Senin, 30 Agustus 2021

I don't know

I don't know, I keep say sorry. I don't know for who. Maybe for myself.

I just want to cry. Angers and sadness mixed in one place : My brain. My heart so soft and fragile. I cannot tell the differences between lies and facts. Fraud or sincerity. I found it goddamn hurt!

I cried and cried, tried my best to forget. But harder I try, harder this thing hit me down. Or I just cannot end well what I've started? Oh Trini! How dare you! You stupid and crazy! Now you have to face the concequences!

I pulled up myself to the edge of facts and feeling. I don't give a damn! But I am addicted. Should I stop? Now I am questioning myself, "what do you want?".


My head is spinning. I assume everything. I browsed all the facts, then my feeling start to play with me. Oh come on! Not now!!!


Maybe I just need sometimes. I don't know what I should do, back off or walk on it. Just give myself space and time to think. I enjoy the pain. I don't know until when. I don't really now.

Kamis, 26 Maret 2020

Sedikit cerita di tengah wabah

Hidup itu ga melulu cinta-cintaan.

Hari ini adalah salah satu rangkaian hari dimana seluruh dunia panik dan lockdown karena sebuah Virus. Virus ini di deteksi pertama kali dari Wuhan, China. Virus yang menyerang paru-paru dan melemahkan tubuh ini menyebar SANGAT CEPAT ke seluruh dunia. Banyak kematian yang terjadi juga. WHO sudah menisbahkan kasus ini menjadi pandemik global. Seluruh dunia panik. Pemerintah seluruh negara meminta warganya untuk menjaga jarak, tidak banyak keluar rumah, menjaga higienitas diri dan tempat tinggal, dan lain-lain. Orang-orang yang paling rentan terkena virus ini adalah orang-orang tua dan orang-orang yang punya penyakit paru.

Salah satu sebab meledaknya kasus penyakit ini adalah banyak warga yang tidak mendengarkan perintah pemerintah. Mereka tetap mengadakan pertemuan besar, berkumpul di tempat umum dan tidak menjaga diri mereka.

Setelah virus ini mewabah secepat kilat dan banyak korban berjatuhan, banyak negara-negara melakukan lockdown. Dunia mulai chaos. Maskapai-maskapai penerbangan banyak membatalkan jadwal penerbangannya. Bahkan menutup layanannya hingga waktu yang belum ditentukan. Kepanikan-kepanikan terjadi di mana-mana. Jangankan untuk kembali ke negeri asalnya, keluar dari negara yang sekarang dia tempati pun sulit. Ada yang tertahan di negara transit mereka. Setiap negara transit sudah mulai meminta sertifikat negatif virus Corona sebagai salah satu syarat kelengkapan dokumen keimigrasian.

Sedih bukan main ketika negara sendiri tidak siap "menyambut" datangnya virus itu. Tidak bisa memilih, virus itu sudah ada di Indonesia. Korban berjatuhan. Kontroversi banyak terjadi. Kepanikan untuk menimbun alat-alat pertahanan (sanitasi) diri banyak terjadi. Kekosongan masker bedah, alkohol dan pencuci tanganpun tak terelakan. Seakan tidak belajar dari negara-negara yang warganya "bandel" dan menganggap remeh virus itu hal yang seenteng flu, Indonesia pun begitu. Masih banyak pertemuan-pertemuan di tempat umum atau pertemuan yang melibatkan banyak orang masih terjadi. Hal yang paling sedih, ketika keluarga kamu bagian dari itu. Orang tua kamu sudah berumur. Punya penyakit dalam paru dan diabetes. Kamu di negara lain waswas. Kalau terjadi apa-apa bagaimana? Jangankan untuk kembali ke tanah air, keluar dari negara yg di tempati pun sulit dan hampir tidak mungkin. Kamu hanya bisa berharap tidak terjadi apa-apa di negeriku sana...

Hal lain, mungkin masalah cinta-cintaan juga masih mewarnai hidup. Warnanya bisa macam-macam. Bisa hitam dan pekat.

Tanzania,


:(:


Minggu, 08 April 2018

Ketika aku dikhianati, maka aku...

Bukan sesuatu yang menyenangkan bila kepercayaan kamu dikhianati. Jika kamu mampu, kuat dan harus, maka keluarlah dari hal itu. Pergi dan tinggalkan yang membuat kamu marah dan sedih. Kumpulkan kekuatan dan cari dukungan, bila kamu ingin sekali pergi tapi belum berani beranjak.

Namun lain ceritanya bila kamu punya alasan-alasan tertentu untuk bertahan. Apapun itu. Orang-orang bisa bilang kamu bodoh atau terjebak dalam sesuatu yang salah. Iya, kamu memang bodoh. Kamu sadar itu. Tapi orang lain tidak sadar betapa tidak mungkinnya pergi. Sebenarnya mungkin, hanya kamu tidak ingin. Kamu sedang menjaga hati-hati yang rapuh dan penuh harap. Yang senyumnya ceria ketika kamu tersenyum dan akan merasa tersakiti serta menangis lebih lama jika kamu terluka. Kamu bisa saja pergi untuk mengakhiri semua rasa sakit kamu. Tapi kamu memilih untuk tinggal. Itu risiko kamu. Tapi jangan mengeluh.

Ketika kamu dikhianati, kamu berhak untuk pergi. Untuk lebih bahagia. Karena pengkhianatan itu seperti paku yg diketukkan pada sebuah kayu. Meski telah dicabut, bekasnya tetap tidak hilang. Bertahan seperti apapun, sekuat apapun kamu, kepercayaan tidak seperti dulu. Semanis apapun senyum kamu, tetap hati kamu pernah ada lubangnya.

Saat seperti itu, kamu hanya bisa memilih untuk kuat. Tapi jangan bodoh. Jangan membiarkan orang-orang yang mencintai kamu itu tersenyum oleh kebahagiaan palsu kamu. Kamu sakit kan? Kamu menangis kan? Mereka akan lebih menyesalkan diri mereka yang tidak dapat menemani kamu di saat-saat yg sulit, tidak mampu melindungi kamu dari rasa sakit, tidak tahu kalau mereka adalah alasan kamu bertahan dalam rasa sakit. Bukan keluar dari rasa sakit. Pada akhirnya, mereka yang benar-benar mencintai kamu akan sulit menelan karena air mata mereka tertahan di tenggorokan. Merasakan tajamnya perih yang kamu tanggung untuk mereka. Jika mereka benar-benar mencintai kamu, mereka akan menyesal membiarkan kamu berlarut-larut dalam kesedihan.

Jika kamu masih dalam pertahanan diri untuk tetap kuat dalam masalah ini, kamu merasa percuma marah, merasa pasti akan berulang dan akan merusak segala mimpi-mimpi mereka, maka yakinkan dirimu, ini bukan kebodohan. Ini keikhlasan. Ini pilihanmu.

Jika kamu masih belum yakin untuk pergi, dengan segala alasan yang otak kamu bilang, kamu belajar dulu memaafkan diri kamu. Memaafkan kamu yang merasa bahwa kamu memiliki banyak kekurangan sehingga wajar saja kamu dikhianati. Memaafkan diri kamu bahwa kamu pemarah. Memaafkan diri kamu karena kamu penyabar. Memaafkan diri kamu karena kamu pemaaf.

Kamu harus yakin, suatu ketika kamu akan mendapatkan apa yang kamu lakukan selama ini. Jika kamu dikhianati pasangan kamu, maka anggaplah dia tidak memiliki level sebagus kamu. Suatu ketika, Tuhan akan beri kamu yang selevel dengan kamu atau malah lebih baik. Jika kamu dikhianati oleh teman kamu, maka kamu akan mendapatkan teman yang lebih baik. Yang setara dengan kamu. Jika kamu dikhianati oleh perusahaan kamu, maka jadilah kunci dan orang penting di sana.

Jadilah yang terbaik untuk diri kamu. Maksimalkan kemampuan kamu. Berbuat baiklah apapun yang kamu dapat. Jadikan dirimu kunci dalam kehidupan kamu dan sekitar kamu. Jadilah penting. Jadilah hebat. Pergilah jika mampu. Jika belum, berdoalah banyak-banyak agar dimampukan. Apapun.

Jika kamu sudah maksimal, sudah bisa menjadi inti, sudah menjadi sangat baik, maka saat perpisahan adalah saat kebebasanmu. Saat di mana kamu mendapatkan sesuatu yg lebih baik. Tapi pada saat yang sama, bagi mereka yang mengkhianatimu, itu adalah saat-saat kehilangan terbesar dalam hidup mereka. Kehilangan orang yang sangat baik dan penuh cinta. Orang yang sangat sabar dan pemaaf. Orang yang penting dan hebat.

Jika memang harus kehilangan, setidaknya bukan kamu yang merasakan.


Ayo bijak!

Selasa, 06 Maret 2018

Mati

Ketika kamu sudah tidak tahan lagi sama keadaan, kamu merasa bahwa mati itu adalah hal terbaik.

Tapi kemudian rasanya akan berbeda kalau kamu orang yang percaya ada kehidupan setelah mati, di mana setiap perbuatan kamu di dunia, di mintai pertanggungjawaban.

Mati seperti apa yang ideal?

Rabu, 11 Oktober 2017

New experience

Apa ini namanya? Setiap membayangkannya atau mengingat atau menemukan hal serupa, badanku gemetar, jemari tangan dan kaki dingin, perut terasa melilit dan tidak bisa tidur. Menangis tidak karuan itu pasti. Apalagi bengong. Hampir dipastikan tiap duduk atau sedang hening. Pasti bengong.

Aku memberanikan diri bercerita kepada beberapa orang terdekat. Mereka responsif. Tapi itu masih belum membuatku tenang.

Salah satu temanku menyarankan agar aku tidak menunda ke psikolog. Dulu, aku tidak berani ke psikolog. Seakan-akan aku memiliki gangguan kejiwaan berat kalau aku ke sana. Tapi sayangnya, kadang orang sekitar ikut mengamini mitos itu. Seringkali, apa yang aku ceritakan pada mereka dianggap hanyalah sisi emosionalku yang berlebihan. Yang kelewat lembek. Mereka tidak  tau, masalah itu memang sangat kecil, tapi bagiku tidak. Aku merasa tidak punya pendukung dan merasa di remehkan.

Untung ada temanku yang menyarankan aku untuk menemui psikolog. Akhirnya Aku ikuti. Aku memberanikan diri bercerita pada beliau. Dan baiklah, aku didiagnosa trauma yang mengakibatkan aku depresi.

Aku perlu beberapa kali berkunjung lagi. Well, setidaknya ada orang yang tidak menganggap remeh ceritaku.

Ini mudah. Seperti kamu sakit kepala dan tidak tahan lagi, makanya kamu ke dokter. Seperti itu saja. Tidak ada sugesti lebih.

Kamis, 07 September 2017

Today's mood

Feel 'lil bit upset and down lately. When you really love something but you seem can not reach it...
Orang-orang bertanya kenapa saya ikut kelas private latihan vokal, jawaban saya mudah : karena saya suka dan saya mau tahu sampai di mana kemampuan saya. Sudah. Segitu aja kok. Saya gak muluk-muluk mau jadi penyanyi atau bersuara bagus. Cukup enak didengar. Seorang teman saya pernah bilang, kalau suaranya biasa saja bisa terdengar lebih enak kalau tepat nada dibandingkan yang suara merdu tapi tidak pitch. Maka jadilah saya ikut kelas latihan vokal.
Selama latihan vokal, guru vokal saya meyakinkan saya bahwa suara saya punya ciri khas dan ada bakat untuk merdu. Namun saya perlu sangat banyak berlatih sendiri. Karena latihan di kelas waktunya terbatas. Dan beliau bilang, jangan menyerah.
Setelah beberapa bulan saya ikut kelas latihan vokal, saya merasa ada kemajuan. Dari yang buta nada, jadi sedikit melek nada. Kata guru vokal saya, kekurangan saya adalah tidak pitch saat bernyanyi. Musik pengiring tidak selaras dengan vokal saya. Saya berlatih untuk terus bisa seperti yang beliau maksudkan. Sulit. Susaaah... Saya tidak punya basic musik. Guru vokal saya benar-benar sabar untuk melatih pendengaran saya supaya bisa menyelaraskan apa yang saya dengar dengan vokal yang saya produksi. Demi Tuhan... Sulit. Kadang saya pitch kadang kalau juga melenceng.
Teman-teman kantor saya sering jadi korban. Saya suka bernyanyi di kantor. Hahahaha mereka diam saja, entah saya memang menghibur atau mengganggu. Tapi kata salah satu rekan saya, suara saya menjadi lebih mendingan dibandingkan sebelumnya. Saya bersyukur ada yang memperhatikan. Meskipun dia tidak memuji. Setidaknya saya tau perkembangan saya.
Tapi tidak belakangan ini. Saya merasa ingin menyerah saja. Meskipun berkali-kali guru vokal saya meyakinkan saya bahwa saya masih belajar dan tak perlu khawatir. Karena banyak orang berlatih bertahun-tahun bahkan penyanyi profesional sekalipun. Untuk meyakinkan itu, saya mencoba mengajak beberapa teman saya yang bisa memainkan alat musik untuk bergabung dalam project saya sebelum saya ikut suami ke luar negeri untuk bekerja.
Tapi sekali lagi, saya seperti ingin menyerah. Saya seperti tidak mendapat penghargaan atau dukungan dari orang terdekat. Saya berfikir, saya memang tidak berbakat. Lebih baik saya menyerah saja. Lagipula, apa gunanya saya latihan vokal kalau tidak berniat jadi penyanyi? Dulu waktu memutuskan untuk ikut kelas vokal, saya punya idealisme bahwa saya memang suka bernyanyi dan saya ingin bisa bernyanyi dengan cara yang benar. Bukan untuk dijual atau dipuji. Kalaupun mendapatkan kedua hal itu, itu adalah bonus.
Masih mencari semangat...
Entah hanya lelah dan bosan, atau sudah sadar diri...

Sabtu, 26 Agustus 2017

Teman

I am f*ing sleepy, but my eyes in full power af.



Jadilah berlanjut untuk randomly search blog apa aja. Nemulah ke sebuah blog yang penulisnya (dan terlihat dari tulisannya) adalah seorang yang kalem, pemikir tapi cerewet dalam ide. Semakin kebawah-bawah, sepertinya dia menulis di blog itu hanya untuk menumpahkan isi pikirannya yang terlalu cerewet tapi bukan kepribadiannya berkata-kata banyak lewat suara. Melainkan lewat aksara saja.


Sebenarnya, sama seperti tulisan-tulisan di blog ini. Sebuah tempat rahasia yang terbuka. Hanya yang peduli dan yg penasaran yang tahu tempat ini.

Hampir semua orang (nyaris 90%) tidak percaya sebenarnya saya ini orang yang tertutup dan pemalu. Ya. Saya.

Dalam bergaul, saya cukup talkative dan sering melempar jokes ngasal untuk mencairkan suasana.

Semakin kedalam, saya memilih teman-teman dekat untuk saya ajak bicara masalah agak serius. Seperti masa depan, pendidikan, atau gosip orang-orang sekitar. Orang-orang ini ada di lapis kedua terluar dari lingkaran kepercayaan saya.

Masuk ke dalam lagi, dari lapis kedua tadi, ada beberapa yang masuk seleksi teman baik yang saya jadikan tempat berbagi banyak hal. Terutama tentang pasangan. Teman-teman inilah yang kalau sudah bertemu dan ngobrol lama-lama tapi masih kuat telpon lebih dari sejam setelah pertemuan. Intensitas bertemu dengan mereka lebih jarang tapi lebih lama karena biasanya begitu saya ada masalah, saya langsung menghubungi mereka meskipun tanpa harus bertemu.


Lapis yang lebih dalam, saya memilih orang-orang terbatas. Orang-orang tempat saya bercerita sebagianbesar masalah hidup saya. Hampir semua. Termasuk terbuka masalah keluarga atau hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada orang lain. Saya menyebut mereka One call away comrades. Mereka-mereka ini levelnya sudah setara keluarga untuk saya. Pertemuan kadang intens kadang mendadak. Tergantung seberapa butuh dan rindunya kepada mereka. Kapanpun mereka minta saya mendengarkan cerita mereka, saya pasti pasang panca indera untuk tau cerita mereka. Mereka benar-benar orang-orang terbaik. Mereka ikhlas. Tidak menghakimi dan berpikiran terbuka. Kadang ada yang ekstrim dan frontal sih. Tapi logika dan perasaan sama-sama ditimbang. Mereka istimewa. Saya tidak suka menceritakan masalah keluarga kepada siapapun. Sama sekali tidak suka. Termasuk kepada mereka. Namun ada hal-hal di mana saya tidak tahan diam maka saya akan datang pada mereka.


Lapis terakhir, kepercayaan saya untuk tahu seberapa saya suka, benci, dendam dan cinta. Yang tahu saya tersenyum ikhlas dan perilaku saya sedang tidak berdrama atau sekedar mencoba menghindari masalah, cuma satu. Yang saya percaya tanpa ragu tiada khianat. Meskipun saya seringkali berkhianat dan pada akhirnya saya kembali mengemis-ngemis agar saya tidak dibenci atau dilupakan. Satu-satunya tempat lari dan bersedih. Seberapa dalam luka atau seberapa sayangnya hati saya terhadap sesuatu/seseorang, hanya Dia. Iya. Dia. Tuhan.


Tri

Jumat, 25 Agustus 2017

Apa itu bahagia?

"Tapi kamu bahagia gak?"


Pernah gak ada orang bertanya seperti itu ke kamu? Terus kamu jawab apa?


Pernah gak kepikiran definisi bahagia itu apa?

Sampai detik ini saya masih belum bisa mendefinisikan bahagia itu apa. Saya pernah memposting tulisan tentang kebahagian juga sebelumnya. Tapi akhir-akhir ini saya kepikiran tentang sebenarnya apa sih itu bahagia. Dulu, ketika saya sedang bersama seseorang, saya pernah mengeluhkan sikapnya terhadap saya kepada teman saya. Lalu teman saya bertanya pada saya, "Tapi lu bahagia gak sama dia?"
Saya langsung bingung mendefinisikan bahagia itu apa. Saya tidak berani menjawab apa-apa.


Lalu saya mulai dapat mendekati definisi bahagia. Hmmm... hanya mendekati. Saya mendapat definisi ini dari teman kerja saya, Riska Mulyadi namanya. Yang kemudian arti bahagia tersebut saya kaitkan kepada pengalaman saya yang lalu-lalu.


Riska pernah bilang, "Gue sebenernya udah gak betah kerja di sini. Udah gak jelas blaablaablaa... *Sensor*"
Kemudian dia melanjutkan, "Tapi yang bikin gue bertahan adalah kalian. Di sini (Maksudnya tempat makan siang-Red) gue bisa cerita-cerita, ketawa-ketawa, terus ngadepin masalah sama kalian-kalian ini. Suasana ini yang belum bisa kebeli sama gaji gede yang ada di perusahaan lain."



Dari situ saya menyetujui perkataannya. Bahwa bahagia itu kenyamanan. Bukan tidak pernah kami saling menyakiti, tapi entah kenapa kami tetap nyaman berteman. Bisa dibilang kepercayaan itu mengambil bagian yang cukup besar dari kenyamanan yang pada akhirnya saya definisikan sebagai bahagia.


Bukan hanya sekedar tertawa atau bekerja bersama, tapi kenyamanan itu hasil dari kepercayaan yang diolah bersama dengan proses tawa-kecewa-sedih yang kemudian mendatangkan rasa "betah" untuk berlama-lama dan bertahan. Fondasi kebahagiaan menurut saya adalah kepercayaan. Mengapa? Apakah kamu mau menjalin hubungan (pertemanan, bisnis atau keluarga) tanpa didasari rasa percaya?

Bahkan, membuat akad (perjanjian) juga berlandaskan kepercayaan kan? Kamu percaya lawan main kamu itu akan menepati janjinya dalam kerjasama ini. Lalu kalau kamu sudah tidak percaya dia? Apa kamu masih mau menjalankan kerjasama dengannya? Kalau sudah terlanjur kerjasama, apa hati kamu akan tenang tanpa kepercayaan? Kalau hati kamu tidak tenang kan kamu tidak bahagia.


Jadi, apa sih bahagia itu sebenarnya?







Tri Niasih Ati



Senin, 19 Juni 2017

Hati yang baru

Tuhan beri kamu hati, lalu dihancurkan manusia lain. Dengan hati-hati, kamu susun pecahan-pecahan hati itu agar berbentuk kembali. Kemudian dihancurkan kembali oleh manusia (yang sama) hingga berkeping-keping. Serpihan ini sudah tidak bisa kamu satukan lagi butiran-butirannya.

Lalu Tuhan beri kamu hati yang baru lagi. Lalu manusia lain menghancurkannya lagi. Kamu mencoba merapikannya lagi. Hingga hati ini hancur lagi dan tidak dapat kamu rapikan kembali. Kamu marah dan bosan dengan siklus yang sama.

Lalu Tuhan membuatkan hati yang baru lagi untuk kamu. Kali ini kamu sadar, manusia lain tidak berhak kamu beri hati. Akhirnya kamu minta Tuhan mengambil hati kamu. Hingga kamu tidak punya hati lagi untuk sakit.

Biar Tuhan yg menggenggam hati kamu. Dia-lah yang berhak atas hati kamu.

Tak apa.

Senin, 22 Mei 2017

Bahagia itu dari kamu

Saya sebelumnya tidak tahu akan memberikan judul apa pada tulisan ini.


Di antara kamu pasti pernah merasa terlalu baik untuk disakiti dan terlalu suci untuk dihinakan. Tapi semuanya itu sebenarnya tidak bisa dihindarkan. Bisa saja kamu sudah melakukan segala hal yang menurut kamu terbaik --mungkin saja orang lain tidak bisa melakukannya-- dan kamu berharap hasil yang didapat juga terbaik. Tapi jangankan hasil baik, seringkali kamu mendapatkan hasil yang terburuk bahkan lebih buruk dari orang yang tidak melakukan apa-apa. Di mana yang salah? Kenapa kita tetap berbuat baik kalau pada akhirnya sakit hati juga. Kadang saya menganggap kalau menjadi orang yang tidak punya hati itu merupakan salah satu perasaan yang sangat menyenangkan. Kamu tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, seperti yang orang lain lakukan kepada kamu.

Kamu pasti pernah sangat setia kepada pasangan kamu. Lalu kamu melakukan apa saja untuk menjaga dia. Tapi dengan mudahnya dia mengkhianati kamu seolah-olah kamu itu akan memaafkan dia dan kamu tidak punya hati untuk tersakiti. Orang-orang seperti itu sulit membedakan mana baik hati dan mana tidak punya hati. Siapapun pernah disakiti. Saya tidak bisa berbicara tentang hal positif di sini. Saya jujur. Saya tidak munafik. Ini menyakitkan dan rasanya benci itupun seakan tersangkut di tenggorokan yang bahkan membuat seakan udara saja sulit untuk lewat. Menangis sejadi-jadinya pun tidak akan mengubah keadaan. Tidak. Sakit itu tetap sakit.

Terlebih, bila orang lain mengatakan kalau sakit hati itu berlebihan dan menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Rasanya berlipat-lipat. Seharusnya  mereka itu tidak berdebat dengan ukuran "Rasa". Jika "Rasa" punya ukuran pasti, maka tidak ada ragam rasa makanan atau minuman yang beredar di sekitar kita. Iya kan? Kamu pasti merasakan orang tersebut meremehkan rasa kecewa kamu, marah kamu, dan sakit hatinya kamu. Itu bikin kamu trauma untuk mengungkapkan kepada mereka seberapa tidak sukanya kamu. Pada akhirnya kamu hanya akan memendamnya dan membuat ini jd bom waktu yang pasti juga akan merugikan diri sendiri.

Ada beberapa orang bilang saya berbuat jahat pada Si X. Saya hanya mngernyitkan dahi. Beberapa orang yang kenal dekat dengan saya pasti tidak akan bilang itu. Mereka pasti tahu, sebelum saya berbuat jahat atau menyakiti orang lain, mereka harus bertanya kepada si objek yang tersakiti itu, pernah berbuat apa terhadap saya.


Saya masih berfikir, mana yang lebih mudah: menjadi orang yang tidak punya hati untuk marah atau orang yang tidak punya perasaan dan tidak peduli keadaan orang lain?


Saya tidak mau munafik, sekali lagi. Setelah banyak hal yang terjadi, saya selalu membuat langkah pencegahan agar tidak terjadi lagi. Di saat terjebak dengan kesalahan yang sama, rasa sakitnya jadi beda. Rasa sakitnya bukan karena perbuatannya. Lebih kepada rasa menyalahkan diri sendiri kenapa hal ini bisa terjadi lagi. Apa selama ini ujian dari Tuhan mengenai hal ini belum juga dapat saya lalui? Bisa dibilang hal ini terjadi lagi karena saya belum lulus ujian. Sejujurnya, saya menulis ini sambil menahan rasa dongkol di tenggorokan dan sedikit banyak mengeluarkan air mata.




Tapi ada hal yang saya pelajari. Kita bisa sakit hati karena hal yang sama. Kita bisa jatuh lagi dalam kesalahan yang sama. Tapi ada yang berbeda, yaitu cara penyelesaiannya. Kamu pasti memilih cara penyelesaian yang berbeda dibanding sakit hati yang sebelumnya. Semoga kamu, saya, dia, mereka dan terutama kita, bisa meminimalisir sakit hati. di mulai dari sebelum terjadinya, saat terjadinya dan setelah kejadiannya.



Saya tidak akan bilang, "Jangan sensitif. Biar gak gampang sakit hati." Itu tidak adil. Saya cuma mau bilang, "menangislah lebih keras. Terjatuhlah lebih dalam. Bersedihlah lebih pilu. Tapi berjanjilah untuk terbang lebih tinggi. Untuk lompat lebih jauh. Dan untuk berfikir lebih licik."


Bahagia itu dari kamu...

Senin, 27 Februari 2017

Jadi perempuan itu harus kuat

Jadi perempuan itu harus kuat.

Hari ini saya datang lebih pagi. Seperti biasa rute transportasi saya menuju kantor itu adalah dengan berjalan kaki menuju Stasiun Pondok Cina kemudian menaiki kereta. Turun di Stasiun Tanjung Barat dan melanjutkannya dengan transportasi umum berbasis online. Saya menunggu beberapa saat sampai ada pengendara yang menelepon. Beberapa saat saya melihat layar ponsel, saya berfikir ulang untuk membatalkan pesanan dan mencari pengendara baru. Tidak berapa lama, ponsel saya berdering. Suara seorang wanita ada di seberang sana. Dia bilang, dialah pengendara yang akan mengantar saya ketempat tujuan saya. Setelah menutup telepon, saya menjadi penasaran. apakah saya salah lihat. Sebab yang tertera di layar ponsel saya itu adalah nama yang biasa digunakan untuk laki-laki. Terutama ada nama "Putra". Tapi kemudian saya berfikir positif. Mungkin memang orang tuanya memiliki maksud lain memberinya nama seperti itu.


Ketika tiba, pengendara itu meminta maaf dan berkata "Maaf ya, Mbak. yang ada di akun itu nama suami saya. Nanti mohon dikasih bintang 5 aja ya." saya sih tidak mengapa. Malah lebih nyaman dengan pengemudi wanita. Tidak seperti yang sering dicibir orang. Dia mengendarai motor dengan baik, benar dan tidak lambat. Semuanya pas. Dia sangat ramah. Namun tidak mencoba sok kenal-sok dekat dengan mengobrol pajang lebar. Semuanya serba pas.


Tapi bukan itu intinya. Bukankah sebenarnya tidak dilarang bilamana wanita melamar pekerjaan menjadi ojek online? Tapi mengapa dia memilih menggunakan/menggantikan suaminya? Saya tidak berani bertanya. Saya hanya menerka-nerka.


Jadi perempuan itu harus kuat. Saya tidak tahu kenapa dia menggantikan suaminya. Mungkin saja suaminya sedang bekerja di luar kota sehingga akun ojek online itu sayang untuk dibuat menganggur. Atau lebih buruk, suaminya sedang sakit atau mengalami sesuatu sehingga harus menggantikannya bekerja. aku jadi teringat pada teman-teman satu kamr kosku. Mereka wanita kuat. Mereka membiayai keluarga mereka di kampung halaman mereka. Bahkan ada yang sedang mengalami musibah, Ibundanya meninggal dunia.

Bagaimana kalau perempuan lemah? Siapa yang akan memeluk anak-anak mereka saat hujan dan rumah bocor. Sedangkan sang ayah sedang pergi ke atas menaiki atap untuk membenahi genteng. Atau saat suami yang pergi jauh karena tugas, pertaruhannya nyawa. Maka perempuan kuatlah yang mengantar anak-anak tidur, sekolah, memasak, mendidik, menggendong, merawat dan sebagainya. Bagaimana tidak perempuan harus kuat? Iya kalau selamanya suami diberikan kesehatan dan umur panjang. Yang lebih parah, iya kalau suami tetap bertanggungjawab dan tetap setia? Kalau tidak?



Bagaimana kamu bercita-cita menjadi perempuan lemah? Kamu harus kuat. Seorang saudara pernah berpesan, "Kesabaran perempuan itu harus lebih luas dari samudera." sampai detik barusan saya baru sadar akan maknanya.

Kamis, 16 Februari 2017

Kamu yang mana?

Hello kamu, iya kamu.


Aku tau. Ketika kamu baca tulisan di blog ini, kamu tidak tau sebenarnya aku juga memantau statistik pengunjung di blogku. Aku gak tau kamu mampir ke Blog ini untuk apa. Mungkin kamu juga tidak pernah sadar kalau di pojok kiri atas ada tulisan "Tempat curhat terbuka yang rahasia. Hanya yang peduli dan yang penasaranlah yang tahu. Kamu yang mana?"


Nah, sekarang sadar gak? Yaaa... gak masalah sih. Gak papa. Nggak mengganggu juga keberadaannya. Cuma penasaran aja. Kamu masuk bagian yang mana?

Aku yah, kalo aku. Cuma dua tipe orang yang aku cari tau secara diam-diam:

- Pertama, pastinya orang yang aku suka. Yang satu ini tuh rasanya gimana ya... nyaman aja gitu. Melihat dan mengawasi dari jauh tanpa diketahui orang yang bersangkutan. Bebas. Aku bisa lihat dia tanpa dia merasa diperhatikan. Dia bisa bergerak bebas yang mana "keaslian" itu lah membuat aku bisa mengagumi dia. Jangan khawatir, kadang juga aku punya hobi menjadi penggemar rahasia seseorang.

- Kedua, tentu saja orang yang punya tendensi membuat aku marah. Misalnya, Mantannya si pacar. Aku suka mau tau apa sih yang dia lakukan sekarang? Apa sih kehebatan dia? Bagaimana sih kepribadian dia? Dia sedang mengalami apa? Ya sejenis itu.Intinya, kedua alasan tadi merupakan cabang dari pernyataan pojok kiri blog. Kepada orang yang aku suka, Pasti akan memeriksa cerita-cerita tentangnya sebagai kepedulian dan aku akan datang membantunya saat ia mengalami kesedihan atau keburukan. Itupun kalau aku punya keberanian untuk menemuinya. Dan untuk orang-orang yang tidak aku suka, aku mencari tau karena penasaran. Iya, penasaran. Menarik untuk diteliti, kadang ditertawakan dan dihina.

Lalu, kamu termasuk yang mana?

Selasa, 24 Januari 2017

Lagi?

Pernah sakit hati? Pasti pernah.
Pernah merasa diremehkan? Jelas pernah.
Pernah ingin menyerah? Iya!
Pernah sangat menikmati rasa sakit? Well, yeah.
Pernah merasa menjadi pilihan kedua? Duh, apalagi ini!
Pernah merasa tidak punya kelebihan apa-apa? Hmm... kadang-kadang.
Pernah merasa dibandingkan? Secara tersirat, iya!
Pernah dijadikan bahan tertawaan karena kamu belum bisa apa-apa? Hu'uh!
Pernah merasa tidak penting? nggak... Eh, pernah...
Pernah merasa tidak seberuntung orang lain? Tidak bisa dipungkiri!
Pernah ingin lari ke tempat di mana tidak ada orang yang mengenal kita dan kita kenal? Sering!
Pernah merasa sendiri dan tidak akan ada yang sempurna mengerti? IYES!


Semua itu pernah dirasakan bukan? Bagaimana kalau mengalaminya lagi? Berulang-ulang. Ini seperti sebuah siklus kehidupan yang sepertinya memang sebuah prosedur yang harus dilalui. Tapi rasa sakitnya meningkat lho! Pasti tidak sama dengan sebelumnya. Rasanya, seperti ingin marah. Berantakan. Tidak bisa dijelaskan. Lebih melegakan disimpan sendiri sampai hilang rasanya. Tidak perlu banyak orang tahu. Kadang, tidak perlu ada yang tahu. Sebagian, akan menasehati. Sebagian lagi mencoba membantu karena merasa kasihan. Sebagian besarnya, ingin tahu dan memasang topeng kepedulian. Yang lebih parah, tidak sedikit yang menghakimi dan menyalahkan. Hanya sedikit yang bersedia mendengarkan, memeluk, menguatkan, menggenggam tangan, dan mengajak melaluinya bersama.


Pernah jatuh cinta? Pernah!
Dengan siapa? Diri sendiri.


Menyadari kalau ternyata diri sendiri sekuat dan sehebat itu. :)

Jumat, 20 Januari 2017

Same shit different people

Mungkin, idiom yang sering didengar adalah same shit different day. CMIIW, artinya, kerjaan atau kejadian yang sama seperti sebelumnya tapi terjadi atau dilakukan lagi di hari berbeda (selanjutnya).

Kayaknya serupa dengan same shit different people. Perilaku sama, kejadian sama, atau perbuatan yang sama, yang dilakukan oleh orang yang sebelumnya, terjadi (dilakukan) lagi oleh orang yang berbeda.

Entah semacam karma atau memang sebuah ujian yang kalau kamu belum lulus dari ujian itu maka kamu akan diuji dengan ujian yang sama berkali-kali sampai kamu lulus.

Kadang, sampai terlintas dibenak apakah memang kamu itu pantas nerima ini karena kamu kena karma? Atau kamu memang pantas dapat perlakuan itu berkali-kali karena memang kapasitas kamu gak naik-naik. Segitu-segitu aja. Iya gak sih?

Pasti terlintas pikiran "dosa apa gue sampe ngalamin hal kayak gini lagi?" atau "ya ampun. Padahal gue udah pernah beberapa kali ngalamin yang kayak gini. Masih aja ngalamin lagi dan tidak ada tindakan korektifnya. Oke. Fine"

Yasudahlah. Kalau dua-duanya terjadi, intinya kamu disuruh koreksi diri. Hidup itu gak sendiri.

Selasa, 17 Januari 2017

Takut terhadap diri sendiri

Pernah kebayang gak kalo ketemu orang lain yang notabene itu adalah cerminan diri kita sendiri?

Bagaimana rasanya? Ngeri? Seru? Lucu? Atau aneh?

Baru-baru ini terpikir rasanya bagaimana kalau bertemu dengan diri sendiri. Dengan segala sifat buruk atau sifat terjahat yang ada dalam diri sendiri. Sifat jahat apa yang paling kamu takutkan?
Aku? Aku bukan seorang pemaaf yang baik. Lebih tepatnya, seorang pendendam yang oportunis. sebenarnya tidak berniat untuk balas dendam. Hanya saja bila dapat kesempatan, kalau bisa membalas lebih pahit kenapa harus memaafkan? Hahahahaaa

Aku suka menghitung kesalahan orang. Kesal? Marah? Kecewa? Pasti! Tapi aku bisa menahannya. Aku hanya membiarkan mereka merasa terlena terhadap kesenangan menyakiti dan seolah-olah aku memang orang baik hati yang tidak punya hati disakiti namun selalu berbuat baik.

Aku tidak pernah berencana untuk balas dendam. Tapi kesempatan itu seringkali datang. Pada saat balas dendam itu terjadi, aku sudah tidak punya perasaan lagi untuk peduli. Secara tidak sadar ternyata aku sedang membalas dendam. Itu berjalan begitu saja. Mengalir sesuai takdir. Tidak pernah direncanakan. Aku hanya berharap mereka tahu rasanya perbuatan yang pernah mereka lakukan kepadaku. Kalau yang aku lakukan itu lebih dari yang pernah mereka perbuat padaku, yaaa well... Itu hanya kebetulan. Kebetulan yang selalu terjadi. Ketika mereka menganggap aku "tidak punya hati" karena tidak pernah sakit hati (read: selalu memaafkan) karena kesalahan mereka, maka seperti itulah aku pula saat membalas mereka. Tidak punya hati.

Aku sering membiarkan orang percaya bahwa aku percaya kebohongan mereka. Mereka merasa telah berhasil membohongiku. Menurut kalian, siapa yang sebenarnya berbohong? Mereka yang membohongiku atau aku yang berhasil membuat mereka percaya bahwa aku telah mereka bohongi? Hahahaaa

Sebenarnya, aku tidak sejahat itu. Aku bukan pembenci yang baik. Tapi aku juga tidak munafik. Aku membiarkan waktu yang menjawab. Kadang, aku membiarkan waktu membunuh mereka dengan rasa bersalah atau rasa kehilangan. Mungkin aku bukan orang yang terbaik. Tapi aku pastikan, mereka akan mendapat kehilangan besar bila aku tidak ada.

Karma itu ada. Bukan aku yang membuatnya. Kesempatan itupun ada. Dan sekali lagi, bukan aku yg menciptakan. Bila kesempatan membalas karma itu datang, dipastikan itu bukan unsur kesengajaan. Tapi rasa sakit yg aku buat, itu pasti hasil ketidakbaikan mereka dimasalalu. Aku tidak suka menyakiti orang. Bila mereka tersakiti oleh ku, tanyalah mereka. Pernah berbuat apa dulu terhadapku. Mudah.

Aku selalu memberi maaf, pula peringatan. Jika masih diulang, itu berarti aku sedang diremehkan. Baiklah. Jujur saja, aku suka diremehkan. Aku suka membalas mereka yg meremehkan. Cara membalas dendam kepada orang yg meremehkan adalah membuktikan kalau mereka itu salah.

Aku seperti mengeluh sekaligus menikmati rasa sakit. Sebab buatku, yang terakhir tertawalah yang menjadi pemenang.

Mengutip lirik lagu Kerispatih yang judulnya Tapi Bukan Aku : "sebab rasaku tlah mati untuk menyadarinya".

Masih terpikir begitu ngeri bila aku bertemu dengan orang sejahat itu. Ya. Diriku sendiri.

Kamis, 12 Januari 2017

Dear Joan,

Dear Joan,

Terimakasih sudah kembali. Terimakasih sudah menjadi teman baik. Terimakasih sudah akan menjadi teman hidup.

Dear Joan,

Terimakasih atas segala tawa yang kembali. Terimakasih telah membuka hati. Terimakasih atas keringanan perasaan. Terimakasih atas prasangka buruk yang terhilangkan. Terimakasih atas keraguan yg terjawab.

Dear Joan,

Terimakasih atas Ibu dan Bapak baru untukku. Begitu sergap dan pengkode keras. Terimakasih atas tetangga-tetangga yg heboh saat pertamakali bertemu. Terimakasih atas teman-teman kemlu yg super. Terimakasih Cikuray yang indah.

Dear Joan,

Terimakasih kecupan kening saat kita berpisah untuk bertemu lagi. Terimakasih, sahabat jadi cinta.

Terimakasih... :)

Jumat, 11 November 2016

Sebuah tulisan "receh"

Masa-masa persiapan audit benar-benar menyita waktu, pikiran dan tenaga. Apapun yang terjadi, kemanapun ada orang atau teman yang mengajak, aku mau pergi. Ke gunung tentunya. Entah keadaan cuaca yang bagaimanapun, aku tidak peduli. Otak dan hati benar-benar penat dan lelah. Dua hal: pekerjaan dan.... ehm perasaan. Lelah dengan yang tidak pasti dan tidak membawa kemajuan.

Pada saat itu, datang seorang teman lama yang sedang cuti dari tugasnya dan kembali ke Jakarta tetiba bertanya jadwal wisata. Ya aku jawab saja, "ada". Masalahnya adalah, kemana dan bersama siapa yang belum jelas. Aku mengiyakan saja. Dan teman yang satu ini pun mengekor apapun keputusanku.

Kanan-kiri, depan-belakang, ajakan teman-teman lain silih berganti. Tempat dan tim. Pada akhirnya, -orang bilang, semesta mendukung-, kami nyatanya hanya melakukan perjalanan berdua. Gunung Cikuray. Tidak berdua tentunya. Di sana, kami bertemu dengan banyak pendaki lain yang nantinya pasti akan membaur satu sama lain. Lucunya, mereka langsung men-judge kami adalah sepasang suami istri. Anyway, lupa bilang. Seorang teman ini seorang laki-laki. Dan dia meng-iya-kan saja "tuduhan" mereka tanpa ijin. Pada saat itu, aku sedang ke kamar mandi di basecamp. Mau tidak mau, kami harus berperan seperti itu sampai kami turun kembali. Beberapa diantara mereka merasa amaze dan iri sampai keluar perkataan, "wah enak ya. Suami istri satu hobi. Tuh sayang, nanti kita juga begitu ya. Aamiin" lalu di-aamiin-kan oleh yang lainnya. Wew, aku berbisik pada temanku, "Bro, lu berhasil bikin pasaran gw turun. Bagaimana bisa gw dapet jodoh kalo begini caranya. Kenapa sih lu ga bilang kita adek-kakak aja?" lalu dia menjawab "gw cuma reflek manggut-manggut aja. Mana gw tau efeknya begini."
Dan perjalanan ini benar-benar jadi perjalanan penuh drama. Sesekali kami keceplosan "berteman" dan bila hal itu terjadi, kami langsung mengeluarkan dialog "ah! Kelamaan temenan sih kita" dan satunya menjawab, "iya. Jauh-jauh nyari orang, nikahnya sama lu juga!"

Oke. Untuk mencegah hal mencurigakan lain terjadi dan akan menyebabkan kami gagal untuk "berbohong", maka kami sepakat untuk membentuk kebohongan yang terorganisir. Kami segera berdiskusi bila nanti muncul pertanyaan-pertanyaan, " sejak kapan menikah?", "sejak kapan kenal?", " bagaimana bisa akhirnya menikah?" dan kami sepakat mengarang sebuah skenario dan (sampai-sampai melihat kalender hari paling memungkinkan terjadinya pernikahan) tanggal pernikahan.

Pendakian berlangsung. Kami membaur dengan pendaki lain. Entah semesta mendukung atau apalah namanya. Kami membaur dengan sekelompok pendaki muda asal Depok (di mana sebelumnya kami mengaku dari Depok). Itu gawat. Karena berarti, nantinya kami akan bersama mereka lebih dari basecamp tempat turun. Tapi sampai Depok kami harus tetap berperan. Karena entah kenapa, mereka benar-benar mendampingi kami dan berjalan beriringan (bahkan memasakkan air dan makanan untuk kami). Oke. Fine.

Benar saja semuanya. Hvft.

Teman ini, bercerita banyak hal tentang dirinya. Dia seorang teman lama. Aku mengenal dia lumayan baik. Aku menyebutnya "Bro-friend" (meskipun dia sempat salah baca menjadi BoyFriend). Banyak hal di masa lalu kami lalui sebagai teman yang solid. Bahkan sesekali bertukar cerita tentang pasangan. Yeah. Sesekali. Tidak terlalu dekat juga.

Seiring berjalannya waktu, setelah pendakian, kami intens berkomunikasi. Dia bertanya apakah merasakan ada sesuatu yang aneh? Aku jawab tidak. Sebenarnya aku merasakan hal aneh. Intensitas komunikasi kami meningkat. Itulah hal anehnya. Singkat cerita, entah kapan dan bagaimana, akhirnya kami memutuskan untuk lebih serius dalam hubungan ini. Banyak rencana dan timeline yang kami susun bersama.

Aku berkata pada Tuhan, "apakah ini tidak terlalu cepat, Tuhan? Mengapa Engkau memberikan porsi lengkap dalam satu waktu? Bahkan lebih dari apa yang aku minta dan lebih dari apa yang aku perkirakan."

Aku masih khawatir dan harap-harap cemas atas hubungan ini. Ya. Terlalu cepat untuk memutuskan keseriusan. Tapi di satu pihak lain, kami sudah bertahun-tahun mengenal dalam fungsi sebagai teman yang bahkan tidak kami prediksi sama sekali akan terjadi seperti ini. Dia, datang disaat aku merasa cukup atas ketidakjelasan. Merasa jenuh akan pekerjaan. Dia, versi lengkap apa yg belum pernah aku dapatkan. Our lifegoals, family background, hobbies, cara berfikir, dan banyak lagi yang sampai membuat kami kadang merasa ngeri karena terlalu banyak kebetulan yang sama.

Dia orang yang perhatian, adil, bisa dipercaya, setia, loyal, cerdas, plegmatis, mengalah, mempercayai sepenuhnya tapi tetap menjaga, dewasa (biarpun umurnya lebih muda beberapa tahun). Mungkin sampai detik ini aku masih masih tidak percaya. Dia? Serius sama dia??? Wew. Bukan hanya aku saja. Bahkan kadang kami masih suka menertawakan diri kami sendiri yang bahkan mungkin tidak pernah sama sekali terlintas kami akan jadi seperti ini akhirnya. Well, who knows. This happened for a reason, right?

Terima saja.

Minggu, 14 Agustus 2016

Terlambat bertemu

Tersebutlah sebuah perusahaan yang sedang bermasalah dengan keuangannya kemudian diputuskan untuk melebur dengan sebuah perusahaan yang dulu menjadi salah satu rivalnya. Aku bekerja di dalam perusahaan yang nyaris bangkrut itu sebagai salah satu tim humas. Tim yang solid dan sangat membahagiakan apapun situasinya. Kekompakan, profesionalitas dan kekeluargaan merupakan gaya hidup kami di sini. Namun semua menjadi seakan dalam ketakutan yang dalam. Ketakutan akan perubahan yang terjadi. Terlalu nyaman dengan keadaan yang sudah ada.

Karena telah melebur dengan perusahaan lain, yang nyatanya perusahaan itu memiliki kuasa lebih besar dibanding perusahaan tempatku bekerja membuat keputusan yang menyebabkan tim kami was-was. Pergantian pemimpin atau manajer atau kepala suku -kami menyebutnya begitu- merupakan hal yang menakutkan bagi kami. Lebih menakutkan dibanding deadline atau komplain. Kenyamanan akan kepemimpinan manajer saat ini sudah sangat top bagi kami. Top dan klop. Kami tidak rela bila dia --iya, dia. Manager Sheryl. Masih muda-- pergi dan digantikan oleh orang lain.

Satu tim sepakat untuk mogok kerja atau hal lain yang bersifat mengancam para komisaris agar tidak mengganti Sheryl. Tapi apa daya, para komisaris itu lebih berkuasa. Kami harus berpisah dengan Sheryl yang asik dan siap-siap untuk membuat manajer baru tidak betah agar perusahaan mengembalikan Sheryl pada kami.

Seminggu berlalu tanpa Sheryl. Pun tak ada kabar dari manajer baru yang baru. Kemudian, ada seorang sekretaris memberitahukan bahwa besok sang manajer baru akan datang dan akan membuat pesta perkenalan. Sontak kami sebagai tim yang solid berjanji satu sama lain untuk tidak datang ke pesta besok. Bahkan tidak ada yang akan masuk kantor. Namun berita itu, entah dari mulut penyihir mana, bocor ke komisaris dan kemudian terbitlah peringatan yang diketahui tidak masuk tanpa alasan yang jelas maka akan ada pemangkasan pegawai cuma-cuma. Bukan perusahaan yang kejam, tapi memang perekonomian sedang semrawut.

Jadilah hari ini tiba. Kami berbaris berkeliling melingkar di pinggir-pinggir tembok ruangan sang manajer. Wajah kusut kami membawa aura kelam seperti dalam kastil angker di Rumania. Langkah kaki mulai terdengar memasuki ruangan. Saat semuanya memandang orang yang datang itu dengan tatapan baik-baik saja, tidak denganku.

"Perkenalkan, namanya Pak Kurniawan"
"Hallo, selamat siang, Tim"

Dia. Dia itu Erga. Bagaimana bisa Erga ada di sini?

Mian menyikut-nyikutku agar aku berhenti membelalakan mata dan menutup mulutku yang setengah menganga seperti orang yang ketiduran nyenyak dalam kendaraan umum.

                      ***********

"Mirna gimana sih! Dulu paling menggebu-gebu katanya mau ngerjain manajer baru. Tapi sekarang nurut banget. Jangan-jangan kamu naksir dia yaaaaa... Eh bae-bae. Pak Kurniawan udah punya istri dan anak lhooo!" Mian dan teman-teman lain juga mengingatkan hal yang sama padaku. Wajar mereka melakukannya. Perubahan sikapku memang membuat tanda tanya besar. Tapi bagaimanapun aku bisa meyakinkan bahwa Erga, ehm, maksudku Pak Kurniawan memang seorang pemimpin yang baik.

Bagaimana tidak, dulu waktu sekolah, dia merupakan ketua OSIS paling dicintai dan dipuja bawahannya. Gaya kepemimpinan yang tegas tapi fleksibel, sangat memikirkan kesejahteraan bersama serta bertanggungjawab membuat Erga banyak disukai orang. Termasuk aku.

Entah bagaimana, tapi kami dekat. Pulang bersama maupun makan di kantin bersama. Tidak ada hubungan apa-apa, hanya sikap kami yang saling istimewa. Sampai akhirnya Erga harus berpamitan untuk kuliah di luar negeri. Kami saling kehilangan kontak seiring berjalannya waktu. Entah perasaan itu masih ada dalam hati Erga atau tidak. Saat kami bertatapan, rasa canggung itu nyata membatasi kami. Erga tetap sama. Sama seperti Erga yang dulu. Yang membuat aku bahagia. Seorang kakak kelas yang baik hati dan humble, manis dan pintar. Oooh, Erga. Kamu sempurna.

 
          *****
"Maafkan aku, Mirna. Ini salahku yang melewatkanmu dan tidak mencarimu segitunya sehingga kita saling kehilangan kontak. Maaf... Seandainya waktu bisa diulang."

"memangnya kenapa bila waktu bisa terulang, Erga?" Aku menatap Erga lebih dalam. Kemarahan bercampur di dalamnya.

"Seandainya waktu bisa diulang. Aku akan bersama kamu. Kita ini terlambat bertemu." Jawab Erga. Penyesalan di dalam matanya tak sanggup ia sembunyikan meskipun dia mencoba menjauhkan tatapannya dari pandanganku.

"Aku ingin bersama kamu, Mirna..." Sesak yang mendalam dari Erga, Manajer Humas di sebuah perusahaan besar multinasional.

Malam ini aku makan malam bersama Erga. Perasaan itu masih sama. Bukan aku tak pernah lupa pada Erga. Pernah. Bahkan aku sempat menyayangi orang lain biarpun sekarang sudah tidak lagi. Kekosongan hati ini menjadi semakin semrawut setelah kedatangan kembali Erga Bagus Kurniawan ini.

"Maaf Erga, mungkin aku bisa menjadi ibu pengganti dari anak kembarmu yang lucu-lucu itu dan menjadi istrimu yang paling lembut dan penurut. Aku sanggup. Tapi, aku tidak sanggup menjadi penghancur hati Anggraeni, istrimu yang sudah setia menemanimu sejak kamu baru memulai karir hingga mencapai posisi sekarang. Dia yang lebih berhak kamu bahagiakan. Sadarkah kamu, Erga? Tuhan sedang menjaga kita. Jika kita tidak terlambat bertemu, mungkin memang aku sudah mendampingimu saat ini. Tapi, tidak menutup kemungkinan kamu memiliki seseorang yang " terlambat bertemu" saat kamu sudah bersamaku. Pada akhirnya, di saat itu akulah yang merasa menjadi pelarian dan tidak kamu inginkan. Itu menyakitkan, Erga. Mungkin setelah ini, kita tidak usah bertemu lagi. Karena aku akan mengundurkan diri."

Dan aku memilih pergi dari Erga. Erga yang selama ini paling memahamiku dan satu gelombang denganku. Tapi Tuhan melindungiku dari kemungkinan-kemungkinan yang lebih menyakitkan. Terimakasih, Tuhan

Sabtu, 25 Juni 2016

Mimpi (?)

Hari ini untuk pertama kalinya menonton film "Sang Pemimpi" yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Film yang bercerita tentang mimpi sederhana. Beasiswa ke Paris. Sederhana dibanding bermimpi untuk menguasai dunia atau mendapatkan hatimu. #aematee
Film ini sungguh memotivasi dan realistis. Mencapai mimpi benar-benar butuh perjuangan. Bukan karena dari keadaan nol, tapi minus. Dan mereka (Arai dan Ikal) bisa mencapainya.

Teringat beberapa hari yang lalu, tetiba seorang teman kantor secara acak menanyakan apa mimpiku. Sejenak aku terdiam. Aku bingung. Aku punya banyak mimpi. Seperti hidup nyaman bersama keluarga kecil yang nanti aku bangun dan membuat masa tua kedua orang tuaku tak kalah nyaman. Aku ingin membuat orang tuaku dengan bangga menyebut, "dia anakku". Aku ingin punya pekerjaan yang bisa membuat orang lain bekerja secara layak. Aku ingin sekolah tinggi dengan mudah dan mempermudah orang lain bersekolah tinggi. Aku ingin keliling dunia dan mengajarkan kepada anak-anakku bahwa kita ini manusia-manusia kecil yang tinggal di tempat sempit dengan kuasa Tuhan Yang Maha Luas. Aku ingin tetap dekat dengan Tuhan namun tetap punya gaya. Aku ingin hidup mewah secara sederhana. Entah bagaimana caranya. Satu hal yang harus aku tentukan satu persatu sekarang. Detail dari mimpi sebanyak itu, batas waktu untuk mencapainya, cara mencapainya, dan yang terakhir, dengan siapa aku mencapainya. Ini bukan sebuah "punya doa itu waktu ibadah. Bukan dijejaring sosial. Tuhan tidak punya akun."
Iya sih benar. Tapi aku bukan berdoa di sini. Hanya mengingatkan pada diriku bahwa aku juga seorang pemimpi. Mungkin suatu ketika ada orang lain yang membaca tulisan ini dan menyempatkan waktunya sejenak untuk mengamini mimpiku. Atau malah menjadi orang yang menyertaiku mencapai mimpi itu. Mana tau kan? :)

Tri Niasih Ati

Selasa, 24 Mei 2016

Surat untuk Yin XI

Hello, Yin...

Sudah tidak ada kabar lagi sekarang. Di mana kamu?

Yin, pernah berjanji sama orang? Bagaimana kalau janji kamu itu malah menyakiti diri sendiri. Itu namanya risiko, bukan? Lalu, bagaimana kamu bertahan? Biasanya kamu punya logika untuk itu.

Yin...