Minggu, 07 April 2013

Jika Aku...




Jika Aku menghayalkan langit,
aku ingin menjadi bidadari yang menengok ke bumi lewat awan,
mengawasi langkahmu yang terkejar hujan.



Jika aku memandang bintang,
aku ingin menjadi bintang paling terang
agar kau dengan mudah menemukanku dan membimbingmu melihat tanah agar tidak terjatuh.


Namun nyatanya,
aku tidak mejadi siapa-siapa.
Aku bahkan tak punya alasan untuk dapat kau pikirkan...

Minggu, 27 Januari 2013

Menyerah


Firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya? Aku tak peduli, ku terus berlari...


Aku masih memejamkan mataku di atas kasur. Menghadapkan tubuhku ke langit-langit kamar. Ranjang ini begitu setia dengan air mata yang mengalir berjam-jam. Aku tidak tahu... Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Seharusnya semua baik-baik saja. Seharusnya semua berjalan lancar. Bilapun ada hambatan, bukan ini... Bukan mengenai ini.

Lagu "Firasat" oleh Dee Lestari mengalun pilu di telingaku lewat earphone yang terhubung dengan MP3 Player ku. Mengantarkan air mataku mengalir melintasi wajahku. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku berteriak dalam doa dan berkata "Tuhan! Bantu aku!". Isi pikiranku sangat buruk. Perasaanku campur aduk. Dan pastinya otakku tidak bisa berpikir jernih. "Tuhan, haruskah hamba berhenti? Atau hamba bersabar sekali lagi?"

Aku memang masih naif untuk membedakan antara sabar dan bodoh. Tapi apakah aku terlalu tuli dan buta untuk tahu kenyataan yang ada? "Oh, Tuhan. Hamba menyerah..." Tetiba tangisku makin terisak dalam pejam mataku yang sulit ku buka. Aku enggan melihat dunia. Enggan menghadapi kenyataan. Inilah bentuk saat aku menyerah. Menjadi zombi yang bergerak tanpa tujuan.

"Tuhan, kali ini hamba benar-benar menyerah... Tetap dekap aku, Tuhan..."

Rabu, 16 Januari 2013

"Gift"


Gue membuka pintu kamar kos dengan berat hati. Gue berjalan lunglai seolah tenaga gue habis entah untuk apa. Gue cuma bisa ngeliatin kamar gue yang kayak kapal pecah. Berantakan banget! Tapi ya gitu, gak ada daya untuk ngeberesinnya. Lebih tepatnya, gak ada usaha dan niat. Gue ngebanting badan di kasur. Berharap beban gue hilang setidaknya berkurang ikut terbang bersama hembusan nafas berat yang gue keluarkan.

"A Gift". It is "A Gift", Friend. Temen gue pernah bilang gini, "Memang gak mudah punya "Gift" yang dikasih Tuhan. "Gift" ini bisa jadi penolong kalo dipake dengan benar. Tapi bisa membahayakan pemiliknya kalo nggak bisa digunakan dengan baik."

Kadang gue ngerasa capek sama "Gift" ini. Terserah sih mau percaya apa nggak. Dulu temen deket gue pernah bilang kalo "Gift" gue belom kebuka. Nanti akan ada saatnya. Dan saat yang dikatakan temen gue datang bertahap, gue gak menyadarinya.

Masih kebayang beberapa kejadian saat gue ngeliat sepeda lewat depan rumah dan terlintas dalam kepala gue sebuah gambaran sepeda itu tertabrak motor, dan apa yang gue liat di fikiran gue beberapa detik sebelum kejadian itu terjadi benar terjadi. Gue seolah gak menganggap itu hal yang penting. Kemudian ketika suatu kejadian dimana gue ngingetin temen gue untuk memajukan motornya sampai pintu gerbang sekolah.dan tunggu gue disana. Tapi dia tetep kukuh untuk ngeboncengin gue dari parkiran. Alhasil, pas depan pintu gerbang kami terjatuh. Dia jatuh tertimpa motor sedangkan gue entah kenapa berdiri tegak tanpa terluka sekalipun. Gue cuma bisa ngeliatin temen gue tanpa berkata apa-apa. Seolah hal itu udah pernah gue liat sebelumnya.

Perasaan gue gak enak. Rasanya pengen nangis. Gak tau kenapa. Tapi gue bener-bener nangis. Masih dengan tanpa alasan. Jantung gue berdebar gak nentu. Entah kenapa. Gue cuma pengen nangis. Gue nangis sesenggukan. Akhirnya gue berdoa dan berserah pada Tuhan apapun yang akan terjadi.

Pagi ini, mata gue sembab. Bekas nangis semalem masih membekas di kantong mata gue. Pagi ini telpon gue berbunyi. Ada nama nyokap tertera di layar. Nyokap dengan suara agak tertahan berkata, "Nik, Pulang ya... Bapak sakit."
Oh, Tuhan... Ternyata ini yang membuat gue gak tenang dari semalem. Gue pun gak buang waktu buat siap-siap pulang. Gue telpon pacar gue untuk mengantar gue pulang.

Ketika di mobil, gue memandangi dia dalam-dalam. Bukan karena kesedihan dan kekhawatiran yang gue rasakan terhadap kesehatan Bapak. Tapi entah kenapa gue merasakan kalo gue bukanlah berakhir pada dia, pacar gue. Perasaan yang sama yang pernah gue rasain dulu. Tiba-tiba gue bilang, "Nanti kalo lo nikah, dengan siapapun, jangan lupa bawain lagu 'I will survive' ya, lo kan jago maen bass tuh." Kemudian pacar gue cuma mengernyitkan dahi dan berkata, "Apaan sih." Dan tak berapa lama, gue putus sama dia.

Banyak Kejadian dimana perasaan gue gak enak, mendadak pengen nangis atau seperti ada sesuatu yang akan terjadi dan itu adalah hal buruk. Seseorang pernah bilang sama gue, gue punya bibit untuk memiliki "Gift" dari Tuhan. Tinggal tunggu waktu.

Tapi sejujurnya, kadang gue merasa nggak nyaman dengan hal ini. Terlebih ketika gue gak tau apa yang bakalan terjadi tapi perasaan tersebut udah dateng sama gue sebelum kerjadian itu terjadi. Terkadang juga gue merasa gak enak dekat dengan seseorang. Seperti ada sesuatu yang salah dengan orang itu. Hal itu bikin gue mendadak agak segan buat deket dia dan nggak sengaja menjauh. Kadang gue paksakan diri buat ngelawan perasaan itu. Tapi pada akhirnya gue tahu kenapa gue dulu pernah punya prasangka gak enak sama dia.

 Tuhan, bukan aku tidak menerima "Pemberian" ini. Hanya saja mentalku tidak siap. Atau tidak akan pernah siap? Beberapa teman ada yang mengetahui mengenai hal ini. Kadang lelah mengetahui sesuatu yang buruk tapi tidak mau memberitahu hal buruk itu kepada teman karena ingin teman itu bisa lebih dewasa dan lebih baik apabila mengalami hal itu. Kadang lelah dan penat menembus kepala gue dengan berat. Menembus dimensi yang seharusnya dilalui lorong waktu tapi gue buka dalam bayangan.

Tuhan, kuatkan hamba-Mu ini.... Terimakasih atas pemberian yang sangat berharga. Semoga berguna untuk banyak orang dan tidak merugikan. Aamiin.



Senin, 14 Januari 2013

To: A

Dear A, Where have you been?

A, aku memanggilmu dalam kegelapan yang ku coba usiri dengan canda dan tawa dengan sahabat. A, apakah kau mendengarku? Aku melempar pesan sunyi ke udara dan berharap seseorang dapat menangkapnya dan menanyakan keadaan ku, dan aku masih berharap kaulah orang itu, A.

A, waktu yang selama ini berteman dengan ku sekarang berbalik arah. Kau tahu, A? Dia berbalik menyerang dengan batasan-batasan yang dulu dapat ku tembus kini aku harus dikejarnya tanpa tawar menawar.

A, pertanyaan-pertanyaan yang biasanya menjadi lelucon kini menjadi pedang yang siap menyayatku dan menikamku dalam-dalam. A, mengertikah kau? Dimanakah kau, A? Aku ingin sejenak merebahkan tangisku, setidaknya ditelingamu, A. Tidak harus di pundakmu. Karena mungkin pundakmu sudah terlalu berat menahan beban.

A, pilihan-pilihan yang ku susun telah diporak-porandakan oleh sebuah kenyataan. Kenyataan dimana aku harus menyusun ulang segala mimpiku. A, tapi aku sudah terlanjur memilih, tidak mungkin aku mundur. Tapi kenyataan menyuruhku untuk jalan ditempat, A. Bagaimana ini, A?

A, dapatkah kau mendengar pesan sunyiku?

A, Dimana dirimu?

Selasa, 25 Desember 2012

I love to be me!

Pernah gak ngerasain lo pengen banget mengalahkan seseorang karena suatu hal. Lo pengen ngebuktiin kalo lo bisa melakukan hal yang kayak dia lakukan. Mungkin untuk bisa dihargai dan gak dianggap enteng. Bisa jadi karena lo punya alasan supaya lo gak bisa atau bisa dibandingin sama orang itu.

Gue pernah! Sekarang mungkin tepatnya. Gue gak pengen dibandingin. Tapi kalopun harus dibandingin, gue bisalah sejajar sama dia, paling tidak. Sifat nothing to lose gue emang kadang bikin gue dalam masalah. Kadang gue juga mikir, hal yang gue lakuin itu gak penting-penting amat. Jangankan ada yang bandingin, malah jangan-jangan usaha gue gak dilirik sama sekali. Kembali lagi, lalu tujuan gue apa untuk melakukannya? Kebanggaan kah? Kemampuan kah? Atau hanya ingin dilihat dan gak dianggap remeh?

Gue gak suka dianggap remeh! Gue akan melakukan apa yang orang lain bilang kalo gue gak akan bisa melakukan itu. Tapi untuk yang kali ini otak gue mikir. Kenapa gue mau melakukannya? Damn! Ternyata gue hanya pengen gak dianggap remeh dan berani dibandingkan. Sesuatu yang gue lakukan adalah seseorang yang bukan gue banget! Usaha sekeras apapun yang gue lakuin cuma bikin gue makin gak nyaman.

Bukan gue mau nyerah dan membatasi diri, tapi gue sadar. Ini bukan gue. Sedangkan gue melakukan hal inipun gue lakukan bukan karena untuk kebaikan, tapi lebih ke keangkuhan dan kesombongan karena gak mau diremehin atau gak mau merasa terkalahkan. Padahal gue harus sadar, gue bisa mengalahkan orang itu. Tapi dibidang gue sendiri. Yang apa adanya gue. Ya yang jelas yang dengan tujuan yang baik. Mungkin dia bisa hebat dengan melakukan hal itu. Ya! Gue akui dia hebat! Karena dia bisa melakukan hal yang gak bisa gue lakukan.

Tapi ketidak nyamanan itu benar-benar mengganggu. Gue bukan tipe orang yang memaksakan kenyamanan. Maka gue memutuskan untuk berhenti melakukan seperti yang orang lain lakukan. Gue memutuskan gue akan hebat dengan bidang gue sendiri. Gue gak mau merasa hebat dengan berhasil melakukan apa yang dia lakukan juga. Gue hanya follower dia donk? Bukan pesaing dia. Sorry to say, gue lebih nyaman dengan diri gue yang gak bisa melakukan apa yang lo lakukan tapi hebat sama hal yang lo gak bisa lakukan. (sama aja niatnya. heheheee)

 
Intinya, gue merasa bodoh karena mau mengalahkan dia dengan "cara dia". I don't need that way! Kalo gue emang gak bisa jadi pecinta alam yang sanggup menaklukan gunung, kenapa gue harus? Karena gak mau dibandingin? Pwih! Picik banget pikiran lo, Trini! Setiap orang itu beda dengan kemampuan masing-masing! Just love your self... :)

Jumat, 14 Desember 2012

Tuhan, Berikan aku waktu

                                   Biarlah bayangmu menghilang,
                                  Menimbun rindu hingga tak terbilang.
                                 Entah apa yang harus ku perbuat, Sayang...

Tak pernah behenti memikirkanmu, dalam kerjap berat mataku. Sedikit kata cinta yang ku desahkan di doa-doa yang kupanjatkan sekarang. Riuh rendah semua orang berlari di sekitarku seolah-olah mereka sedang dikejar sesuatu. Samar-samar ku melihat wajah-wajah mereka, tapi tak ada yang ku kenal. Ah! Kepalaku sakit, Sayang...

Rasanya berat sekali menolehkan kepalaku. Basah. Semua berputar-putar menghilangkan pandangan. Tapi kerinduan ini masih membengkak, baru sampai tenggorokan kata maaf ini merangkak. Namun badan ini lemah. Pikiranku masih lelah. Tapi dimana kamu, Sayang?

Sesaat orang-orang berpakaian putih itu berwajah cemas. Mereka turun dari kendaraan yang bersirine sangat keras. Mereka berlari. Sesekali mereka menoleh kearahku. Siapakah mereka, Sayang?


Dari sela cairan merah yang jatuh melumuri sedikit keningku, menutupi pandanganku, aku melihat sebuah tulisan besar, UGD. Aku rindu kamu, Sayang...

Tuhan, masih ada satu janji yang ku letakkan. Janji di saku jaketku. Sebuah cincin emas bermata berlian. Untuk gadis brilian, yang sedang menungguku disebuah rumah dengan halaman teduh.
Tuhan... Sampaikan cintaku padanya. Terutama maafku, yang selalu meninggalkan realisasi janji di setiap janji yang ku buat. Seandainya aku masih diberi waktu, aku akan bersujud mencium keningnya yang penuh kesabaran kepadaku.

Rabu, 12 Desember 2012

Tentang hujan

Menatap langit sambil berdoa dan berharap dia tidak datang saat ini. Harap-harap cemas mengenai masalah yang akan muncul bila dia datang. Perempuan itu menutup matanya kuat-kuat sambil berkomat-kamit mengucap doa semoga dia tidak datang. Setidaknya untuk sekarang. Atau segalanya yang dia rencanakan akan berantakan. Dengan gaun indah dan riasan tipis yang membuatnya terlihat berbeda hari ini, menanti janji dengan seorang kekasih. Menikmati sedikit makanan hasil masakan yang dia pelajari selama sebulan penuh hanya untuk kedatangan kekasih itu. Pertemuan yang mungkin saja akan menentukan masa depannya. Tapi, perempuan itu tidak berharap dan tidak menyangka bila ada tamu tak diundang tersebut akan datang. Sebuah pertanda yang ditunjukkan Tuhan kepadanya membuat ia meminta Sang Pemilik untuk menjaga itu. Setidaknya tidak untuk kali ini, di waktu ini. Maka ketika dia datang, hancurlah harapannya untuk dapat bersantap di taman romantis yang telah ia susun dekorasinya.

*********************************************************************************************************

Tidak juga anak ini. Dengan baju dekilnya, dia masih di lapangan sepak bola. Melihat anak-anak lainnya berlari bersama orang tuanya. Bazar yang diadakan oleh kelurahan ini cukup menggiurkannya untuk membawa sekardus barang dagangannya. Riuh orang-orang yang lewat dan tak ada satupun yang melihat badan kurusnya dengan sebuah kardus dagangannya yang belum satupun terjual. Anak itu hanya ingin sedikit uang tambahan untuk membeli buku tulis. Buku yang ia gunakan sejak tahun ajaran yang lalu sudah hampir habis.Ada yang sangat disukainya, anak itu sering bermain dan tertawa lepas dengannya. Akhir-akhir ini dia jarang datang. Apa mungkin dia lupa pada anak ini? Atau dia memiliki teman lain? Namun untuk hari ini, anak itu tidak ingin dia datang. Sangat tidak ingin. Anak itu tidak ingin dia datang. Bila dia datang, dia harus berlari kemana? Anak itu tak ingin dia datang dan melihatnya dalam keadaan seperti ini. Ini bukan waktu yang tepat untuk bermain, kata anak tersebut menatap ke atas dengan polosnya. Tapi takdir tetaplah tak dapat dilawan. Dia datang. Anak itu kemudian segera berdiri sambil membawa kardus dagangannya yang belum laku satupun. Dia datang, dan anak kecil itu tak tahu harus lari kemana lagi. Dia sedang tidak ingin bermain.

**********************************************************************************************************

Peluhnya yang sudah membanjiri badannya yang legam oleh matahari seusai menanam bibit. Mata pencahariannya. Pendapatan baginya dan penghidupan bagi keluarganya. Pria itu masih menaruh harapan semoga dia datang. Datang membawa kegembiraan. Membawa kabar baik bahwa dia akan membantu ladangnya untuk berhasil panen dan memberi kesenangan padanya dan keluarganya yang sudah lama dalam keadaan kekurangan. Dia harus datang. Sudah berbulan-bulan dia tidak datang. Kali ini dia harus datang. Bila tidak, semakin panjang penantiannya dalam kelaparan di kala malam. Dan akhirnya ketika dia datang, rumputpun ikut bertasbih dan bertahmid dalam kesyukuran yang besar.

***********************************************************************************************************

Tersesatnya keluarga musafir itu di padang pasir yang begitu luas membuat mereka kehabisan perbekalan. Oase yang mereka lihat dari jarak jauh ternyata hanya fata,organa belaka hasil imaji pikiran mereka yang telah diseret dehidrasi yang sangat. Bayi dalam susuan ibunya pun ikut menangis, padahal dia masih bisa menyusu pada ibunya. Mungkin perasaan ibunya tersampaikan bahwa mereka dalam kesulitan. Dua anak mereka yang telah remaja dan berbadan besar juga tak kalah letihnya menuntun unta yang telah kehabisan cadangan di punuknya. Hanya ayah mereka yang menguatkan iman dan berusaha terlihat baik-baik saja agar bisa meyakinkan keluarganya bahwa ia masih jaya memimpin keluarga. Namun tak dipungkiri, dalam hatinya meminta Yang Maha Kasih membiarkan dia datang. Sekali saja. Sebentar saja. Untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Untuk sampai di kota selanjutnya. Berharap dia datang. Dan ketika dia datang, sejuta syukur terucap disertai tangis bahagia karena kehidupan mereka berhasil di perpanjang. Dia datang. YAng paling diharapkan.
Tuhan, terimakasih telah menghadirkan dia. Hujan yang sejuk...

***********************************************************************************************************

"Dan lihatlah sayang, hujan turun membasahi seolah ku berair mata..." Firasat -Rectoverso-