Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?
Sabtu, 31 Oktober 2015
Kafe Sunyi I: belum patah!
Tika baru saja mendapati berita anaknya tertangkap tangan membawa obat laknat sedangkan suaminya sudah tidak tau kemana rimbanya. Semua pedih dan pahit yang dia kecap akan dia bandingkan dengan kopi termasyur dari kafe ini. Tika memasuki sebuah kafe bertuliskan Kafe Sunyi. Warna kafenya cokelat tua dengan lampu redup yg mencahayakan sedikit ruangannya. Kemudian Tika membaca sebuah papan petunjuk yg bertanda panah " <-- Ladies" dan "gentlement -->".
Entah kenapa pemisahan ruangan ini membuat hati Tika sedikit tenang. Setidaknya, dia tidak perlu menangis ditengah lawan jenis lainnya yg tengah patahati. Yang akan menganggap remeh sebuah tangisan adalah sebuah kecengengan.
Kafe ini adalah kafe sunyi. Tidak boleh menatap tajam, memperhatikan, menertawakan atau menghiraukan pengunjungnya. Sunyi senyap kecuali beberapa isakan tangis yg tersisa. Wanita2 bermata nanar menatap cangkir kopi atau sekedar melayangkan pandangannya kelangit2 kafe. Selain itu, kafe ini melarang raungan tangisan yang akan mengubah kafe ini menjadi horor.
Tika duduk disebuah meja dan memesan kopi fenomenal itu. Tika masih menundukkan wajahnya dan menangis. Tak berapa lama, pesanannya datang. Kopi itu panas dan masih menggoyangkan uap. Tika mencoba meniup asapnya dan menyeruput kopi itu. Lalu Tika segera menyemburkan kopi itu kuat2. Tak tahan Tika dengan rasa dan panasnya. Tak berapa lama seorang pelayan kafe menaruh sebuah karton kecil dimeja Tika. Pelayan itu tersenyum lalu pergi. Karton kecil itu bertuliskan "SELAMAT! Hati anda belum patah dan belum mati". Tika kemudian mengembangkan senyum dan membayar kopi tersebut. Tika keluar dari kafe itu dengan perasaan tenang. Tika merasa beruntung Tuhan masih sangat menyayanginya. Memberikan sejumput kebahagiaan Lain dan segerombol kesabaran beserta segudang kekuatan. Dia lebih beruntung dari wanita2 didalam kafe sunyi itu. Yang begitu menikmati kopi pahit dan pastinya kenyataan hidup mereka jauh lebih pahit dari kopi itu.
Dengan penuh rasa syukur, Tika keluar dari kafe itu.
Meninggalkan kopi terpahit dan kafe tersenyap yg pernah ia sesap.
Karena ini adalah Kafe Sunyi.
Minggu, 14 Juni 2015
Alloh, apa itu takdir? Yang bagaimana takdir itu? Apakah takdir bisa ditawar?
Alloh, apakah adanya pelangi karena hujan terlebih dahulu?
Alloh, apakah rasa sakit itu bagian dari takdir?
Alloh, mengapa manusia tidak punya kemampuan menghapus ingatan? Mengapa takdirnya begitu?
Alloh-ku. Segala hak prerogatif-Mu sebegitu hebatnya hingga tiada terlawan dan tersembunyi.
Kamis, 14 Mei 2015
Senyuman manis bergigi rapi
Siapapun dia, dia hanya orang yang manis dan masih terlihat manja. Dia hanya seorang yang lancar membacakan rumus-rumus dan pembahasannya. Dia hanya manusia biasa. Biasa.
Aku mendengar sekilas kehebatannya. Bahkan kekurangannya. Dia hanya manusia biasa. Aku rasa, biasa saja. Biarpun dia lebih hebat dariku.
Seiring waktu berjalan, aku tidak bilang ini cinta. Bukan. Eh, belum. Mungkin. Sesekali mataku menangkap senyumnya yang manis. Tapi tetap manja. Awalnya biasa saja sampai aku beberapa kali menangkap senyumnya yang tulus dan terlepas begitu saja. Dia begitu cerdas, begitu berprestasi. Pula masih begitu biasa saja untuk dikagumi.
Entah bagaimana tetiba dia masuk ke dalam mimpi. Mimpi acak yang bahkan ketika aku membuka mata, aku perlu bertanya-tanya "kenapa harus dia? Kenapa mimpinya begitu?". Sebuah mimpi di mana aku hanya menggoda sensitifitasnya dengan mengatakan bahwa dia tidak dapat jatah makanan pengajar hari ini, kemudian dia mengejarku yang sedang membawa beberapa nasi kotak. Cukup. Hanya itu yg bisa aku ingat dari mimpiku semalam.
Hari ini, aku tidak berani menangkap senyumnya bahkan lewat cermin sekalipun. Kaku. Rasanya tidak mau lagi melihat senyum itu. Bukan karena senyum itu telah kehilangan rasa "manis"nya, hanya saja aku yang kehilangan kendali bila aku melihatnya lagi. Semua masih biasa saja. Masih bercanda. Namun satu hal yang berbeda, tiap dia mulai mengembangkan bibirnya hingga barisan giginya yang rapi mulai terlihat, aku tertawa sambil memalingkan muka. Masalahnya kami sedang tidak berdua. Kami beramai-ramai dengan teman lainnya. Aku tidak mau kalau-kalau mukaku memerah kemudian jadi bahan tertawaan.
Beberapa waktu, kami lalui berdua karena pengajar lainnya sedang ada urusan. Aku kaku. Kaku karena takut dan ngeri. Ngeri terhadap debar perasaanku sendiri. Untung saja, ponsel pintarnya menolong keadaan kami. Dia dibuat asik oleh ponsel pintarnya. Kami hanya bertukar beberapa tema obrolan sesekali. Sisanya, kami lalui waktu berdua dengan ponsel kami. Dia dengan aktifitas di ponselnya, dan aku bersama ponselku dengan kegiatan yang mengada-ada supaya terlihat asik dan sibuk sendiri seperti dia.
Tidak lama para pengajar lain datang, kemudian suasana mencair. Hatiku mencair. Menyenangkan sekali rasanya tertolong supaya detak jantung ini tidak secepat tadi. Aku hanya takut dia tiba-tiba bisa mendengar detak cepat jantungku karena aku merasa sangat terganggu oleh kecepatannya yang bertambah ketika dia tersenyum.
Dia kelelahan. Dia merebahkan badannya kemudian tertidur. Sambil berbincang dengan pengajar-pengajar lain, aku sesekali mencuri pandang kepada wajah lugunya. Aku pikir, aku akan berani memandang wajahnya karena dia tidak akan tersenyum sambil tidur. Hhmmm... Mungkin. Tapi nyatanya? Aku juga tidak sanggup berlama-lama menatap wajahnya yang tertidur sekalipun. Tapi aku juga tidak bisa menahan mataku yang ingin mencuri gambarnya untuk disimpan didalam otak, dua menit sekali. Seperti kecanduan.
Semua kebiasa-biasaan tadi benar-benar menjadi terbiasa. Sayangnya, "biasa" itu bukan sesuatu yang biasa. "Biasa" itu menjadi "biasa berdebar lebih cepat bila tidak sengaja bertemu pandang dan dia sedang tersenyum" atau menjadi "biasa kaku tanpa obrolan bila tidak sengaja hanya berdua" bahkan menjadi "biasa mencuri pandang ke arahnya". Menyebalkan!
Masalahnya bukan hanya sampai di situ. Beberapa waktu pernah aku habiskan untuk mencari tahu siapa dia. Oh, Tuhan! Bukan hanya aku saja yang berada dibalik kelabu atau asap yang mengintai kehebatannya. Banyak. Banyak. Selain itu, aku tau kebersamaan ini hanya sementara. Sebentar lagi akan selesai. Semoga saja tidak bertemu lagi. Rasanya seperti berkurang sensasinya bila orang yang kita idolakan tahu bahwa dia sedang diidolakan. Menjadi penggemar rahasia itu sederhana. Sekaligus rumit. Ingin selalu memantaunya tapi tidak ingin diketahui.
Kepada kamu yang memiliki senyum manis dengan gigi yang rapi, tetaplah tersenyum tanpa menoleh ke arahku. Agar aku bisa mengatur tingkah lakuku saat melihatnya.
Kepada kamu yang berwajah lugu saat tertidur kelelahan setelah mengajar, jangan cepat-cepat bangun. Tidurlah yang nyenyak agar kamu tidak sadar sedang dicuri pandang olehku.
Kepada kamu yang punya segudang penggemar, jangan pernah tahu siapa aku, sebagai salah satu penggemar rahasia terdekatmu.
Kamis, 04 Desember 2014
Menghadap langit
Setiap kali aku merasa gagal dan kecewa, aku selalu menolehkan wajahku ke langit. Selain agar airmata tidak dengan mudahnya jatuh, aku selalu meyakinkan diri bahwa dibelahan bumi yang lain, ada kesempatan untukku. Ada kehidupan penuh kebahagian untukku, dan ada yang berdoa atas namaku...
Jumat, 14 November 2014
Aku pamit dalam hati
Hingga matahari tenggelam, kita masih bertanya, "mengapa kita bertemu?". Tautan jemari sesekali merasa gerah dan licin karena begitu erat mengikat. Tidak. Tidak. Aku tidak akan pergi. Longgarkanlah sejenak.
Tapi nyatanya, ketika kau mulai membuka jemari, aku malah enggan memberi ruang pada udara disela jari kita.
Aku masih melayangkan pertanyaan pada tempat ini, "Mengapa...?" tapi aku tidak dapat melanjutkannya. Karena aku terlalu banyak menyelipkan "mengapa?" dalam penyesalan. Aku lebih senang memandangmu yang siluetnya dibentuk sempurna oleh senja yang turun.
Tapi kau lebih sedih berpisah dengan mentari, yang bisa kau temui lagi esok pagi.
Aku masih bertanya, "mengapa?" dengan berbagai rangkaian ragam kata yang menyertainya. Tapi yang hanya mampu aku tuturkan hanya "mengapa?".
Dibelaian udara yang menyapu lembah ini, aku pamit dalam hati.
Berharap kau lebih baik menjaga diri.
Lebih kuat berdiri.
Terbiasa menyendiri.
Atau lebih dapat mandiri.
Aku pamit dalam hati.
Entah karna tak kuasa,
Atau kau terlalu asik oleh leluasa...
Tentang kita (?)
Tentang kita
Kita adalah kata yang diukir diatas pasir,
Yang hilang disapu angin.
Kita adalah cahaya lampu yang mencoba pijar,
Kemudian diusir mentari yang lebih benderang.
Bahkan kita, bisa tergantikan oleh cahaya-cahaya lain.
Kita adalah mahkota bunga yang merekah,
Hingga batas waktunya.
Kita adalah lembaran kertas yang tercoret-moret,
Kemudian menjadi bekas.
Kita adalah bara yang tercelup dalam salju.
Kita adalah semu...
Senin, 10 November 2014
Mbak Diah-ku
Kakiku berjalan terpincang ketika memasuki rumah. Aku menyeret tasku hingga menimbulkan bunyi yang tidak menyenangkan. Aku membuka pintu yang belum terkunci. Mbak Diah, kakak perempuanku, pasti dia masih menungguku pulang dari kantor. Aku tahu dia pasti khawatir. Masalahnya, sudah nyaris tengah malam dan aku baru saja menginjakkan kaki ke rumah.
Seorang wanita dengan baju daster sederhana keluar dari kamarnya sambil mengikat rambutnya. Dia terdiam di depan pintu kamarnya sambil melihat aku yang lunglai menjatuhkan diri ke sofa.
"Kok malam banget pulangnya? Itu. Itu kenapa celana kamu sobek begitu?" kata Mbak Diah menunjuk ke celanaku yang robek dibagian lutut. Belum aku jawab pertanyaannya, dia datang mendekat dan menyibak tirai dibelakang sofa tempatku duduk.
"Lho? Motormu kemana? Kamu pulang naik apa?" raut wajahnya makin menyiratkan kecemasan.
"Besok saja ceritanya ya, Mbak. Aku capek." kemudian aku mengumpulkan tenagaku untuk berdiri menuju kamar mandi dan bersiap untuk beristirahat.
*************
Aku bersiap ke kantor menggunakan rok pendek. Aku tidak suka sebenarnya. Tapi ini terpaksa karena lututku diperban tebal. Mbak Diah mendekatiku dan duduk di tempat tidurku yang letaknya tepat disebelah meja rias dan lemari pakaianku.
"Kamu kenapa tho, dek?"
"Semalam kan aku lembur, Mbak. Aku agak ngantuk. Capek deh rasanya. Tadinya mau pulang naik taksi saja dan motornya ku tinggal di kantor. Tapi akhir bulan. Sayang uangnya. Jadi kupaksakan ngelaju naik motor. Eeeh... Karena ngantuk, aku malah nabrak pagar kantor. Untungnya nggak parah pagarnya. Jadi aku ndak usah ganti. Tapi akunya jatuh dekat semak duri." Aku menjelaskan kejadian semalam pada Mbak Diah.
"Lha terus? Kamu pulang piye?"
Aku kemudian terdiam. Aku berhenti menyapukan bedak dipipiku. Mbak Diah menyadarkan lamunanku dengan mendekatkan wajahnya padaku sehinhga membuatku kaget.
"Iiih Mbak Diah ki opo tho? Aku kaget." kataku sambil menjauhkan wajah dari Mbak Diah.
"Wong kamunya ditanya malah bengong. Mbak pikir kamu kesambet" kata Mbak Diah yang juga menjauhkan wajahnya dariku dan kembali duduk seperti semula.
"Semalam itu ada teman kantorku yang menolongku, Mbak. Tapi aku ga kenal siapa. Aku cuma tahu dia bekerja disitu. Beda divisi soalnya. Aku diobati, Mbak... Hmmm... Maksudku, aku diantar ke dokter. Aku kan bilang ndak mau. Soalnya uangku cekak. Malu nanti ga bisa bayar. Eh tapi dianya maksa. Aku di gendong, Mbak. Aku sampe malu sama bapak satpamnya. Aku digendong sampai ke motornya. Gak jauh kok dari tempatku jatuh. Wong disitu tinggal kami bertiga yg belum pulang. Aku, dia, sama pak satpam yang lagi jaga. Setelah sampai di motornya, dia nyuruh aku nunggu sebentar. Ternyata dia balik lagi buat ngangkat motorku ke pinggir dan menitipkannya di pos satpam. Abis itu, yaaa gitu. Aku dibawa ke dokter, dia yang bayar. Mungkin dia tahu ini akhir bulan kali yaaa. Dan tahu betul alasan kenapa aku gak mau dibawa kedokter. Hahahaaa" kami tertawa bersamaan dan Mbak Diah mendorong bahuku, "Ah! Kamu itu! Terus? Terus?" kata Mbak Diah antusias.
"Yo wis aku pulang. Dianter dia juga."
"Yasudah. Jangan lupa nanti di kantor temui dia ya. Bawain apa kek. Roti atau makanan buat tanda terimakasih." kata Mbak Diah sambil berdiri meninggalkanku. Sebelum keluar dari kamarku, Mbak Diah berhenti dan membalikkan badan menghadapku.
"Sekarang sakitan mana? Sakitan fisik terluka tapi ada yang peduli? Atau sakitan hati ada yang punya tapi ga peduli?"
Aku cuma diam.
**************
"Kamu kenapa senyum-senyum?" Kata Mbak Diah.
"Tadi aku makan siang bareng, Mbak."
"Sama siapa?" Mbak Diah keheranan.
"Sama Dedi. Yang itu. Yang pernah aku ceritain" kataku sumringah.
"Jiyeeee... Seneng banget" kata Mbak Diah menggodaku.
"Apaan siiih Mbaaak..." kataku sambil membenamkan diri ke bantal. Aku pura-pura tidur agar Mbak Diah pergi meninggalkanku sendiri di kamar. Aku mau menghayalkan Dedi, lagi.
******************
Aku menyeret tasku hingga menimbulkan bunyi yang tidak menyenangkan. Aku membuka pintu yang belum terkunci. Aku terduduk lunglai di sofa seusai pulang dari kantor. Hari ini berat. Berat sekali bagiku. Mbak Diah keluar dari kamarnya sambil membenahi rambutnya yang cantik terurai.
"Lho? Ada apa kamu? Kok kecut gitu?" tanya Mbak Diah keheranan sambil mendekatiku. Aku tidak berani mengangkat wajahku. Aku masih tertunduk lesu. Kemudian Mbak Diah duduk disebelahku. Memandangku sejenak dalam diam. Aku terisak dan segera menyerbu ke badan Mbak Diah hingga dia mendaratkan punggungnya pada sofa dengan mendadak. Aku memeluk Mbak Diah erat. Aku menangis dengan nafas berat. Mbak Diah masih terdiam. Masih belum membalas pelukanku. Air mata hangat mengalir menyentuh bahunya. Perlahan, kedua tangannya melingkar di badanku. Melewati punggungku dan berakhir pada bahuku. Dia menepuknya pelan-pelan. Hingga isakku mereda.
Kemudian aku berhenti memeluknya. Menjauhkan diri darinya. Menghapus sisa-sisa luka hati yang masih mengalir di pipi.
"Mbak Diah dulu pernah bilang sama aku. Kalo kita itu terlalu banyak punya persediaan plester luka. Ada luka disana-sini, ditempel terus. Sampai akhirnya ga sadar kalau kita udah jadi mumi. Dan Mbak Diah menyarankan aku untuk aku menghindari penyebab luka itu kan daripada sibuk menambal luka dengan plester "maaf". Sudah, Mbak... Aku sudah pergi dari sumber luka..." kataku sambil menenangkan diri. Mbak Diah membelai rambutku.
"Mbak Diah juga pernah bilangkan, kalau aku terlalu sering disakiti sampai lupa bagaimana dibahagiakan? Mbak Diah juga dulu mengingatkan aku, suatu hari nanti, aku akan menganggap orang yang hanya ingin berjabat tangan saja adalah cinta? Mbak Diah benar...... Mbak Diah benar.... Dan Dedi.... Dedi....... Hanya ingin berjabat tangan, Mbak....... Bukan menjaga tangan......" kemudian aku terisak dan Mbak Diah memelukku erat.
Malam ini suram. Menyisakan isak yang membuat bahagia tenggelam...
*****************
Ketika malam menjerat,
Dan sela-sela jari saling terisi merapat.
Aku jelas mengingat,
Genggamanmu yang hangat...
Tapi waktu menjawab cepat,
Kita bukan untuk saling mengikat....