hati gue berdoa supaya gue mendapat kloter kedua.Semua orang harus mengetahui kalo Alloh itu Maha Penyayang, buktinya doa gue dikabulin. YEEEAAAH!!! Setidaknya gue bisa menunda keruntuhan nama baik gue karena nilai jelek di ulangan pertama biologi ini. Gue keluar bareng sama temen-temen lain yang di tunjuk barisannya sebagai kloter 2. Dengan wajah sendu, gue mau ikut nimbrung sama temen-temen gue yang keliatannya udah belajar dari jauh-jauh hari. Berharap mau mengasihani gue dengan bilang, "Bantuin gue ya, please. Belom belajar sama sekali nih" Dan akhirnya mereka belajar di depan gue, gue cuma bisa ngedengerin mereka. Saat kloter 2 pun masuk, gue gak sanggup memandang gurunya, gue duduk di tempat yang di tentukan dan ngerjain soal sesuai kemampuan. Lebih tepatnya sesuai kemampuan temen-temen gue yang pada ngajarin tadi. Seingetnya yang tadi dipelajarin, gue jawab soalnya. Sekalinya ada beberapa soal yang bikin bingung, gue jawab dengan bacaan bismillah. Waktu pun habis, jawaban langsung dikumpulkan dan diperiksa saat itu juga. Dan guru gue memberi selamat kepada beberapa orang yang mendapat nilai sempurna alias 10, jangan sedih ya. TERMASUK KE GUE! ahahahahaaa. Anak-anak kloter 2 mendadak menganggap gue sebagai the liar. Katanya belom belajar tapi dapet nilai 10. Tapi bener deh temen-temen, ini cuma kebetulan dan keberuntungan. Maap yaaa... Nah pas ulangan kedua, kejadiannya hampir persis kayak ulangan pertama. Bedanya, kali ini pasti gue dapet kloter pertama dengan otak belom diisi apa-apa. Tapi sekali lagi Alloh Maha Adil, gue lagi-lagi beruntung jadi kloter kedua. Pas gue bilang ke temen-temen gue kalo gue belom belajar, mereka pasti bilang "gak belajar tapi dapet nilai 10." ahahahaaa dan kami pun belajar kembali. Meskipun mereka kurang percaya kalo gue bener-bener  belom belajar sama sekali, mereka tetep mau ngajarin gue. Dan pastinya kebaikan mereka nggak gue sia-siain dengan mendapat nilai 10 lagi. Jangan sediiih =D
Seleksi untuk mengikuti olimpiade tingkat kota Bekasi pun tiba, gue mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta buat mewakili sekolah gue. Tentu aja gue pilih mata pelajaran biologi. Ya kalian harus bersedih sih, gue gak lolos untuk seleksi itu. Nah ada nih temen gue, namanya Nurita. Dia ikut dua seleksi, buat biologi sama buat fisika. Dan emang dasarnya dia pinter, dia lolos aja gitu dua-duanya. Pas minta pendapat gue, dia harus pilih salah satunya. Tentu aja gue bilang dia harus pilih fisika. Karena menurut gue, kemampuannya di fisika itu bagus. Dan dia akhirnya pilih itu. Selanjutnya gue denger kalo kloter biologi ada satu kursi kosong, yaitu yang ditinggalin sama si Nurita. akhirnya dengan iseng dan penuh keberanian, gue coba apply sebagai pengganti Nurita. Akhirnyaaa gue bisa ikut juga :D
Gue ikut bimbingan pelajaran buat olimpiade biologi seminggu dua kali. Dan musti bersedih, ulangan biologi gue menjelang olimpiade biologi, tetep dengan "nggak belajar"nya gue, gue malah dapat nilai DUA yang bertengger di kertas gue. Aseli, gue dijewer sama guru biologi gue didepan kelas. Aduh... Kontingen olimpiade malah begini. Apa kabar sekolah gue??? Temen-temen gue ketawa ngakak, sungguh teman-teman. Aku CINTA KALIAN! ahahahahaaa. Pas olimpiadenya, gue agak deg-degan juga sih. Keliatan semua pesertanya pada pinter-pinter. Dan pasti pinter lah. Mereka pasti emang orang pilihan dari sekolah. Gue, sebagai salah satu kontingen, ikut-ikutan pegang buku. Biar keliatan serius. Pas masuk kelas tempat ujian, gue dapet meja paling depan. NICE!!! Disaat orang-orang pada buka buku dan belajar serius, gue sama temen gue malah ngobrol dan makan sukro di kelas *krauskraus. Kalian tahu kan hasilnya apa? Yaaa jelas gak jadi juara. Hahahahaaa
Kelas 3, gue berhasil menempati kelas IPA pojok belakang. KAMI BUKAN BUANGAN! Mungkin kami memang bujangan. Hehehee Di kelas ini segala keajaiban terjadi, susah deh di ceritain. Next story yaaa...


Jangan sediiiih :)