Minggu, 15 Mei 2016

Surat untuk Yin IX

Yin, terimakasih untuk tetap mengikuti.

Yin, ada yang pernah bertanya padaku, "mengapa kamu suka mendaki gunung? Kepuasan apa yang didapat?"
Aku menjawab, bukan mengenai meraih puncaknya. Melainkan mengenai perjalanannya. Apapun bisa terjadi dalam perjalanannya. Susah, senang, sedih, puas maupun kecewa.

Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya benar, Yin. Itu hanya sebagian kecil dari alasan yang benar. Sebenarnya adalah ke gunung adalah pelarianku. Meskipun sesungguhnya di sana aku tidak benar-benar berlari. Malah sering berhenti. Heheheee

Aku tidak akan berhenti berlari. Aku bahkan tidak tahu kapan akan berhenti berlari. Aku hanya ingin memastikan, aku berhenti berlari karena alasan yang tepat.

Semoga selanjutnya, gunung bukanlah tempat untuk pelarian, tapi tempat untuk menambah kebahagiaan. Semoga...

Ohiya, Yin. Sekali lagi terimakasih tetap membaca. ;)

Sabtu, 14 Mei 2016

Surat untuk Yin VIII

Hello, Yin. Long time no see. Apa kabarnya kamu? Sudah lama sekali tidak ada kabar.

Yin, aku ada cerita nih. Dibaca yak.

"Di suatu kota yang perniagaannya baik, berbatasan langsung dengan desa yang hasil buminya melimpah dan berkualitas tinggi. Penduduk kedua daerah ini tidak semuanya bahagia. Mereka saling bersaing untuk membuat daerahnya lebih tinggi citranya daripada yang lain. Di sana hiduplah seorang badut lucu. Dia bisa melihat kebahagiaan ditengah kesulitan dan bisa membuat tawa ditengah kesedihan dan kemarahan. Dia sering dipanggil oleh warga dua daerah itu untuk menghibur mereka atau sanak saudara mereka yang sedang dalam kesedihan. Dengan kemampuannya, kesedihan jenis apapun dapat diubah menjadi senyum dan keadaan menjadi lebih baik dan lebih positif.

Suatu ketika, sepulangnya dari kota di tengah malam, setelah menciptakan lawakan dan tawa segar ditengah kesedihan mendalam dari seorang anak saudagar kaya, Sang Badut mendapatkan penghasilan yang cukup banyak. Dia berjalan sendiri menuju rumahnya. Entah kenapa dia tidak mau diantar oleh pengawal Sang Saudagar. Dia hanya sedang ingin sendiri, namun tanpa ingin menunjukkan suasana hatinya, Sang Badut bilang bahwa dia ingin pergi ke suatu tempat untuk melawak lagi.

Ditengah malam berjalan sendiri, Sang Badut melihat ke atas. Langitnya begitu indah. Bintang-bintangnya tidak terlalu banyak dan bulan benderang hampir bundar sempurna. Sang Badut menghentikan langkahnya sejenak. Sang Badut tersenyum. Tatapannya syahdu. Lalu dia berjalan beberapa langkah menuju reruntuhan tembok dan duduk bersandar di sana. Dia meluruskan kaki dan menghela nafas panjang kemudian menundukkan kepalanya. Tidak, dia tidak lelah. Tapi entah apa yang dia rasakan.

Perlahan, pipinya hangat dialiri air mata. Perlahan, dia menangis dan perlahan air matanya semakin deras.

Mungkin ini sebabnya ia ingin sendiri. Bahkan dia sendiri tak tahu bahwa dia akan menangis. Siapa yang tidak tertawa melihat tingkahnya? Badut paling tersohor di dua daerah. Tidak pernah melengkungkan bibirnya secara terbalik ke bawah, tidak pernah melepas senyum-tawa, tidak pernah ada duka di sorot matanya, akhirnya menangis sendirian setelah membentuk gelak tawa dari kesedihan orang lain.

Tangisnya semakin deras. Badannya semakin lemas. Riasannya luntur. Terlihatlah wajah aslinya. Matanya sayu, bibir tipisnya segaris, dan pipinya mengendur. Berjuta kesedihan dia tumpahkan malam itu. Tidak ada yang melihat dan tidak ada yang peduli. Namun dia tidak merasa menyakiti diri sendiri. Dia hanya ingin sendiri. Dia tetap manusia yang bisa menangis, kecewa dan tersakiti. Meskipun tidak ada yang ambil pusing.

Setelah puas menangis sendiri, Sang Badut merias wajahnya lagi dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Sang Badut siap bertopeng lagi. Sang Badut masih mencari, mencari orang yang dapat melihat wajah aslinya... Sampai kapanpun, dia takkan memperlihatkan wajah aslinya sampai ada yang percaya bahwa dia juga manusia."

Gimana, Yin? Jangan lupa komentarnya ya. Hubungi segera setelah baca ini yaaa... ;)

Sabtu, 09 April 2016

Photograph

Kamu masih memandangi pintu kaca besar di ruang keluarga, seperti biasanya, menungguku pulang. Hujan yang turun membawa firasat ke dalam hatimu yang memacu debaran jantung untuk berdetak lebih cepat. Tapi kamu tahu, aku selalu pulang dengan keadaan baik-baik saja.

Kamu selalu menggenggam erat masalah dan pedihku. Menelan bulat-bulat kecewaku. Juga bahagia dalam sunyi di dalam berita baikku.

Kamu juga diam ketika aku marah. Kamu menangis ketika aku tersakiti. Kamu bersyukur ketika aku bahagia. Cintamu sempurna.

Tapi aku sering pergi. Membuatmu sering menunggu sendiri. Berharap hujan turun ketika aku kegerahan atau aku ada di dalam ruangan. Setidaknya jika hujan datang, aku tidak sedang menangis. Karena salah satu tugas hujan adalah menyamarkan air mata.

Sebuah ciuman dan pelukan begitu hangat untuk penat. Kamu cintaku. Tapi aku sering pergi. Membuatmu sering menunggu sendiri. Berharap kesehatanmu membaik sehingga kamu bisa mengikutiku berkelana.

Kamu sering mendengarkan lagu favoritku, "Photograph" dari Ed Sheeran. Kamu tidak mengerti betul artinya. Tapi kamu merasakan cinta dalam lagu yang selalu aku dendangkan.

Aku pulang. Kali ini aku pulang. Maafkan aku membuatmu sering menunggu sendiri. Maafkan pula aku telah mendahuluimu pulang. Kini aku akan selalu di sisimu. Memelukmu sambil duduk bersama di ruang keluarga sambil memandangi pintu kaca besar, memandangi hujan. Aku yang sangat merindukan belaian tanganmu di rambutku. Aku mencintaimu. Kamu sempurna. Maafkan aku sering membuatmu menunggu. Kali ini aku pulang terlebih dahulu, tanpa memberitahu. Tapi kamu tahu, kita abadi di dalam foto. Waktu terhenti dan kenangan masa kecilku selalu mengusik tangismu untuk berganti senyuman.

Kamu sempurna. Jangan menangis lagi. Aku telah pulang. Aku mencintaimu, Mama...

"Loving can hurt, loving can hurt sometimes
But it's the only thing that I know
When it gets hard, you know it can get hard sometimes
It's the only thing that makes us feel alive

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Our hearts were never broken
And time's forever frozen, still

So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me close until our eyes meet
You won't ever be alone, wait for me to come home

Loving can heal, loving can mend your soul
And it's the only thing that I know
I swear it will get easier, remember that we're never repeating ya
And it's the only thing to take with us when we die

We keep this love in a photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Our hearts were never broken
And time's forever frozen, still

So you can keep me
Inside the pocket of your ripped jeans
Holding me close until our eyes meet
You won't ever be alone
And if you hurt me
That's okay baby, there'll be worse things
Inside these pages you just hold me
And I won?t ever let you go
Wait for me to come home
Wait for me to come home
Wait for me to come home
Wait for me to come home

You can keep me
Inside the necklace you bought when you were sixteen
Next to your heartbeat where I should be
Keep it deep within your soul
And if you hurt me
That's okay baby, there'll be worse things
Inside these pages you just hold me
And I won?t ever let you go

When I'm going, I will remember how you kissed me
Under the lamppost back on Sixth street
Hearing you whisper through the phone
Wait for me to come home" -Photograph_Ed Sheeran-

Rabu, 02 Maret 2016

Surat Untuk Yin VII

Yiiiin... Where have you been?

Yin, I miss you so.

Yin, kamu di mana? Gak ada kabarnya lagi. I need you, Yin. Yin, berat rasanya meninggalkan teman-teman kantor yg dulu. Yang lapar bersama, pulang malam bersama dan susah bersama. Aku akan cerita di surat berikutnya tentang lapar yang pernah melanda kami. Aku sedang tidak mood menceritakannya sekarang.

Yin, kapan kembali? Aku punya banyak hutang cerita kepadamu. Ohya, Yin. Sudah punya tambatan hati belum? Masa iya dari sekian banyak orang baru yang kamu kenal tidak ada yang kamu suka. Belum move on apa memang belum menemukan yang cocok? Ingat, Yin. Tidak ada orang yang dengan pasangannya itu benar-benar cocok. Setidaknya, kamu bersamanya itu tenang, tidak susah dan tidak disulitkan.
Hahahaaa aku sendiri saja belum dapat :p


Yin, kapan kembali? Aku mau bayar banyak hutang cerita. Termasuk cerita tentang kantor baru dan kantor lama.


Yin, pulang. Atau minimal balas suratkulah. Berkabarlah kita seperti biasa.

Yin, kabari begitu kamu sudah mendekat ke sini. Ada orang yang memaksakan menjadi akrab denganku. Aku tidak mengerti apakah orang itu mengerti arti dan batasan menjadi "teman dekat". Sepertinya aku sudah memberikan beberapa sinyal dari paling halus sampai paling to the point.
Entahlah. Yin, kalau kamu ada di sini, pasti kamu sudah bilang pada orang itu untuk tidak menggangguku lagi dengan ke-sok akrab-an dia. Dan pasti dengan mudah kamu tahu kalau aku tidak suka. Belum ada yang sebaik kamu dalam berfirasat dan pengertian, Yin.

So, I can't be moved from you. Where are you now? Call me when you need me. Lagu Charles Puth yang " Only One Call Away" itu buat kamu, Yin. Buat orang yang selalu ada.



Yin, pastikan kamu bahagia yes. I just wanna see you smile.


I miss you, Yin...

Surat untuk Yin VI

Yiiiin... Haaaiii! Kamu di mana sekarang? Tidak ada kabarnya.

Yin, aku gak nyangka akan sesedih ini untuk berpisah dari teman-teman kantor. Kamu tahu gak, Yin? Mereka itu menyebalkan! Tapiiiii super baik. Super lucu. Super perhatian. Super Solid. Super sadis. Pastinya mereka seperti keluarga baru. Yin, aku masa beneran sedih...

Satu kesedihan lagi, Yin. Aku punya teman. Sepertinya dia telah kehilangan sesuatu. Dia kehilangan dirinya yang dulu...


Yin, kamu di mana? :(

Senin, 22 Februari 2016

Surat Untuk Yin V

Hello, Yin... Gimana kabaranya?

Yin, aku abis ke Papandayan lagi lhooo... hihihiii
Yin, do you miss me? I do miss you, Yin...


Yin, please take me away from here!

Bosan, Yin... Bosan!

Yin, katanya airmata itu bagus ya buat kesehatan mata, kesehatan psikologis dan lain-lain ya? Tapi kayaknya aku lagi gak mau, Yin. Anyway, jangan datang dulu donk, Yin. Aku sedang tidak butuh dijenguk hahahaaa. Kamu merepotkan, Yin. Nanti aja datangnya pas dipanggil yah? Janji!


Yin, kamu di mana? Pasti sedang bahagia dengan orang-orang sekitar kamu. Selamat yah! Aku senang kalau kamu bahagia. Lanjutkan, Yin. Jangan lupa, Yin. Jangan jadi terlalu baik sama orang. Jangan sampai aku bilang kamu "bodoh" lagi yak? Hahahaaa.

Yin, kamu tahu aku akan punya pekerjaan baru kan? Baru kali ini aku bercerita tentang pekerjaan sama kamu. Biasanya aku bercerita tentang masalah hati hahahaaa... Eits, hati itu bisa masalah mood dan lain-lain ya kan? Aku cuma sudah jarang dengar dan lihat kabar kamu, Yin. Aku hanya ingin memastikan kamu sedang bahagia.


Yin, aku minta didoain boleh? Biasanya aku mau minta doa yang terbaik kan ya? Aku cuma minta kamu berdoa supaya aku bisa bertemu dengan kamu lagi. Kapan ya? Entah. Biar Tuhan saja yang atur. Gimana Okay?


Yasudah ya... Itu aja. Aku bingung, mau minta kamu jangan datang dulu atau datang biar aku bisa cerita semuanya?



Salam hangat,


Yang

Jumat, 12 Februari 2016

Surat Untuk Yin IV

Woi, Yin! Apa kabar? Sudah lama tidak berkabar.

Yin, kebosanan mulai berkurang nih. Tapi bukan berarti kesenangan juga bertambah. Jenuh sih, Yin. Tapi kayaknya udah mulai terbiasa aja.

Kamu gimana? Kelihatannya kamu baik-baik aja deh. Di akun jejaring sosial kamu keliatannya tambahh banyak temen. Baguslah. Jangan temenan sama orang yang itu-itu lagi. Nambah donk. Kayak sekarang. Sekarang makin banyak aja. Ohya, masa iya ga ada satupun yang bikin kamu tertarik? Yakin? Kamu masih straight kan? Hihihiii

Yin, masa ada orang yang berubah karena aku lho, Yin. Aku hebat apa gimana? Ehya, kamu pernah bilang sama aku kan kalau aku itu punya kemampuan memancing orang cerita masalah pribadi dia bahkan orang yang tertutup sekalipun. Kayaknya kamu benar deh. Aku baru sadar. Dari mulai abang gojek yang cerita tentang pengalaman mudanya suka naik gunung, atau ada abang gojek yang curhat masalah keuangannya dan keuangan perusahaannya (dia juga karyawan) terus ada juga kamu kan? Ya kan? Hihihiii ada banyak yang lain lagi lhooo... Dan kamu selalu berhasil menebak aku dengan "I already know you so well". Aku mah bisa apa atuh. Firasat kamu kuat, Yin. Salut aku.

Yin, gimana keadaan kamu? Masih suka bosan? Lama nian kita tidak berkabar. Aku cuma bisa memantau, tapi tidak bisa menjangkau.

Kamu masih boros gak? Atuh sholatnya dijaga yak. Udah ada yg ngingetin lagi dua hal itu gak? Kalo ga ada, masa iya aku harus cariin buat kamu. Kamu mah kan milih-milih. Tapi ga dipilih-pilihm mwahahahahahaaa peace 😛

Jangan ngambek yah. Kamu mah kadang suka sensitif. Etapi sensitifnya kamu itu yang membuat kamu mudah merasakan perasaan, mood dan membaca lawan bicara kamu dengan mudah. Sekali lagi salut!

Yin, hati-hati hujan. Awas jangan ingusan lagi! Hehehehee

Yin, kalau kamu rindu, aku ada di udara kok. Panggil saja lewat doa. Nanti aku datang. Karena Tuhan kan Maha Mendengar.

Yin, kamu jangan lupa bahagia ya. Lowong waktu kerjanya jangan buat lhat-lihat online shop. Ntar penyakit borosnya kumaaaat!

Yin, rindu...



Salam,


Yang